Sabtu, 23 Juni 2012

PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK


ABSTRAK
Bimbingan orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kemandirian anak, karena orang tua merupakan  lingkungan terdekat dan memiliki porsi interaksi paling banyak dengan anak.    Kemandirian memiliki tingkatan dan karakteristik tertentu yang perlu diperhatikan betul oleh orang tua dalam memberikan bimbingan.  Banyak faktor yang mempengaruhi kemandirian pada anak yang menjadikan anak itu mandiri atau tidak. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dapat dijadikan patut diperhatikan orangtua dalam membimbing kemandirian anak sejak dini.

Kata kunci : bimbingan orang tua; kemandirian anak; tingkatan dan karakteristik; faktor kemandirian.

1. LATAR BELAKANG
            Semua orang tua tentunya menginginkan anaknya menjadi manusia yang bekepribadian baik dan sukses.  Tentunya hal ini harus diimbangi dengan bagaimana orang tua itu membimbing anaknya.  Orang tua dituntut dengan kesabaran, keuletan dan kesungguhan agar harapan itu dapat terwujud.  Salah satu cara menjadikan anak berkepribadian baik dan sukses adalah dengan menanamkan sikap kemandirian pada anak.
Kemandirian merupakan salah satu aspek penting penunjang keberhalisan anak mencapai masa depan, karena dengan mandiri anak itu tidak akan terus bergantung pada orang lain.  Namun, tidak semua semua anak bisa berlaku mandiri dengan sendirinya. Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola pengasuhan dan bimbingan orang tua. Di dalam lingkungan keluarga, orang tua lah yang berperan dalam mengasuh, membimbing, dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.
Terkadang orang tua baru menyadari pentingnya kemandirian setelah anak duduk di bangku sekolah.  Sementara itu mungkin anak sudah cukup untuk diajar mandiri.  Sebenarnya, mulai usia dua tahun anak telah menunjukkan tanda-tanda untuk menjadi pribadi yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri.  Saat ini adalah saat yang tepat untuk membentuknya menjadi pribadi yang mampu berdiri sendiri (Sobur, 1986: 60).
Mengajarkan kemandirian pada anak sejak dini memang bukan hal yang mudah.  Terlebih banyak faktor yang mempengaruhi kemandirian pada anak seperti faktor bawaan, pola asuhan, kondisi fisik anak dan urutan kelahiran.  Tingkat dan karakteristik kemadirian setiap anak pun berbeda-beda, sehingga orang tua harus lebih peka dalam menentukan pola bimbingan kepada anak-anaknya.
Sejauh ini, masih banyak anak yang hingga usia dewasa pun masih tergantung kepada orang tua.  Salah satu contohnya adalah dalam hal pemilihan fakultas/jurusan ketika anak memasuki jenjang perkuliahan.  Masih banyak orang tua yang ngotot memasukkan anak mereka ke fakultas/jurusan yang mereka kehendaki tanpa mempertimbangkan bakat dan minat anak itu sendiri.  Akibatnya, sang anak kehilangan motivasi dan semangat belajar, atau bahkan kehilangan gairah belajar dan tak jarang berakhir dengan Drop Out.  Hal-hal seperti dikemukakan di atas lah yang akhirnya menarik perhatian penulis untuk membuat artikel dengan judul “Pengaruh Bimbingan Orang Tua terhadap Kemandirian Anak”.

2. PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP ANAK
            Bukowsky , Brendgen dan Vitaro dalam King (2010: 194) mengatakan bahwa orang tua dan teman sebaya merupakan pengaruh terbesar ada perkembangan remaja.  Remaja dalam hal ini dikaitkan dalam lingkupnya sebagai anak.  Salah satu tugas perkembangan yang penting bagi remaja adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang kompeten dengan cara yang semakin mandiri (Collins & Steinberg dalam King, 2010: 194).
            Orang tua berperan besar dalam mengajar, mendidik, memberikan bimbingan, dan menyediakan sarana belajar serta memberi teladan pada anak sesuai dengan nilai moral yang berlaku atau tingkah laku yang perlu dihindari (Gunarso dalam Blogger Indonesia, 2010).  Anak belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan tanggung jawab belajar tumbuh pada diri anak (Ahmadi dalam Blogger Indonesia, 2010).  Dalam hal ini belajar pada anak tidak hanya dikaitkan dengan pelajaran di sekolah, namun juga belajar bertindak, bersikap dewasa, bersosial, dan lain sebagainya.
            Anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan waktunya di sekolah atau waktu berinteraksi dengan lingkungan luar.  Oleh karena itu, intensitas interaksi mereka lebih banyak dilakukan dengan lingkungan rumah atau keluarga yang dalam hal ini adalah orang tua.  Intensitas pertemuan yang banyak ini lah yang menjadikan orang tua memiliki peran atau pengaruh yang besar dalam membimbing anak-anaknya ke arah manapun yang mereka kehendaki.
           
3. PENGERTIAN KEMANDIRIAN ANAK
            Desmita (2011: 185) mengungkapkan pengertian kemandirian sebagai kemampuan untuk mengendalikan dan mengatur pikiran, perasaan dan tindakan sendiri secara bebas serta berusaha sendiri untuk mengatasi perasaan-perasaan malu dan keragu-raguan.  Lebih dari itu Desmita menjelaskan  bahwa kemandirian biasanya ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan sendiri, serta mampu  mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain.
            Menurut Robert Havighurst dalam Desmita (2011: 186),  kemandirian dibedakan menjadi empat bentuk antara lain sebagai berikut.  Pertama, kemandirian emosi, yaitu kemampuan mengatur emosi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi pada orang lain atau orang tua.  Kedua, kemandirian ekonomi, yaitu kemampuan mengatur ekonomi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain atau orang tua.  Ketiga, kemandirian intelektual, yaitu kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Kemandirian intelektual ini merujuk pada kemampuan berpikir, menalar, memahami beragam kondisi, situasi dan gejala-gejala masalah sebagai dasar usaha mengatasi masalah.  Sedangkan yang keempat, kemandirian sosial, yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain atau kemampuan untuk berani secara aktif membina relasi sosial  dan tidak tergantung pada aksi orang lain.
            Pada anak, kemandirian dapat diamati dari hal-hal kecil seperti menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri, tidur terpisah dengan orang tua, berangkat sekolah sendiri, mengatur pengeluaran uang sakunya sendiri dan lain sebagainya.  Menurut Sobur (1986: 58-59) sebenarnya, semenjak lahir setiap anak berusaha keras untuk menjadi tidak tergantung pada orang lain.  Misalnya saja pada saat anak belajar berjalan, pada mulanya proses belajar ini memang memerlukan bantuan orang lain.  Namun keinginan anak untuk bisa  berjalan ini lah yang disebut bahwa anak tersebut tidak ingin lagi tergantung pada orang lain untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau dengan kata lain anak ingin melakukan sendiri perpindahan itu tanpa harus meminta bantuan orang lain seperti digendong dan lain sebagainya.

4. TINGKATAN DAN KARAKTERISTIK KEMANDIRIAN ANAK
            Desmita (2011: 187-188) memaparkan tingkatan dan karakteristik kemandirian beradasarkan pendapat Lovinger ke dalam enam tingkatan sebagai berikut.  Tingkatan pertama adalah tingkat impulsif dan melindungi diri.  Ciri-cirinya antara lain: peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang lain; mengikuti aturan secara spontanistik dan hedonistik; berpikir tidak logis dan tertegun  pada cara berpikir tertentu (stereotype); cenderung melihat kehidupan sebagai zero-sum games; dan cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungannya.
            Tingkat kedua adalah tingkat konformistik.  Ciri-cirinya: peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial; cenderung berpikir stereotype dan klise; peduli akan konformitas terhadap aturan eksternal; bertindak dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian; menyamakan diri dalam ekspresi emosi dan kurangnya intospeksi; perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal; takut tidak diterima kelompok;  tidak sensitif terhadap keindividualan; dan merasa berdosa jika melanggar aturan.
            Tingkat ketiga adalah tingkat sadar diri.  Ciri-cirinya: mampu berpikir alternatif; melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi ; peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada; menekankan pada pentingnya memecahkan masalah; memikirkan cara hidup; dan penyesuaian terhadap situasi peranan.
            Tingkatan keempat adalah tingkat saksama (conscientious).  Ciri-cirinya antara lain: bertindak atas dasar nilai-nilai internal; mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan; mampu melihat keragaman emosi, motif dan perspektif diri sendiri maupun orang lain; sadar akan tanggung jawab mampu melakukan kritik dan penilaian diri; peduli akan hubungan mutualistik; memiliki tujuan jangka panjang; cenderun melihat peristiwa dalam konteks sosial; dan berpikir lebih kompleks dan atas dasar pola analitis.
            Tingkatan kelima adalah tingkat individualitas.  Ciri-cirinya: peningkatan kesadaran individualitas; kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dan ketergantungan; menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain; mengenal eksistensi perbedaan individual; mampu bersikap toleran teradap pertentangan dalam kehidupan; membedakan kehidupan internal dengan kehidupa luar dirinya; mengenal kompleksitas diri; dan peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.
            Tingkatan keenam adalah tingkat mandiri.  Ciri-cirinya antara lain: memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan, cenderung bersikap realistic dan objektif terhadap diri sendiri dan orang lain; peduli terhadap pemahaman abstrak, seperti keadilan sosial; mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan; toleran terhadap ambiguitas; peduli akan pemenuhan diri (self-fulfilment), ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal; responsif terhadap kemandirian orang lain; sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain; dan mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan.

5. FAKTOR-FAKTOR KEMANDIRIAN
Kemandirian pada anak muncul tanpa selalu dapat diprediksi melalui usia, namun dapat dilihat ketika anak sudah mulai memiliki keinginan sendiri, atau dengan kata lain tingkatan usia tidak mesti berpengaruh terhadap kemandirian anak.  Ada anak yang usianya sudah beranjak dewasa atau bahkan sudah dewasa pun masih belum memiliki sikap mandiri.  Namun ada pula anak yang usianya masih sangat dini sudah memiliki sikap yang mandiri.  Hal ini ditentukan oleh beberapa faktor seperti yang diungkapkan Dra. Mayke Sugianto Tedjasaputra, M. Si dalam Arbya (2011) berikut.
Pertama, faktor bawaan, dimana ada anak yang berpembawaan mandiri, ada yang memang suka menikmati jika dibantu orang lain.  Kedua, faktor pola asuh yang memungkinkan anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani.  Ketiga, faktor kondisi fisik anak, misalnya anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebhih “istimewa” ketimbang saudara-saudaranya sehingga menjadikan anak tidak mandiri.  Keempat, urutan kelahiran, contohnya anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum cukup berpegalaman.  Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.

6.  PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK
            Seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa orang tua memiliki pengaruh bimbingan yang sangat besar terhadap anak termasuk memberikan pengaruh dalam hal bimbingan terhadap anak untuk mencapai kemandirian.  Ini dikarenakan orang tua merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak dalam interaksinya sehari-hari.
            Anak tumbuh dan berkembang sepanjang hidup mereka. Tingkat ketergantungan berubah dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan aspek-aspek kepribadian dalam diri mereka. Kemandirian pun menjadi sangat berbeda pada rentang usia tertentu. Kemandirian sangat tergantung pada proses kematangan dan proses belajar anak. Anak tumbuh dan berkembang dalam lingkup sosial. Lingkup sosial awal yang meletakkan dasar perkembangan pribadi anak adalah keluarga. Dengan demikian orang tua memiliki porsi terbesar untuk membawa anak mengenal kekuatan dan kelemahan diri untuk berkembang, termasuk perkembangan kemandiriannya (Sourie, 2012).
Anak-anak akan berkembang melalui berbagai tingkat dari sikap ketergantungan kepada orang ke tingkat kemandirian yang penuh apabila mereka diberi dorongan  semangat untuk melakukannya.  Orang tua harus memberikan dorongan keberanian dan latihan yang cukup memadai, mengerjakan pekerjaan rutin  tersebut bagi anak-anaknya (Balson, 1987: 137).
            Kemandirian akan membawa anak kepada hal-hal posistif.  Misalnya saja dengan mandiri, anak dapat tidak lagi bergantung pada pertolongan orang lain, tidak bingung ketika menghadapi suatu masalah, menjadi lebih kreatif dan inovatif. Fatimah (2008: 144) menjelaskan bahwa kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis lain, dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini.  Mengingat banyaknya dampak positif bagi perkembangan individu, kemandirian sebaiknya diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya.  Seperti telah diakui, segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan.
            Namun, seperti yang diungkapkan Simanjuntak (2011) bahwa membentuk kemndirian anak sejak dini itu gampang-gampang susah.  Hak ini tergantung dari orang tua anak dalam memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak. Hal ini tergantung dari orang tua anak dalam memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak. Tentu saja ini merupakan tugas orang tua untuk selalu mendampingi anaknya, sebab orang tua adalah lingkungan yang paling dekat dan bersentuhan langsung dengan anak. Peran orang tua atau lingkungan terhadap tumbuhnya kemandirian pada anak sejak usia dini merupakan suatu hal yang penting. Hal ini mengingat bahwa kemandirian pada anak tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Anak perlu dukungan, seperti sikap positif dari orang tua dan latihan-latihan ketrampilan menuju kemandiriannya.
            Tingkat kemandirian anak yang semakin lama semakin berkembang akan membedakan tingkat kemandiriannya saat remaja. Lebih lanjut Fatimah (2008: 145) menambahkan, dalam mencapai keinginannya untuk mandiri, sering remaja mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan masih adanya kebutuhan untuk tetap bergantung pada orang lain.  Remaja yang dalam hal ini bertindak sebagai anak, cenderung mengalami kebingungan ketika orang tua mereka bersikap memanjakan ketimbang mengajari tentang kemndirian.  Padahal secara alamiah anak/remaja sudah memiliki keinginan untuk bersikap mandiri.
            Sejauh ini banyak orang tua yang mengeluh karena anaknya tidak mandiri.  Segala sesuatu yang anak lakukan  meskipun itu merupakan hal yang kecil masih saja tergantung pada orang tua.  Misalnya saja dalam mengatur waktu, mengerjakan tugas rumah maupun sekolah dan sebagainya.  Orang tua yang tidak atau kurang mengerti trik membentuk kemandirian anak menjadi panik dan memilih jalan mudah, yaitu dengan memenuhi tuntutan anak atau ahkan memberikan perhatian yang berlebihan tanpa memikirkan dampaknya.
            Bicara mengenai dampak, ketidakmandirian pada anak dapat mengakibatkan anak menjadi malas, selalu tergantung pada orang lain, tidak kreatif dan sulit berinteraksi dengan lingkungan luar. Oleh karena itu, masih menurut Fatimah (2008: 146-148), kemandirian anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Orang tua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian pada anak. Berikut beberapa saran yang patut dipertimbangkan.
            Pertama adalah komunikasi.  Orang tua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Kedua yaitu kesempatan.  Orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil dan melaksanakan keputusan  sendiri serta mengatasi sendiri masalah yang dihadapi tanpa terlalu banyak campur tangan orang tua.  Ketiga adalah tanggung jawab.  Bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci menuju kemandirian yang mengajarkan anak untuk melakukan segala hal dengan hati-hati jika tidak ingin merasakan dampak negatif.  Keempat yaitu konsistensi. Konsistensi orang tua dalam menanamkan kemandirian pada anak akan menjadi panutan bagi anak  untuk dapat merancang hidupnya sendiri.
            Senada dengan Fatimah, Trisni (2009) mengemukakan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk kemadirian anak.  Pertama adalah dengan menanamkan rasa percaya diri.  Percaya diri terbentuk ketika anak diberikan kepercayaan untuk melakukan suatu hal yang ia mampu kerjakan sendiri.  Kedua adalah membentuk kebiasaan anak agar tidak selalu tergantung dan dilayani oleh orang tuanya. Ketiga adalah dengan membiasakan kedisiplinan pada anak.

7. KESIMPULAN
            Pengaruh bimbingan orang tua terhadap kemandirian anak sangatlah besar.  Hal ini dikarenakan porsi orang tua dalam berinteraksi dengan anak juga besar.  Kemandirian yang berarti kemampuan anak menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan sendiri, serta mampu  mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain, tentunya membutuhkan bimbingan dari orang tua selaku pemegang kunci kesuksesan anak kelak.
            Kemandirian pada anak  memiliki tingkat dan karakteristik tertentu yang perlu diperhatikan betul oleh orang tua.  Banyak faktor yang mempengaruhi kemandirian pada anak yang menjadikan anak itu mandiri atau tidak.  Sering kali terjadi kesalahan atau ketidakmengertian orang tua mengenai kemandirian anak sehingga masih banyak anak yang meski usianya sudah beranjak dewasa, namun belum juga memiliki sikap yang mandiri.
            Ada beberapa hal yang patut diperhatikan orang tua jika ingin mengajarkan kemandirian pada anak sejak dini yaitu dengan mepererat komunikasi dengan anak, memberikan anak kesempatan dan bertanggung jawab dalam melakukan berbagai hal, serta konsistensi orang tua dalam memberikan bimbingan.  Selain itu orang tua juga harus menanamkan rasa percaya diri, kebiasaan untuk tidak bergantung pada orang lain dan kedisiplinan pada anak.

DAFTAR PUSTAKA
Balson, Maurice. 1993. Bagaimana Menjadi Orang Tua yang Baik. Jakarta: Bumi Aksara.
Desmita. 2011. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Fatimah, Enung. 2008.  Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung:
CV Pustaka Setia.
King, Laura A. 2010. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
Sobur, Alex. 1986. Komunikasi Orang Tua dan Anak. Bandung: Angkasa.
Arbya, Nety. 2011.  “Membentuk Kemandirian Anak”. (Online) http://keluargasehat.wordpress.com. (diakses 29 Mei 2012).
Indonesia, Blogger. 2010. “Teori Tentang Bimbingan Orang Tua”. (Online) http://heruid.blogspot.com/2010/02/teori-tentang-bimbingan-orang-tua.html. (diakses 9 Juni 2012).
Simanjuntak, Lisber. 2011.  “Menanamkan Kemandirian pada Anak Sejak Usia Dini”. (Online) http://www.bpplsp-reg-1.go.id/buletin/read.php?id=74&dir=6&idStatus=0. (diakses 29 Mei 2012).
Sourie, Julak. 2012.  “Peranan Orang Tua dalam Mengembangkan Kemandirian Anak”. (Online) http://julak-net.blogspot.com/2012/04/peranan-orangtua-dalammengembangkan.html. (diakses 29 Mei 2012).
Trisni, Inda. 2009.  “Melatih Kemandirian Anak”. (Online) http://harikuakhiratku.blogspot.com/2009/07/melatih-kemandirian-anak.html. (diakses 29 Mei 2012).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar