Sabtu, 23 Juni 2012

ANALISIS UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK NOVEL“BIOLA TAK BERDAWAI”


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Novel merupakan salah satu jenis dari karya sastra prosa yang banyak digemari.  Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya judul-judul novel baru yang bermunculan.  Penikmatnya pun semakin lama semakin banyak, mengingat banyak sekali judul-judul novel yang menyandang gelar “Best Seller”.  Cerita yang diungkapkan beragam, mulai dari mengangkat tema percintaan, pendidikan, agama dan lain sebagainya.
            Saat ini, pengarang berlomba-lomba mengasah kreativitas dalam menciptakan sebuah novel yang memiliki kualitas.  Kualitas sebuah novel sendiri salah satunya dapat dilihat atau diamati dari sisi unsur intrinsik dan ekstrinsiknya.  Unsur-unsur intrinsik seperti tema, plot (alur), latar, sudut pandang pengarang, penokohan, gaya bahasa dan amanat yang terkandung dalam sebuah novel dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai kualitasnya.  Sedang dari sisi unsur ekstrinsik dapat dilihat dari pengaruh-pengaruh luar dari struktur novel sendiri seperti kebudayaan, agama, politik, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pengarang.
            Dalam karya tulis (makalah) ini, penulis akan mengulas unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sebuah novel yang berjudul Biola Tak Berdawai. Alasan penulis mengambil judul ini untuk diulas adalah karena Biola Tak Berdawai dianggap memiliki tema cerita yang tidak biasa dan berbeda dengan tema cerita yang dimiliki  novel-novel kebanyakan.  Biola Tak Berdawai menyajikan sebuah cerita tentang anak-anak tunadaksa yang sekarang ini sering kali luput dari berita.  Ketertarikan terhadap novel inilah yang akhirnya membuat penulis menjatuhkan pilihan untuk menganalisis dan mengulasnya ke dalam sebuahkarya tulis dengan judul “Analisis Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Biola Tak Berdawai”.

1.2  Rumusan Masalah
            Rumusan masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini antara lain :
  1. Bagaimana unsur intrinsik (tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang pengarang, gaya bahasa dan amanat) yang terkandung dalam novel Biola Tak Berdawai?
  2. Bagaimana unsur ekstrinsik yang terkandung dalam novel Biola Tak Berdawai?

1.3  Batasan Masalah
            Batasan masalah dalam suatu kajian atau analisis sangatkah penting dalam menentukan arah dan tujuan penulisan.  Oleh karena itu penulis membatasi analisis sampai pada unsur intrinsik dan ekstrinsik yang ada pada novel Biola Tak Berdawai.

1.4  Tujuan
            Berdasarkan pemahaman di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan karya tulis ini antara lain:
  1. Memperoleh pegetahuan lebih mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah novel.
  2. Memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai bagaimana cara menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah novel.
  3. Dapat menemukan dan menginterpretasi unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam sebuah novel.
  4. Dapat menilai kualitas sebuah novel dengan menggunakan teori struktural (intrinsik dan ekstrinsik).


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Pengantar
            Prosa sebagai salah satu genre sastra tentunya memiliki unsur-unsur pembangun.  Secara umum, unsur-unsur penbangun itu disebut sebagai unsur intrinsic dan unsur ekstrinsik.  Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam atau menurut dirinya (karya sastra itu sendiri).  Beda halnya dengan unsur ekstrinsik yang membangun karya sastra dari luar karya itu. Menurut Wellek dan Warren (1990: 79), yang paling banyk dibahas dalam studi sastra adalah latar (setting), lingkungan (environment) dan hal-hal yang bersifat eksternal.
            Unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah karya sastra tidak dapat dipisahkan begitu saja karena keduanya saling mempengaruhi.  Unsur intrinsik terbentuk karena adanya pengaruh dari luar (ekstrinsik).  Pengaruh dari luar ini berasal dari pengarang selaku (sutradara) cerita.  Asal-usul dan lingkungan pengarang sangat mempengaruhi karya sastra yang diciptakannya.
Unsur intrinsik sebuah karya sastra terdiri atas tema, plot (alur), latar, penokohan, sudut pandang pengarang, gaya bahasa dan amanat yang  terkandung di dalamnya.  Unsur ekstriksik sebuah karya sastra terdiri atas subjektivitas individu pengarang, psikologi pengaang dan lingkungan pengarang.

2.2  Unsur Intrinsik
2.2.1  Tema
Pembaca karya fiksi seperti novel tidak bertujuan semata-mata untuk menikmati keindahan ceritanya, melainkan juga menghadapkan diri pada pertanyaan: apa sebenarnya makna yang dikandung dan atau yang ingin di sampaikan oleh pengarang dalam cerita tersebut? Membaca hal ini, (Hartoko & Rahmanto dalam Nurgiantoro, 2010: 68) merangkum pertanyan itu ke dalam istilah tema.  Menurut mereka, tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam sebuah teks sebagai struktur semantis yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. 
       Tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita. Tema terbentuk dari sejumlah ide, tendens, motif atau amanat yang sama, yang tidak bertentangan satu dengan yang lainnya. Tema dinyatakan secara tidak terus terang, meskipun ada dan dirasakan oleh pembaca.  Tema tidak lain adalah ide pokok, ide sentral atau ide yang dominan dalam karya sastra (Sugiarti, 2002: 37-38).  Tema dibedakan menjadi tema utama (mayor), yaitu makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu dan tema tambahan (minor), yaitu makna tambahan yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita.
2.2.2  Plot
Plot atau alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Dengan demikian, plot merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga menjadi kerangka utama cerita. Menurut (Nurgiantoro, 2010: 113), banyak para ahli yang mendefinisikan plot diantaranya adalah Stanton yang menyebut plot sebagai urutan cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu disebabkan oleh peristiwa yang lain. 
Plot merupakan kerangka dasar yang amat penting. Plot mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus berkaitan satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain, serta bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu.
Plot atau alur sendiri menurut bentuknya terbagi menjadi alur maju, alur flashback dan alur campuran.  Alur maju yaitu alur yang mengalir biasa dari awal terbentuknya konflik hingga penyelesaiannya.  Alur flashback atau sorot balik adalah alur yang saat cerita sedang berjalan dengan alur maju, kemudian cerita dikembalikan ke masa lalu sebelum peristiwa yang diceritakan selesai.  Misalnya cerita itu terlebih dahulu menceritakan akibat, kamudian kembali ke penyebab.  Terakhir, alur campuran adalah alur yang ceritanya tidak runtut menurut kronologi kejadian alias bercampur-campur.  Kadang pertengahan cerita yang diceritakan terlebih dahulu, kemudian kembali ke masa lalu dan langsung meloncat ke masa depan, atau dapat dimodifikasi sesuai selera pengarang.
2.2.2.1  Tahapan Plot
Plot dibagi menjadi lima tahapan, antara lain:
1.    Tahap penyituasian, yaitu tahap pelukisan atau pengenalan cerita mulai dari tokoh-tokoh hingga situasi atau latar ceritanya.  Tahapan ini dapat berisi paparan, gawatan dan rangsangan dalam cerita.
2.    Tahap pemunculan konflik (masalah), yaitu tahap dimana mulai muncul konflik dari peristiwa-peristiwa yang ada pada tahap sebelumnya.
3.    Tahap peningkatan konflik, yaitu tahap meningkatnya intensitas konflik atau konflik yang terjadi semakin berkembang.
4.    Tahap klimaks, yaitu dimana konflik yang terjadi sudah mencapai puncaknya.
5.    Tahap pemecahan masalah,yaitu tahap terpecahkannya konflik atau pertentangan-pertentangan dalam cerita menuju penyelesaian.
6.    Tahap peleraian, yaitu masalah atau konflik sudah reda dan dapat diselesaikan.
2.2.2.2  Plot Berdasarkan Kriteria Urutan Waktu
Berdasarkan kriteria urutan waktu, plot dibedakan menjadi plot progresif dan plot regresif.  Plot progresif adalah jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis atau berurutan dari awal hingga akhir peristiwa. Plot regresif adalah jika urutan peristiwa-peristiwa yang dikisahkan tidak bersifat kronologis atau cerita dapat dimulai dari konflik, kembali ke awal terjadi peristiwa dan akhir.  Namun dapat pula dimodifikasi lagi sesuai keinginan pengarang.
2.2.2.3  Plot Berdasarkan Kriteria Jumlah
Berdasarkan kriteria jumlah (banyaknya plot cerita yang terkandung dalam prosa fiksi), maka plot dibedakan menjadi plot tunggal dan plot ganda.  Plot tunggal hanya memiliki satu masalah atau alur cerita dan memfokuskan “dominansi” masalah seorang tokoh tertentu, sedangkan pada plot ganda menyuguhkan lebih dari satu alur cerita atau dapat menceritakan masalah lebih dari satu tokoh.
2.2.2.4  Plot Berdasarkan Kriteria Kepadatan
Kriteria kepadatan adalah padat atau tidaknya perkembangan suatu cerita pada sebuah karya fiksi. Kriteria kepadatan pada plot dibedakan menadi plot padat (rapat) dan plot longgar (renggang).  Plot padat menyajikan cerita secara cepat, peristiwa susul-menyusul secara cepat dan hubungan antarperistiwa sangat erat (rapat).  Hubungan peristiwa-satu dengan peristiwa lainnya tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena dapat mengganggu jalannya cerita secara keseluruhan.  Sedangkan pada plot longgar, pergantian peristiwa demi peristiwa berlangsung lambat di samping hubungan antarperistiwa tersebut pun tidak begitu erat, sehingga apabila ada peristiwa yang dihilangkan kemungkinan tidak merusak jalannya cerita secara keseluruhan.  Alur longgar juga memungkinkan adanya degresi, yaitu penyimpangan cerita dari tema pokok untuk mengisi kelonggaran alur dan memperindah serta memperkaya cerita.
2.2.3  Latar Cerita
Latar atau setting dalam pemahaman sederhana merupakan tempat terjadinya peristiwa baik yang berupa fisik, unsur tempat, waktu dan ruang ataupun peristiwa cerita (Sugiarti, 2002: 55).  Latar disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiantoro, 2010: 216).
       Latar dibagi menjadi empat bagian, antara lain:
1.      Latar Tempat
Latar tempat adalah menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur yang dipergunakan mengkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas.
2.      Latar Waktu
Latar waktu adalah latar waktu yang berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.
3.      Latar Suasana
Latar suasana adalah latar yang menggambarkan suasana batin maupun lingkungan yang terjadi dalam cerita. Latar suasana dapat berupa suasana sedih, gembira, kacau, bingung, dan lain sebagainya.
4.      Latar Sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi mencakup masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap dan lain-lain.  Di samping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
2.2.4  Penokohan
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu.  Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh.  Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminudin, 2010: 79).
2.2.4.1  Penokohan Berdasarkan Pentingnya Keterlibatan dalam Cerita
a.       Tokoh utama (main character), yaitu tokoh yang diutamakan penceritaannya atau tokoh yang berperan penting dalam cerita.
b.      Tokoh tambahan (peripheral character), yaitu tokoh yang tidak memiliki peranan penting dalam cerita yang fungsinya melayani, melengkapi, mendukung tokoh utama dalam menjalankan tugasnya.  Penceritaan mengenai dirinya relatif pendek dan tidak mendominasi.
2.2.4.2  Penokohan Dilihat dari Fungsi Penampilan Tokoh
a.       Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang dikagumi oleh pembaca karena menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan pembaca.  Tokoh protagonis memberikan empati, simpati, dan melibatkan diri secara emosional dengan pembaca.
b.      Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.  Tokoh antagonis sering kali  tidak disenangi oleh pembaca karena tidak sesuai dengan apa yang diidamkan pembaca.
2.2.4.3  Penokohan Berdasarkan Perwatakannya
a.       Tokoh sederhana (simple/flat), yaitu tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi.
b.      Tokoh bulat (complex), yaitu tokoh yang memiliki karakter yang kompleks, antara nafsu, kebutuhan dan kewajiban  serta konflik lainnya sehingga memiliki banyak konflik.
2.2.4.4  Penokohan Berdasarkan Perkembangan Watak
a.       Tokoh statis, yaitu tokoh yang tidak berkembang.  Tokoh statis hanya memiliki satu watak tanpa mengalami perubahan.  Apabila pengarang menggambarkannya sebagai seorang tokoh putih, maka sampai akhir cerita ia masi tetap menjadi tokoh putih.
b.      Tokoh berkembang, yaitu tokoh yang mengalami perkembangan.  Tokoh berkembang mengalami perubahan watak.  Apabila ia diciptakan oleh pengarang sebagai tokoh putih, bisa saja di tengah atau akhir cerita ia berubah menjadi tokoh hitam atau sebaliknya.
2.2.4.5 Penokohan Berdasarkan Pencerminannya dengan Kehidupan Nyata
a.       Tokoh tipikal, yaitu tokoh yang dipandang sebagai reaksi, tanggapan, penerimaan, atau tafsiran pengarang terhadap tokoh manusia di dunia nyata seperti profesi guru, pejuang dan lain sebagainya.
b.      Tokoh netral, yaitu tokoh yang bereksistensi demi cerita itu sendiri.  Ia benar-benar merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.
2.2.4.6  Penokohan Berdasarkan Sifat Masing-masing Tokoh
Di dalam sebuah karya sastra khususnya prosa, tokoh-tokoh dalam cerita memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda untuk menjadi variasi.  Misalnya saja ada tokoh yang disebut memiliki sifat penyayang, pemarah, pendiam, pemalu dan sebagainya  maka dalam hal ini dapat dibuktikan dengan tindakan tokoh, penilaian tokoh lain atau pun dari percakapan antar tokoh.  Pendeskripsian mengenai sifat tokoh ini dapat dianalisis berdasarkan masing-masing tokoh.
2.2.5  Sudut Pandang Pengarang
Sudut pandang atau point of view merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembacanya (Abrams dalam Nurgiantoro, 2010: 248).  Sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan ceritanya.  Sudut pandang dibagi menjadi tiga, yaitu sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga dan sudut pandang campuran.
2.2.5.1  Sudut Pandang Orang Pertama
Sudut pandang orang pertama (first person point of view) menggunakan  ”aku”. Gaya ”aku”, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si ”aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui,dilihat, didengar,dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si ”aku” tersebut. Sudut pandang orang pertama dibagi lagi menjadi:
a.    Orang pertama pelaku utama, yaitu si ”aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ”aku” menjadi fokus pusat kesadaran atau pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ”aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian, si ”aku” menjadi tokoh utama (first person central).
b.    Orang pertama pelaku sampingan atau tambahan, yaitu tokoh ”aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh ”aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian ”dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ”aku”tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Si ”aku” hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.
2.2.5.2  Sudut Pandang Orang Ketiga
Sudut pandang orang ketiga menggunakan gaya ”Dia”, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak.
Sudut pandang  ”dia” dapat dibedakan menjadi:
a.     “Dia” serba tahu, yaitu cerita dikisahkan dari sudut ”dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia” yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.
b.    “Dia” pengamat, yaitu pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh ”dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.
2.2.5.3  Sudut Pandang Campuran
Sudut pandang campuran yaitu pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.
2.2.6  Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus didukung oleh diksi (pemilihan kata) yang tepat. Namun, diksi bukanlah satu-satunya hal yang membentuk gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Gaya bahasa dapat menciptakan suasana yang berbeda-beda: berterus terang, satiris, simpatik, menjengkelkan, emosional, dan sebagainya. Bahasa dapat menciptakan suasana yang tepat bagi adegan seram, adegan cinta, adegan peperangan dan lain-lain.
2.2.7  Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang terhadap pembaca melalui karyanya, yang akan disimpan rapi dan disembunyikan pengarang dalam keseluruhan cerita.  Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.

2.3  Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi tidak secara langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.  Secara lebih khusus dapat unsur ekstrinsik dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya.  Berbicara mengenai unsur ekstrinsik, maka yang disorot adalah pengarang.
Seperti halnya yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren dalam Nurgiarntoro (2010: 24) bahwa unsur ekstrinsik terdiri atas beberapa unsur.  Unsur-unsur yang dimaksud antara lain keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.  Dengan kata lain, biografi pengarang akan turut menentukan corak karya yang dihasilkannya. Unsur ekstrinsik selanjutnya adalah psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, maupun prinsip psikologi dalam karya.  Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik dan sosial juga akan beepengaruh terhadap karya sastra.  Kemudian yang  terakhirunsur ekstrinsik dapat pula berupa pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni lain dan sebagainya.



BAB III
METODE PENULISAN

3.1  Metode Kualitatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan, sedangkan kualitatif adalah penilaian berdasarkan kualitas.  Dalam analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik ini, penulis menggunakan metode kualitatif.

3.2  Data
Data merupakan informasi atau bahan yang harus dicari dan dikumpulkan untuk menjawab permasalahan yang akan dikaji dalam suatu penulisan karya ilmiah. Data dalam karya tulis ini adalah sebuah novel berjudul Biola Tak Berdawai yang merupakan karangan dari Seno Gumira Adjidarma.

3.3  Sumber Data
Sumber data merupakan aspek yang sangat penting karena ketepatan memilih dan menentukan sumber data akan menentukan validitas data atau informasi yang disajikan. Ada pun data yang menjadi sumber dalam karya tulis ini berasal dari buku-buku dan artikel-artikel dari internet yang relevan dengan pembahasan yaitu mengenai unsur intirnsik dan ekstrinsik sebuah karya sastra berupa novel.



3.4  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan mengumpulkan bahan pustaka, membaca, memilah data, mencatat, mengidentifikasi dan memantapkan kebenaran data untuk kemudian digunakan sebagai bahan analisis.  Pengumpulan data dilakukan untuk menjaga kealamiahan data yang diperoleh. Dalam karya tulis ini, pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka yaitu dengan mengumpulkan berbagai sumber pustaka seperti novel Biola Tak Berdawai, serta pustaka-pustaka penunjang berupa teori-teori mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah karya sastra khususnya prosa.

3.5  Teknik Analisis
Teknik analisis data adalah proses mengatur urutan data dengan menggolongkannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Teknik analisis data yang digunakan dalam karya tulis ini antara lain dengan identifikasi, interpretasi, analisis dan pemberian kesimpulan yang terkait dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik novel.


BAB IV
PEMBAHASAN

Unsur Intrinsik
4.1  Tema pada Novel Biola Tak Berdawai
            Ada dua tema yang dipadukan dalam novel Biola Tak Berdawai, yaitu tema sosial dan percintaan.  Dikatakan memiliki tema sosial karena sebagian besar ceritanya mengandung nilai-nilai sosial yang entah itu menyimpang maupun tidak.  Lebih khususnya nilai-nilai sosial itu mengenai banyaknya pembuangan bayi-bayi penderita tunadaksa oleh orang tuanya dan kepedulian terhadap nasib anak-anak penyandang tunadaksa itu.  Berikut kutipan yang membuktikan adanya pembuangan bayi-bayi penderita tunadaksa:
Begitulah, Tuhan mengabulkan permintaan manusia untuk mempunyai keturunan, namun ketika mereka mendapat bayi tunadaksa, bukannya kasihan malah membuangnya sekalian – betapa terkelabui mereka oleh keindahan ragawi, yang tidak memberikan jaminan apakah akan berarti juga keindahan rohani.  Bayi yang paling cepat dibuang adalah bayi yang kepalanya besar, karena ujudnya dianggap memalukan. Di panti asuhan ini, nama-nama mereka begitu indah, seperti Cempaka, atau Larasati, tapi nasib mereka begitu mengenaskan : dibuang oleh orangtuanya sendiri.
Orangtua yang malu ketika tetangga atau keluarga memandangnya dengan pendapat tersembunyi, dengan segera akan membuang bayi-bayi semacam ini.  Bayi seperti aku sering dianggap sebagai kutukan, atau pembawa sial, setidaknya memalukan, yang begitu patutnya untuk segera dienyahkan.  Bayi-bayi itu akan dirawat sampai mati di sini, dan itu tidak akan terlalu lama, karena memang akan cepat mati : bagaikan pembenaran atas kelahiran yang dianggap keliru.
(BTB: 8)
Pak Kliwon, seorang tua yang biasa menjadi penjaga malam, kadang-kadang memergoki mereka yang meletakkan bayi itu, tetapi ibuku sudah berpesan agar mereka tidak usah diganggu.
“Kita tidak usah menambah beban mereka yang pendek akal, jiwanya kerdil, dan tidak bernyali menghadapi kenyataan.  Kita anggap saja bayi-bayi ini titipan Tuhan, sebelum mereka dipanggil kembali.”
Apakah para pembuang bayi itu orang-orang miskin yang kurang pengetahuan? Sepanjang pengalaman Pak Kliwon, hanya sekali terjadi ada bayi digeletakkan oleh seorang pejalan kaki yang datang mengendap-endap di pagi buta.  Selebihnya selalu diturunkan dari mobil, yang tidak jarang mewah, dan banyak juga yang nomornya dengan awalan B : mobil-mobil Jakarta.  Bahkan Pak Kliwon merasa pernah mengenali wajah salah seorang mereka, sebagai wajah yang sering muncul di layar TV.
(BTB: 25)
            Kutipan tersebut di atas menceritakan begitu banyaknya bayi penderita tunadaksa yang dibuang oleh orang tuanya yang kebanyakan berasal dari masyarakat sosial kalangan atas.  Dikatakan kalangan atas karena sering kali pelaku pembuang bayi menggunakan mobil yang tak jarang merupakan mobil mewah.  Ini merupakan realita sosial yang ada dalam pikiran pengarang, dimana ada sebagian msyarakat yang memiliki anak penderita tunadaksa merasa bahwa hal ini sangat memalukan sehingga berpikir untuk membuang bayi itu daripada memeliharanya. 
            Ada pula kutipan mengenai kegiatan sosial yang dilakukan oleh tokoh Renjani yang mendirikan Rumah Asuh Ibu Sejati seperti di bawah ini:
Aku akan menceritakan duka ibuku nanti, sekarang aku hanya ingin menceritakan betapa peristiwa itu membuat ibuku memanfaatkan rumahnya yang luas sebagai panti asuhan yang merawat bayi-bayi cacat, bayi-bayi tunadaksa yang dibuang oleh orang tuanya sendiri.
(BTB: 11)
            Bicara mengenai tema percintaan, dalam novel ini juga dibumbui oleh adanya cinta dan kasih sayang baik dari tokoh-tokoh yang peduli pada bayi-bayi tunadaksa maupun kisah cinta antara tokoh Renjani dan Bhisma.  Berikut kutipan yang membuktikan adanya rasa cinta tokoh Renjani kepada salah satu anak penderita tunadaksa bernama Dewa:
Saat itu kutelan makanan yang disuapkan ibuku.
“Anak pintar,” kata ibuku, “makannya habis. Anak Ibu memang pintar dan hanya anak-anak pintar seperti kamu Dewa, yang boleh tinggal di sini.”
Tapi Mbak Wid, entah kenapa, seperti tersinggung oleh perhaian ibuku yang dianggapnya berlebihan.
(BTB: 18)
Aku ingin sekali melihat ibuku menari dengan mata kepala sendiri. Aku ingin sekali. Suatu tenaga yang mahadahsyat entah dari mana membuat kepalaku terangkat – hanya sepersekian detik, dan ibuku melihat!
       Ibuku terhambur memelukku.
       “Dewa, Dewa – Dewa suka Ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”
(BTB: 83)

Membaca kutipan ini, dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai betapa cintanya Renjani pada Dewa.  Dewa yang tunadaksa dengan segala kekurangan membuatnya seperti mayat hidup.  Ia tidak bisa mendengar, bicara atau pun maraba/merasa.  Bahkan bergerak saja hampir tidak bisa.  Namun Renjani selalu memperlakukannya selayaknya anak-anak normal dan sering kali terlihat berlebihan dalam memberikan kasih sayang.
            Kisah cinta antara  Renjani dan Bhisma juga mewarnai jalannya cerita pada novel ini.  Renjani yang berusia tiga puluh satu tahun atau delapan tahun lebih tua daripada Bhisma merasa tidak pantas untuk mendapatkan cinta Bhisma.  Ia terlalu minder bukan hanya karena usia, melainkan juga karena masa lalunya yang pernah diperkosa oleh guru balletnya.  Bhisma yang mencintai Renjani seperti sulit mendapatkan balasan.  Berikut kutipan yang menceritakan kisah cinta antara Renjani dan Bhisma:
Ibuku dan Bhisma berpelukan. Aku mengerti betapa mereka berdua merasa berhasil melakukan sesuatu.  Jiwa hanya bisa didekati dengan jiwa.  Hati hanya bisa didekati degan hati.  Secerdas-cerdas otak, ia justru hanya berfungsi dalam suatu jarak.  Namun kini jiwa dan hati mereka berdua menerjemahkan diri ke dalam tubuh yang tanpa disadari telah menjadi begitu lengket.
Bhisma memandang ibuku tanpa berkedip, tak sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi dalam dirinya.  Ia tak melepaskan pelukannya.  Nafasnya di pipi ibuku dan ia memeluk dengan kencang.
“Renjani….”
Ibuku semula juga merasa terseret arus dan terbakar dalam kehanyutan, namun segera teringat oleh ibuku sesuatu yang menyakitkan, sperti sayap kupu-kupunya yang putih cemerlang berubah menjadi coklat bulukan dan hancur lebur diterbangkan angin.
(BTB: 117-118)

4.2  Plot (Alur) dalam novel Biola Tak Berdawai
4.2.1  Tahapan Plot
4.2.1.1  Penyituasian
Cerita dimulai dari seorang wanita berusia 31 tahun bernama Renjani  yang pindah dari Jakarta ke Kotagede, Jogjakarta. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang wanita yang membawa seorang bayi kecil cacat bernama Mbak Wid.  Mbak Wid ingin membuang bayi itu karena disuruh oleh orang lain.  Bayi cacat itu dianggap kutukan.
Pada suatu hari, dalam suatu perjalanan dengan kereta api dari Jakarta ke Jogja, ibuku duduk di sebelah seorang perempuan yang membawa bayi cacat.  Ternyata perempuan itu memang disuruh membuang bayi itu ke Jogja.
(BTB: 9-10)
Perbincangan terjadi antara Renjani dan Mbak Wid.  Kemudian mereka berdua yang sebetulnya memiliki rasa peduli terhadap nasib anak-anak cacat sepakat untuk mendirikan sebuah panti bagi anak-anak cacat dengan nama Rumah Asuh Ibu Sejati.  Mbak Wid yang seorang dokter bersedia membantu merawat anak-anak cacat itu.
Banyak sekali bayi-bayi yang menderita tunadaksa atau memiliki lebih dari satu cacat dibuang ke rumah asuh ini.  Mereka rata-rata adalah bayi-bayi yang tidak diinginkan kehadirannya oleh orang tua mereka baik dengan alasan malu memiliki anak cacat atau pun bayi-bayi itu merupakan anak yang lahir dari hasil hubungan gelap.
Salah satu anak yang tinggal di rumah asuh itu adalah Dewa, seorang anak cacat yang memiliki usia paling panjang di antara anak-anak lain yang paling lama bisa bertahan sekitar usia satu tahun.  Dewa yang mencapai usia delapan tahun menjadi anak yang paling disayangi oleh Renjani.
4.2.1.2  Tahap Pemunculan Konflik (masalah)
Setelah pengenalan cerita, maka pada tahap pemunculan konflik digambarkan makin banyaknya bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya ke Rumah Asuh Ibu Sejati akirnya meninggal.  Kutipannya sebagai berikut:
Tadi siang bayi Larasati dikuburkan. Ibuku membuka percakapan.
“Setelah mengalami kematian berulang kali, saya pikir saya akan terbiasa. Ternyata sakit juga ya Mbak Wid. Hati masih bisa sakit…”
Mbak Wid adalah dokter di Rumah Asuh Ibu Sejati.  Mereka berdua tentu sering harus menjadi saksi kematian bayi-bayi tunadaksa itu.
(BTB: 15)
Bayi-bayi tunadaksa yang dibuang itu pun tidak punya banyak waktu untuk menikmati hidup.  Mereka kebanyakan mati karena komplikasi cacatnya.
“Saya setiap hari menghadapi bayi yang mati.  Orang lain barang kali sudah menjadi gila.  Hari ini ada bayi mati.  Besok ada lagi bayi mati. Lusa ada lagi. Hampir setiap hari.”
(BTB: 113)
Konflik lainnya yang adalah dengan munculnya tokoh Bhisma.  Bhisma ternyata tertarik kepada Renjani. Begitu pula sebaliknya.  Renjani pun ternyata tertarik kepada Bhisma dan juga pada anak-anak tunadaksa yang dirawat olehnya.  Berikut adalah kutipan saat pertama kali Renjani dan Bhisma bertemu.  Bhisma nampak selalu memperhatikan Renjani.
Dari panggung, sambil memainkan biolanya, lelaki itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari ibuku – tampaknya ia memang tidak perlu membaca partitur di depannya itu lagi.
(BTB: 103)
4.2.1.3  Tahap Peningkatan Konflik
Ketertarikan antara Renjani dan Bhisma mulai memanaskan konflik yang ada dalam novel Biola Tak Berdawai.  Bhisma yang usianya memang masih muda dengan gairahnya mencintai Renjani, hampir seperti memaksa untuk memiliki Renjani.  Namun, Renjani sadar dengan keadannya.  Ia tidak ingin larut dalam cinta Bhisma.
Ibuku dan Bhisma berpelukan. Aku mengerti betapa mereka berdua merasa berhasil melakukan sesuatu.  Jiwa hanya bisa didekati dengan jiwa.  Hati hanya bisa didekati degan hati.  Secerdas-cerdas otak, ia justru hanya berfungsi dalam suatu jarak.  Namun kini jiwa dan hati mereka berdua menerjemahkan diri ke dalam tubuh yang tanpa disadari telah menjadi begitu lengket.
Bhisma memandang ibuku tanpa berkedip, tak sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi dalam dirinya.  Ia tak melepaskan pelukannya.  Nafasnya di pipi ibuku dan ia memeluk dengan kencang.
“Renjani….”
Ibuku semula juga merasa terseret arus dan terbakar dalam kehanyutan, namun segera teringat oleh ibuku sesuatu yang menyakitkan, sperti sayap kupu-kupunya yang putih cemerlang berubah menjadi coklat bulukan dan hancur lebur diterbangkan angin.
“Bhisma! Lepaskan!”
Anak muda itu seperti kerasukan, merangsek dan merangsek, sampai ibuku berhasil mendorongya dengan kasar.
(BTB: 117-118)
Renjani yang sebenarnya juga memiliki perasaan pada Bhisma tidak berani untuk masuk ke dalam kisah percintaan.  Hal ini dikarenakan ia masih trauma pada laki-laki.  Ia takut hal yang sama terjadi seperti saat ia diperkosa dulu.  Selain itu, Renjani juga merasa terlalu tua untuk Bhisma.
“Mana mungkin Mbak, umur saya delapan tahun lebih tua dari dia, dan saya merasa sudah sampai di masa depan saya. Di sini. Di rumah ini.  Bersama Dewa dan bayi-bayi lainnya.  Saya merasa sudah mapan. Tapi memang sekarang ketakutan…”
…………………………………………………………………………….
“Saya hanya ingin berteman.  Selebihnya saya merasa tidak pantas.”
……………………………………………………………………………..
Setiap orang tentu, mempunyai kata hati – tapi tidak setiap orang bisa jujur kepada dirinya sendiri.  Ibuku masih selalu mengira perasaan sesaat akan lenyap suatu saat.
“Saya… saya…” tapi ibuku segera mengalihkan pikiran, “yang saya suka dari dia, sejak awal dia tidak pernah menganggap Dewa sebagai anak yang punya kelainan.  Sejak awal berkenalan dengan Dewa, Dewa diajak omong.  Diajak ngobrol.  Persis seperti saya”
Namun Mbak Wid tetap men gejar.
“Hatimu bilang apa? Renjani, dia laki-laki baik.  Bukan jenis yang cuma jongkok di pertigaan.  Jangan biarkan masa lalumu menghalangi masa depanmu.”
Mbak Wid menyebut-nyebut masa lalu, membuat ibuku teringat masa lalu, yang begitu menyakitkan bagai tusukan sembilu.
(BTB: 128-129)
4.2.1.4  Tahap Klimaks
Penolakan Renjani terhadap Bhisma yang memaksa memeluknya membuat Bhisma merasa bersalah dan terguncang,  kemudian memutuskan untuk tidak menemui Renjani dulu.  Berikut kutipan yang menceritakan hal ini:
Bhisma tidak pernah datang lagi dan ibuku tampaknya berusaha tidak memikirkan anak muda itu.  Akan halnya Bhisma, kemudian aku akan mendengar betapa ia berusaha menerjemahkan kegalauan perasaannya dalam sebuah lagu.  Namun membuat lagu itu tidak segampang membuat martabak.  Kelak Bhisma akan bercerita betapa jiwanya terguncang-guncang semenjak peristiwa itu.  Ia terjebak antara keinginan mengungkapkan perasaan dan kesulitan menerjemahkan perasannya itu.  Banyak gagasan, tapi macet – bukankah itu sangat menjengkelkan? Sampai tak berasa jari telunjuknya ketika ia sengaja membakarnya dengan korek api.  Jari telunjuk itu baru berasa ketika memencet dawai biola dan kepedihan itu mengingatkan Bhisma pada kepedihan hatinya.
  Mungkinkah ibuku sudi menerimanya lagi?
(BTB: 127)
Bhisma frustrasi dengan keadannya.  Ia tidak mampu berbuat apa-apa ketika Renjani menolaknya.  Pergulatan batinnya semakin menjadi-jadi ketika ia gagal menerjemahkan perasaannya ke dalam lagu seperti yang biasa ia lakukan.  Sampai akhirnya Bhisma memutuskan untuk menemui Renjani lagi dengan keadaan yang urakan, tak sempat mengurusi diri karena terlalu frustrasi.
Pada malam bulan purnama, Bhisma muncul di balik jendela ketika ibuku sedang memandangi rembulan itu Aku juga berada di sana, kepala tertunduk, mata hanya menatap lantai, tetatpi bisa mengawasi segalanya.
Bhisma seperti orang yang tidak pernah tidur berhari-hari. Rambutnya kusut masai dan matanya yang biasa tajam tampak sayu.  Mereka saling memandang, berdiri saja seperti itu – bumi bagaikan tak beredar.
(BTB: 131)
Bhisma berusaha meyakinkan Renjani untuk menerima dirinya:
Anak muda itu berlutut, dan meraih tangan ibuku.
“Aku mohon, jangan singkirkan aku.  Dewa sudah mengisi batinku.  Kamu sudah mengisi hatiku.  Tolong Renjani, jangan singkirkan aku.”
Mata ibuky berkaca-kaca.  Dibelainya pipi Bhisma.  Tangan Bhisma meraih tangan yang membelai itu dan dibelainya kembali.
“Aku masih bingung,” kata ibuku, “aku masih belum bisa berdamai dengan masa laluku.  Beri aku waktu.  Tapi kamu harus janji, kamu akan menyelesaikan lagu ini.”
(BTB: 132)
Di sisi Renjani tak kalah pula bermasalah.  Ia mulai merasakan kesakitan.
Ibuku tersentak bangun sembari menahan jeritan.  Nafasnya tersengal-sengal.  Terasa betapa perutnya amat sangat sakitnya.  Kemudian tangan yang semula memegangi perut, kini berpindah memegangi kepala, karena kelak aku akan tahu – seribu godam bagai memukuli kepalanya.  Di dalam hatinya ibuku menjerit, meski dari mulutnya tiada suara sama sekali.
(BTB: 130)
Di kepala Mbak Wid terlihat ibuku dan aku siap pergi ke Prambanan menghadiri recital Bhisma.  Ibuku sedang mendandani aku ketika rasa sakit yang luar biasa menyayat-nyayat dan menusuk-nusuk perutnya. 
“Malam itu dia ambruk…”
Dilihatnya tangan ibuku memegangi kepalanya yang juga terasa sakit sekali, seperti didera sejuta godam.
(BTB: 158)
4.2.1.5  Tahap Pemecahan Masalah
Masalah yang memuncak akhirnya menemui pemecahannya.  Kesakitan yang dialami Renjani ternyata bukan hanya sakit biasa, melainkan sakit yang diakibatkan oleh kanker.  Kanker yang didapat Renjani merupakan akibat dari aborsi yang pernah dilakukannya dulu.  Hingga pada akhirnya kesakitan itu membawa Renjani kepada pintu kematian.
“Kata mereka kankernya sudah tumbuh terus..”
Dan menjadi sangat waras.
“Kankernya itu akibat dulu pernah melakukan aborsi. Huh, aborsi yang ceroboh…”
Bhisma terpaku seperti patung.  Mbak Wid sudah kembali.
“Dia dibawa ke rumah sakit.  Satu minggu dia koma. Dia meninggal”
(BTB: 159)
4.2.1.6  Tahap Penyelesaian
Kisah cinta antara Renjani dan Bhisma rupanya tidak berakhir dengan penyatuan.  Meninggalnya Renjani meninggalkan kenangan dan duka yang amat dalam bagi Dewa.  Ia yang diperkirakan tidak memiliki usia yang panjang ternyata malah ditinggalkan terlebih dahulu oleh Renjani. 
Kepergian ibuku meninggalkan kekosongan yang besar.  Suatu kehampaan yang membuatku mempunyai perasaan terjatuh ke dalam sumur tanpa dasar.  Dunia gelap dan asing dan aku melayang bagaikan tersedot oleh sesuatu tanpa bisa melawan meski aku memang tidak ingin melawan dan tidak pernah ingin melawan.  Kubiarkan diriku tersedot kemana pun asal membawaku sampai kepada ibuku.  Tapi ternyata aku masih di ranjangku.  Setiap kali membuka mata yang kulihat  kelambu meski sungguh mati aku tidak melihatnya tidak melihatnya tidak melihatnya.  Apakah yang bisa dilihat, didengar dan diceritakan kembali oleh seorang anak tunadaksa?  Kini tak seorang pun, tak seorang pun akan berkata, ”Dewa, Ibu sayang sekali sama Dewa,” – tidak pernah lagi, tak akan pernah.
(BTB: 173-174)
Sementara itu, Bhisma tak kalah merasa kehilangan atas meninggalnya Renjani.  Terlebih ia belum sempat menepati janjinya untuk memainkan biola dengan lagu ciptaannya tentang anak-anak tunadaksa di hadapan Renjani.  Oleh karena itu dalam kesedihannya ia mengajak Dewa ke makam Renjani dan memainkan biola di atasnya.  Cerita pun berakhir sampai di sini.
Bhisma, dengan usianya yang masih sangat muda, jatuh cinta kepada ibuku yang jauh lebih tua.  Cintanya tidak pernah sempat berkembang, bahkan putus mendadak di tengah jalan, namun selalu ada suatu cara untuk menggapaikan cinta ke tempat tujuannya, karena hanya dalam cinta manusia bisa mengandaikan dirinya bermakna.  Maka atas nama cinta, di kuburan ini ia memainkan lagunya, seperti yang selalu diinginkannya, menggesek dawai jiwa dalam diri biola-biola tak berdawai.
(BTB: 189)
4.2.2  Plot Berdasarkan Kriteria Urutan Waktu
       Berdasarkan urutan waktu, alur pada novel Biola Tak Berdawai termasuk ke dalam plot regresif, karena urutan peristiwa-peristiwa yang dikisahkan tidak bersifat kronologis. Dalam novel ini, cerita yang terjadi lebih dahulu diceritakan belakangan.  Misalnya peristiwa perkosaan yang dialami Renjani baru diceritakan di tengah-tengah setelah menceritakan kehidupan Renjani di Rumah Asuh Ibu Sejati.  Padahal peristiwa perkosaan ini lebih dahulu terjadi dibanding dengan peristiwa yang menceritakan kehidupan Renjani di Rumah Asuh Ibu Sejati.
4.2.3  Plot Berdasarkan Kriteria Jumlah
       Berdasarkan kriteria jumlah, novel Biola Tak Berdawai memakai plot ganda menyuguhkan lebih dari satu alur cerita atau dapat menceritakan masalah lebih dari satu tokoh.  Dalam novel ini, masalah yang diceritakan bukan hanya berasa dari satu tokoh saja, melainkan ada berbagai masalah dari tokoh-tokoh yang berbeda.  Tokoh Renjani misalnya, ia diceritakan memiliki masalah dengan traumanya pada masa lalu yang mengalami perkosaan.  Selain itu ada pula masalah tokoh Dewa yang memiliki keterbatasan fisik.  Lain halnya dengan Bhisma yang memiliki masalah mengenai perasaannya yang jatuh cinta pada Renjani.  Begitu pula dengan Mbak Wid yang masalahnya ada pada  kejenuhannya menghadapi bayi-bayi yang mati sehingga ia menenangkan pikiran dengan bermain kartu tarot.
4.2.4  Plot Berdasarkan Kriteria Kepadatan
       Berdasarkan kriteria kepadatannya, plot dalam novel Biola Tak Berdawai ini dapat dikatakan sebagai plot longgar. Hubungan antarperistiwanya tidak begitu erat, sehingga apabila ada peristiwa yang dihilangkan kemungkinan tidak merusak jalannya cerita secara keseluruhan.  Salah satu peristiwa yang dapat dihilangkan dalam novel ini  adalah peristiwa dimana Renjani menceritakan kisah antara Lara Jonggrang dan Bandung Bandawasa yang dirangkum dalam satu bab penuh (bab 13).  Jika peristiwa ini dihilangkan, maka tidak akan merusak jalannya cerita secara keseluruhan.


4.3  Latar Cerita pada Novel Biola Tak Berdawai
4.3.1  Latar Tempat
Secara keseluruhan, tempat yang melatari cerita dalam novel Biola Tak Berdawai mengambil lokasi di Kotagede, Yogyakarta.  Berikut beberapa kutipan yang menjelaskan latar tempat:
·      Panti
Panti asuhan tempat anak-anak tunadaksa dirawat bernamaRumah Asuh Ibu Sejati.  Terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta yang biasa diucapkan sebagai Jogja.
(BTB: 9)
·      Hamparan sawah
Ibuku menuntunku di tengah hamparan sawah yang menguning.  Dalam hembusan angin, batang-batang padi itu bagaikan sedang bersembahyang dan setiap kali tegak memuji kebesaran Tuhan.
(BTB: 37)
·      Pantai
Hari itu, ibuku dan aku beradadi tepi pantai yang terletak di sebelah selatan Yogyakarta – sebatas itulah semesta simbolik orang Jogja, antara Laut Selatan dan Gunung Merapi di utara, di luar itu tiada lagi dunia.
(BTB: 45)
Ibuku berjalan di tepi pantai Krakal.  Setiap kalilaut surut, tampaklah pemandangan ganggang hijau yang tersebar di tepian pantai.  Ibuku berjalan sendirian saja di pantai itu, melangkah dalam angin, memperhatikan lidah-lidah ombak setiap kali pasang dan setiap kali surut kembali.
(BTB: 143)
·      Candi Prambanan
Ballet Ramayana dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan.  Bulan yang sama juga menyinari candi itu ketika selesai dibangun seribu dua ratus tahun yang lalu.  Ketika ibuku membawaku masuk ke taman wisata Candi Prambanan, ibuku bercerita tanpa peduli aku mendengar atau tidak, ia bercerita dan terus bercerita dengan asyiknya.
(BTB: 95)
·      Makam
Bhisma menenteng biola, sebelah tangannya menggandengku.  Kami berhenti di bawah sebuah pohon yan teduh – di situlah makam ibuku, di antara makam bayi-bayi tunadaksa, masih merah tanahnya, meski rumput mulai tumbuh.
(BTB: 185)
4.3.2  Latar Waktu
       Latar waktu dalam novel Biola Tak Berdawai tidak begitu dijelaskan secara rinci mengambil seting pada tahun berapa.  Dalam novel ini latar waktu yang disebutkan hanya berkisar apakah adegan-adegannya dilakukan pada saat pagi, siang atau malam, dan adegan latar waktu yang disebutkan sering kali malam.  Contoh kutipan yang memuat latar waktu malam hari antara lain sebagai berikut:
Malam itu Mbak Wid kembali kepada peranannya sebagai peramal.  Kali ini dengan tamu baru bernama Bhisma, anak muda pemain biola yang tersedot keluar dari balik kedap suara karena ibuku.
(BTB: 112)
Pada Malam bulan purnama, Bhisma muncul di balik jendela ketika ibuku sedang memandangi rembulan itu.  Aku juga berada di sana, kepala tertunduk mata hanya menatap lantai, tetapi bisa mengawasi segalanya.
(BTB: 131)
4.3.3  Latar Suasana
Ada beberapa latar suasana yang terdapat dalam novel Biola Tak Berdawai, diantaranya adalah suasana tegang, bahagia, sedih, dan kacau.  Suasana tegang terjadi pada saat Mbak Wid tersinggung dengan perkataan sikap Renjani yang terlalu memberikan perhatian berlebih pada Dewa seperti yang terdapat pada kutipan berikut:
       Tapi Mbak Wid, entah kenapa seperti tersinggung oleh perhatian ibuku yang dianggapnya berlebihan.  Nada suaranya tiba-tiba meninggi.
“Anak-anak yang dibuang orangtuanya.  Anak-anak yang bikin malu keluarganya. Anak-anak yang umurnya tidak lama!”
Ibuku mengimbangi dengan perlahan.
“Ssstt.. Mabak Wid… ada Dewa…”
Maka Mbak Wid pun bicara tentang diriku.
“Duuuhhh, Renjaniiii, Renjani… Saya  tahu kamu sangat sayang kepada Dewa, tapi anak itu tidak mengerti omongan kita.  Itu anak tidak mengerti apa-apa.  Dia bukan saja jaringan otaknya rusak, tapi juga autistik.  Matanya terbuka tapi tidak melihat.  Telinganya tidak mendengar.  Kamu sendiri kan sudah melihat hasil test-nya.”
(BTB: 18)
       Berikut kutipan yang menggambarkan suasana bahagia ketika Renjani melihat Dewa bisa mengangkat kepalanya:
Aku ingin sekali melihat ibuku menari dengan mata kepala sendiri. Aku ingin sekali. Suatu tenaga yang mahadahsyat entah dari mana membuat kepalaku terangkat – hanya sepersekian detik, dan ibuku melihat!
   Ibuku terhambur memelukku.
“Dewa, Dewa – Dewa suka Ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”
(BTB: 83)
Suasana kacau juga disajikan dalam novel ini saat Renjani mengalami kesakitan yang amat sangat.  Saat itu Dewa yang berada dekat dengannya sangat ingin menolong Renjani, namun keterbatasan fisiknya membuatnya tidak dapat berbuat apa-apa sehingga perasaan Dewa begitu kacau seperti kutipan :
“Di tempat tidurnya ibuku meronta ke kiri dan ke kanan.  Seluruh tubuhnya berkeringat dan benaknya sungguh penuh dengan mimpi-mimpi buruk.  Aku ingin menggapainya.   Ingin masuk ke alam mimpi dan mengusir mimpi-mimpi buruknya.  Aku menggapai tapi tak kunjung mencapai. Aku ingin melompat dari stoples kaca ini namun ternyata aku terjatuh bersama stoples itu, melayang dan melayang dalam semesta jiwa yang sunyi.”
(BTB: 130)
Ada pula suasana sedih seperti yang ada dalam kutipan :
Ibuku mengangkat wajahnya.  Cerita Mbak Wid memang menyedihkan, namun memberi keberanian bagi ibuku untuk bercerita tentang dirinya, karena ia merasa penderitaannya lebih berat.
“Saya terpaksa…”
Air matanya tumpah.
“Saya dipaksa…”
Mbak Wid ternganga, menyadari betapa beratnya beban derita ibuku.
“Renjani…”
Tangis ibuku menjadi.
(BTB: 77)


4.3.4  Latar Sosial
Latar sosial yang ada dalam novel Biola Tak Berdawai ini mencerminkan perilaku hidup yang menjunjung tinggi nilai sosial.  Di tengah banyaknya pembuangan bayi, masih ada saja orang yang dengan rela hati menampung bayi-bayi malang itu untuk dirawat. 

4.4  Penokohan dalam Novel Biola Tak Berdawai
4.4.1  Penokohan Berdasarkan Pentingnya Keterlibatan dalam Cerita
Tokoh utama dalam novel Biola Tak Berdawai ada tiga, yaitu Dewa, Renjani dan Bhisma.  Dikatakan sebagai tokoh utama karena ketiga tokoh ini menjadi sentral cerita dan diutamakan penceritaan tentang diri.  Dewa misalnya, sebagai tokoh ia memiliki banyak porsi penceritaan tentang dirinya yang tidak lain menjadi sudut padang pengarang (serba tahu).  Ia diceritakan sebagai anak penderita tunadaksa yang berhasil hidup lebih lama dibandingkan anak-anak tunadaksa lainnya.  Tokoh Dewa juga selalu ada dalam penceritaan mulai dari bab pertama hingga terakhir.
Kisah cinta antara Renjani dan Bhisma membuat mereka juga dikatakan sebagai tokoh utama yang juga memiliki banyak porsi penceritaan.  Terlebih kisah cinta antara keduanya terkait pula dengan keberadaan tokoh Dewa.
Pemeran tambahan pada novel Biola Tak Berdawai adalah Mbak Wid.  Penceritaan mengenai tokoh Mbak Wid tidak begitu banyak dan hanya melengkapi cerita.  Meskipun ada pula bagian novel yang khusus menceritakan tentang Mbak Wid, namun penceritaannya relatif pendek dan tidak mendominasi cerita layaknya tokoh Dewa, Renjani dan Bhisma.
4.4.2  Penokohan Dilihat dari Fungsi Penampilan Tokoh
Dilihat dari fungsi penampilan tokoh, penokohan terdiri atas tokoh protagonis  dan antagonis.  Dalam novel Biola Tak Berdawai, yang menduduki posisi sebagai tokoh protagonis adalah Dewa, Bhisma dan Mbak Wid.  Ini dikarenakan ketiga tokoh ini memenuhi kriteria sebagai tokoh protagonist seperti memberikan simpati dan empati pada pembaca dan melibatkan diri secara emosional.  Tokoh-tokoh ini pun dapat dikatakan memiliki sifat yang dikagumi dan menampilkan hal-hal yang sesuai dengan pandangan pembaca.
Ada pula tokoh yang menduduki posisi sebagai tokoh antagonis yaitu Renjani.  Tokoh antagonis tidak selalu jahat.  Namun, tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.  Di dalam novel Biola Tak Berdawai, tokoh Renjani lah yagmenimbulkan konflik seperti penolakannya terhadap Bhisma.
4.4.3  Penokohan Berdasarkan Perwatakannya
Berdasarkan perwatakannya, penokohan terbagi atas tokoh sederhana dan tokoh bulat.  Tokoh sederhana dalam novel Biola Tak Berdawai adalah Dewa dan Bhisma.  Alasannya adalah tokoh Dewa hanya memiliki satu kualitas pribadi yaitu sebagai anak tunadaksa yang panca inderanya lumpuh tapi bisa merasakan segalanya.   Dewa pun juga tidak memiliki banyak masalah.  Begitu pula dengan Bhisma yang hanya memiliki satu kualitas pribadi.  Ia tampil sebagai tokoh seorang pemuda yang pandai memainkan biola dan dalam usianya yang muda, ia jatuh cinta pada seorang wanita yang terpaut usia delapan tahun lebih tua darinya.
Tokoh bulat dala novel Biola Tak Berdawai adalah Renjani dan Mbak Wid. Tokoh Renjani disebut sebagai tokoh bulat karena ia memiiki karakter yang kompleks sehingga memiliki banyak (lebih dari satu masalah).  Selain bermasalah dengan masa lalunya, Renjani dihadapkan pada masalah percintaannya dengan Bhisma dan penyakit kankernya.  Selain itu, tokoh Mbak Wid juga dikatakan sebagai tokoh bulat karena karakternya pun kompleks.  Mbak Wid bukan hanya sebagai dokter yang dengan lembut dan rela hari merawat anak-anak tunadaksa, ia juga merupakan sosok paranormal yang selalu bergelut dengan kartu-kartu tarotnya setiap malam.

4.4.4  Penokohan Berdasarkan Perkembangan Watak
Berdasarkan perkembangan watak, penokohan dibagi menjadi tokoh statis dan tokoh dinamis.  Tokoh statis dalam novel Biola Tak Berdawai adalah Dewa, Bhisma dan Mbak Wid, karena dari awal hingga akhir novel watak mereka cenderung tetap dan tidak mengalami perubahan.  Tokoh dinamis ada adalah Renjani yang mengalami perkembangan watak dari yang semula tidak ingin mengenang masa lalunya sebagai seorang penari ballet, akhirnya karena ingin membahagiakan Dewa, ia mau menari lagi.  Selain itu, wataknya berkembang dari yang awalnya mencintai Bhisma, namun dengan berbagai alasan ia menjauhi Bhisma dan pada akhirnya ia ingin juga bersama Bhisma meski ternyata hal itu tidak tercapai karena ia meninggal dunia.
4.4.5  Penokohan Berdasarkan Pencerminannya dengan Kehidupan Nyata
       Ada tokoh tipikal dan tokoh netral dalam penokohan berdasarkan pencerminannya dengan kahidupan nyata.  Namun dalam novel Biola Tak Berdawai, hanya ada tokoh tipikal saja karena tokoh-tokohnya dipandang sebagai reaksi, tanggapan , penerimaan atau tafsiran pengarang terhadap tokoh manusia di dunia nyata.  Misalnya saja Dewa sebagai anak tunadaksa.  Anak tunadaksa memang riil ada di dunia nyata.  Begitu pula dengan tokoh lainnya.
4.4.6  Penokohan Berdasarkan Sifat dan Karakter Masing-masing Tokoh
a.    Dewa
Dewa merupakan tokoh yang digambarkan sebagai anak penderita tunadaksa dengan segala kekurangan atau komplikasi cacat tubuh.  Ia buta, tuli, bisu, lumpuh, autis dan tampilan fisiknya tidak normal.  Namun dengan segala kekurangannya ini, Dewa dapat merasakan atau memikirkan lingkungannya meski ia tidak dapat berbuat apa-apa dengan itu.  Lebih jelasnya berikut kutipan yang mendeskripsikan sifat dan karakter tokoh Dewa:
Namaku Dewa, umurku menjelang delapan tahun, dan aku tidak pernah tumbuh seperti anak-anak lainnya. Aku disebut sebagai anak tunadaksa, yakni memiliki lebih dari satu cacat, dan salah satunya adalah tunawicara.  Menurut pemeriksaan, aku dilahirnkan dengan kelainan sistem peredaran darah, yang membuat tubuhku tidak berkembang.  Aku juga disebut memiliki kecenderungan autuistik, mataku terbuka tapi tidak melihat, telingaku bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, tentu karena jaringan otakku yang ternyata rusak.  Leherku selalu miring, kepalaku selalu tertunduk – ya, pandanganku selalu terarah ke bawah.  Aku seperti bayi tua, tubuhku keci tetapi wajah lebih berusia : anak-anak kecil suka memanggilku anak tuyul atau anak gendruwo, semuanya setan-setan gentayangan yang hanya mereka kira-kira saja bentuk rupanya.
(BTB: 9)
b.    Renjani
Renjani digambarkan sebagai tokoh seorang wanita berusia 31 tahun yang peduli terhadap nasib anak-anak tunadaksa yang dibuang oleh orang tuanya.  Ia mendirikan sebuah panti bernama Rumah Asuh Ibu Sejati yang menampung dan merawat anak-anak tunadaksa.  Di antara anak-anak tunadaksa yang diasuhnya, Renjani sangat menyayangi Dewa.  Ia menganggap Dewa seperti anaknya sendiri dan selalu diperlakukannya selayaknya anak normal. 
Saat itu kutelan makanan yang disuapkan ibuku.
“Anak pintar,” kata ibuku, “makanannya habis.  Anak Ibu memang pintar, dan hanya anak-anak pintar seperti kamu Dewa, yang boleh tinggal di sini.”
Tapi Mbak Wid, entah kenapa seperti tersinggung oleh perhatian ibuku yang dianggapnya berlebihan.  Nada suaranya tiba-tiba meninggi.
“Anak-anak yang dibuang orangtuanya.  Anak-anak yang bikin malu keluarganya. Anak-anak yang umurnya tidak lama!”
Ibuku mengimbangi dengan perlahan.
“Ssstt.. Mabak Wid… ada Dewa…”
Maka Mbak Wid pun bicara tentang diriku.
“Duuuhhh, Renjaniiii, Renjani… Saya  tahu kamu sangat sayang kepada Dewa, tapi anak itu tidak mengerti omongan kita.  Itu anak tidak mengerti apa-apa.  Dia bukan saja jaringan otaknya rusak, tapi juga autistik.  Matanya terbuka tapi tidak melihat.  Telinganya tidak mendengar.  Kamu sendiri kan sudah melihat hasil test-nya.”
(BTB: 18)
Renjani pernah mengalami hal yang membuatnya trauma pada laki-laki, yaitu  perkosaan.  Ia pernah diperkosa oleh guru balletnya dulu.  Hal ini membuatnya takut untuk jatuh cinta pada laki-laki dan lebih memilih mengabdikan hidupnya untuk merawat anak-anak tunadaksa dengan mendirikan Rumah Asuh Ibu Sejati.  Trauma ini juga membuatnya membatasi diri untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki termasuk Bhisma.  Padahal dalam hatinya, Renjani mencintai Bhisma. Akan tetapi, ia tidak berani untuk menerima cinta Bhisma dengan alasan trauma dan perbedaan usia yang cukup jauh antara dirinya dengan Bhisma.
Aku baru akan mengetahui pergulatan Bhisma itu kelak, tetapi ibuku sekarangpun ternyata juga memikirkan Bhisma.  Di ruang lilin, ibuku menjawab pertanyaan Mbak Wid apakah Bhisma akan menjadi jodohnya.
“Mana mungkin Mbak, umur saya delapan tahun lebih tua dari dia, dan saya sudah merasa sampai di masa depan saya.  Di sini.  Di rumah ini.  Bersama Dewan dan bayi-bayi lainnya.  Saya merasa sudah mapan.  Tapi memang sekarang ketakutan…”
………………………………………….
“Saya… saya…” tapi ibuku segera mengalihkan pikiran, “yang saya suka dari dia, sejak awal dia tidak pernah menganggap Dewa sebagai anak yang punya kelainan. “Saya… saya…” tapi ibuku segera mengalihkan pikiran, “yang saya suka dari dia, sejak awal dia tidak pernah menganggap Dewa sebagai anak yang punya kelainan.  Sejak awal berkenalan dengan Dewa, Dewa diajak omong.  Diajak ngobrol.  Persis seperti saya”
Namun Mbak Wid tetap mengejar.
“Hatimu bilang apa? Renjani, dia laki-laki baik.  Bukan jenis yang cuma jongkok di pertigaan.  Jangan biarkan masa lalumu menghalangi masa depanmu.”
Mbak Wid menyebut-nyebut masa lalu, membuat ibuku teringat masa lalu, yang begitu menyakitkan bagai tusukan sembilu.
(BTB: 128-129)
c.    Bhisma
Bhisma digambarkan sebagai sosok pemuda berusia 23 tahun, seorang mahasiswa jurusan musik yang pandai memainkan biola.  Bhisma ternyata juga peduli terhadap anak-anak tunadaksa. Bhisma melihat Bhisma dan bayi-bayi cacat lainnya sebagai ciptaan Tuhan yang indah tapi tidak diberkati dengan kehidupan yang berguna. Kemudian  ia menciptakan lagu berjudul Biola Tak Berdawai untuk anak-anak tunadaksa itu.  Semenjak pertemuannya dengan Renjani di acara resital musik, ia mulai jatuh cinta pada Renjani.  Namun cintanya tidak bisa dibalas oleh Renjani sehingga Bhisma memohon-mohon.  Berikut beberapa kutipan yang menggambarkan sosok Bhisma:
Wajahnya tampan dengan garis-garis muka yan terpahat dengan jelas seperti turun dari relief seorang ksatria di dinding candi.  Matanya dalam sorotannya tajam. Sepintas lalu ia tampak span dan manis – tapi jika permainan biolanya boleh dianggap sebagai pernyataan jiwa, terdengar sesuatu yang tidak terlalu manis, bahkan terbayang adanya suatu dunia yang liar di mana berbagai anasir masih bertarung untuk menguasai jiwanya.
(BTB: 103)
“Berapa umurmu?” Mbak Wid bertanya kepada Bhisma.
“Tahun ini saya dua puluh tiga.”
(BTB: 113)
Bhisma, dengan usianya yang masih sangat muda, jatuh cinta kepada ibuku yang jauh lebih tua.  Cintanya tidak pernah sempat berkembang, bahkan putus mendadak di tengah jalan, namun selalu ada suatu cara untuk menggapaikan cinta ke tempat tujuannya, karena hanya dalam cinta manusia bisa mengandaikan dirinya bermakna.
(BTB: 189)
d.   Mbak Wid
Mbak Wid adalah seorang wanita separuh  yang berprofesi sebagai dokter dan mengabdikan dirinya untuk merawat anak-anak tunadaksa di Rumah Asuh Ibu Sejati.  Ia memiliki masa lalu yang suram.  Mbak Wid terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai pelacur.  Ibunya berkali-kali menggugurkan kandungannya dan hanya Mbak Wid seorang lah yang berhasil lahir.  Masa lalunya inilah yang membuatnya prihatin akan keadaan anak-anak yang dibuang.  Selain sebagai dokter, Mbak Wid yang memiliki indera keenam ini juga sering kali meramal dengan menggunakan kartu tarot.
“Aku hidup dengan usaha keras melupakan masa laluku dan betapa berat usaha melupakan itu bagiku.  Sebagai mahasiswa kedokteran, di bagian anak pula, begitu sering aku berurusan dengan nasib bayi-bayi malang.  Semua itu hanya membawaku kembali ke masa laluku.  Bayi-bayi dan ibu hamil hanya mengingatkan kepada penguguran.”
(BTB: 67)
Apabila malam tiba, Mbak Wid bagaikan memasuki suatu upacara.  Mbak Wid memang menikmati permainan kartu tarot bagaikan menghayati suatu upacara, karena baginya misteri masa depan merupakan daya tarik yang luar biasa. Maka, ketika permadani malam terbentang di langit, seusai makan Mbak Wid akan duduk di sana, di meja marmer, menggelar kartu-kartu tarot, mengenakan busana serba hitam dengan rambut terurai, meramalkan masa depan seseorang.  Dalam cahaya kekuningan yang berat dan menekan, tindak meramal menjadi sesuatu yang mendebarkan.
(BTB: 85)
4.5  Sudut Pandang Pengarang dalam Novel Biola Tak Berdawai
            Pengarang dalam novel Biola Tak Berdawai mengambil sudut pandang orang pertama pelaku sampingan dalam menyajikan cerita karena menggunakan subjek “aku”.  Dalam hal ini tokoh yang berlaku sebagai orang pertama pelaku sampingan “aku” adalah Dewa.  Dewa hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian “dibiarkan” berkisah sendiri yag kemudian menjadi tokoh yang ceritanya diutamakan, yaitu Renjani dan Bhisma.  Ini dikarenakan merekalah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, sedangkan Dewa lebih banyak bertindak sebagai pencerita daripada menceritakan dirinya sendiri.
            Dewa memang salah satu tokoh utama cerita, namun isi cerita lebih banyak mengemukakan mengenai kisah Renjani dan Bhisma maupun kehidupan bayi-bayi atau anak-anak tunadaksa. Setelah cerita mengenai tokoh yang diutamakan selesai, maka orang pertama sampingan (Dewa) muncul kembali namun hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.  Namun, tidak menutup kemungkinan turut serta dalam berlangsungnya cerita tentang tokoh yang diutamakan.


4.6  Gaya Bahasa dalam Novel Biola Tak Berdawai
Setiap pengarang memiliki ciri khas masing-masing dalam menggunakan gaya bahasa pada sebuah karya sastra seperti prosa.  Dalam hal ini, Seno Gumira Adjidarma menggunakan gaya bahasa yang bersifat menarik simpatik pembaca pada cerita dalam novelnya Biola Tak Berdawai.  Seno dengan piawai menggunakan diksi-diksi yang sederhana dan juga puitis. Di awal bab pertama saja, Seno sudah menarik perhatain pembaca dengan keindahan olahan kata-katanya seperti kutipan berikut:
Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya – tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia it tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai…
(BTB: 1)
            Gaya bahasa dalam novel ini kebanyakan menciptakan suasana yang membangun emosional pembaca pada adegan-adegan baik itu adegan saat Bhisma berusaha memeluk Renjani, adegan saat Bhisma tahu bahwa Renjani meninggal, maupun saat Dewa dan Bhisma berada di atas makam Renjani.  Kepuitisan begitu kental mewarnai cerita sehingga menimbulkan kesan indah bagi pembaca.

4.7  Amanat dalam Novel Biola Tak Berdawai
Cerita dalam novel Biola Tak Berdawai mengandung tema sosial yang kental meski diselimuti cerita cinta antara Renjani dan Bhisma. Terlebih novel ini mengangkat cerita mengenai nasib anak-anak tunadaksa yang dibuang dan disia-siakan begitu saja oleh orang tuanya.  Dilihat dari keseluruhan isi cerita, dapat dikatakan bahwa pengarang ingin memberikan pesan atau amanat untuk pembaca untuk lebih mengeksplorasi nilai-nilai dan menumbuhkan kepedulian sosial yang semakin lama semakin pudar.  Pengarang ingin menimbulkan kepedulian pambaca terhadap nasib anak-anak tunadaksa yang terlantar.
Selain itu, dari kisah kehidupan masa lalu Renjani dan Mbak Wid, pembaca dapat mengambi pelajaran bahwasanya masa lalu itu dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran hidup dan menjadi pertimbangan untuk membuat kehidupan jauh lebih baik.  Misalnya saja pembaca dapat mencontoh tindakan Renjani dan Mbak Wid yang melakukan tindakan positif dengan mengabdikan diri untuk merawat dan mengasuh anak-anak tunadaksa.

Unsur Ekstrinsik
4.8  Subjektivitas Individu Pengarang dalam Novel Biola Tak Berdawai
            Subjektivitas pengarang dalam hal ini meliputi isi cerita, teknik penyampaian cerita dan gaya dalam penulisannya. Novel Biola Tak Berdawai yang diangkat dari sebuah film garapan sutradara Sekar Ayu Asmara ini berhasil tercipta dari seorang sastrawan yang sudah banyak menelurkan karya ini.  Seno Gumira Adjidarma selaku pengarangya tentunya memiliki pandangan tersendiri mengapa ia setuju menulis novel dengan tema sosial.  Menurut pandangan Kafi Kurnia dalam kata pengantar novel, merupakan beban yang super berat ketika ia mencari penulis yang bisa menerjemahkan jiwa dari film Biola Tak Berdawai secara utuh ke dalam sebuah novel, dan Seno lah yang berhasil melakukannya.
            Seno yang sudah sering berkarya, khususnya di bidang prosa agaknya sangat setuju  dengan pemikiran-pemikiran yang ada dalam film Biola Tak Berdawai ini.  Lelaki yang menyukai tema sosial dalam menuliskan sebuah karya ini memiliki pandangan yang sejalan dengan cerita dalam film, yakni memandang anak-anak tunadaksa sebagai suatu keindahan yang tertutup dan terabaikan oleh banyak orang.  Ia dalam novelnya mencoba membuka perasaan pembaca untuk bisa peduli.  Seno pun juga menampilkan isi cerita dengan teknik dan gaya penulisannya yang khas.


4.9  Psikologi Pengarang dalam Novel Biola Tak Berdawai
Dalam menelurkan sebuah karya, psikologi pengarang merupakan salah satu aspek yang memperngaruhi isi karya.  Psikologi berhubungan dengan pemikiran pengarang.  Seno Gumira Adjidarma memang bukan pencetus ide cerita.  Ia hanya menginterpretasi sebuah film ke dalam sebuah karya prosa berupa novel. Rupanya pemikiran isi  cerita dalam film itu sejalan dengan pemikirannya, sehingga ia dapat dengan mudah menuliskan cerita yang ada di film ke dalam bentuk yang berbeda.  Ini merupaka sebuah proses kreatif dari seorang penulis.

4.10  Lingkungan Pengarang yang Masuk dalam Novel Biola Tak Berdawai
Pengaruh lingkungan baik itu lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sosial pengarang, sangat mempengaruhi isi sebuah karya sastra khususnya prosa.  Berbeda dengan filmnya, Seno menambahkan banyak degresi dengan menyelipkan cerita-cerita wayang Jawa ke dalamnya.  Hal ini dikarenakan ia merupakan orang Jawa dan tinggal di lingkungan yang mayoritas juga merupakan orang Jawa.  Lingkungan tempat tinggalnya inilah yang menjadikannya memiliki bahan untuk menulis cerita-cerita perwayangan yang umumnya tumbuh di masyarakat Jawa.
Seno Gumira Adjidarma pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (1994), Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia (2000) dan berhasil sampai pada program Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia (2005).  Ia tinggal di lingkungan akademis sebagai dosen, namun ia juga turut berkecimpung di bidang jurnalistik. Lingkungan sosial tempatnya berinteraksi ini juga mempengaruhi gaya penulisannya.  Misalnya saja ia banyak menggunakan diksi-diksi dan gaya bahasa yang puitis dalam novelnya Biola Tak Berdawai ini.  Ini dikarenakan kebiasaannya yang terbelih dahulu sering bersentuhan dengan dunia sastra baik dalam lingkungan sosial akademisnya maupun lingkungan sosial pekerjaannya.  Dapat dikatkan, dengan kata lain lingkungan pengarang dapat mempengaruhi karyanya dari berbagai aspek.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Kesimpulan dari analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik pada novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Adjidarma adalah sebagai berikut.
Unsur intrinsik:
1.      Tema yang diangkat dalam novel Biola Tak Berdawai adalah tema sosial yang dibumbui tema percintaan.
2.      Plot atau alur dalam novel Biola Tak Berdawai menggunakan alur campuran.  Novel ini berdasarkan kriteria waktu menggunakan plot regresif, bersadarkan kriteria jumlah menggunakan plot ganda, dan berdasarkan kriteria kepadatan termasuk dalam plot longgar.
3.      Latar terbagi atas latar waktu, tempat suasana dan sosial.  Latar waktu pada novel ini hanya dijelaskan secara singkat seperti (malam hari). Latar tempat berpindah-pindah seperti di panti, pantai, sawah, candi dan makam.
4.      Penokohan
·         Berdasarkan pentingnya keterlibatan dalam cerita, tokoh utamanya adalah Renjni, Bhisma dan Dewa,  sedangkan tokoh sampingannya adalah Mbak Wid.
·         Dilihat dari fungsi penampilan tokoh, yang menjadi tokoh protagonis adala Bhisma, Dewa dan Mbak Wid, sedangkanmenjadi  yang tokoh antagonis adalah Renjani.
·         Berdasarkan perwatakannya, yang menjadi tokoh sederhana adalah Dewa dan Bhisma, sedangkan Renjani dan Mbak Wid merupakan tokoh bulat.
·         Berdasarkan perkembangan watak, yang menjadi tokoh statis adalah Dewa, Mbak Wid dan Bhisma.
·         Berdasarkan pencerminannya dengan kehidupan nyata, seluruh tokoh dalam novel ini merupakan tokoh tipikal.
5.    Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini kebanyakan menonjolkan unsur kepuitisan.
6.      Amanat yang terkandung dalam novel ini adalah menumbuhkan  kepedulian sosial.
Unsur Ekstrinsik:
1.        Subjektivitas individu pengarang mempengaruhi isi, teknik penulisan dan gaya pada novel Biola Tak Berdawai.
2.        Psikologi pengarang mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan proses kreatif dalam cerita yang disuguhkan dalam novel Biola Tak Berdawai.
3.        Lingkungan sosial mempengaruhi penulisan karya sastra dari segala aspek.

5.2 Saran
            Secara keseluruhan, novel ini dapat dikatakan memiliki cerita yang unik dan berbeda dengan cerita-cerita yang ada pada novel kebanyakan.  Pengarang mengolah cerita mengenai anak-anak tunadaksa yang hampir atau mungkin sudah terlupakan kehadirannya oleh masyarakat. Hal ini tentu saja dapat menumbuhkan kepedulian sosial bagi pembaca.
            Selain mengenai kepedulian sosial, novel yang dibumbui kisah cinta ini banyak sekali mengandung pelajaran bagi pembaca seperti indahnya saling berbagi, alangkah baiknya jika ada masa lalu yang suram apabila digantikan dengan kegiatan yang berguna, dan lain sebagainya.  Cerita-cerita semacam ini perlu dikembangkan oleh pengarang-pengarang lain, atau dengan kata lain jangan terlalu sering mengangkat cerita dari tema yang sudah terlalu banyak muncul.  Hadirlah dengan sesuatu yang berbeda.



DAFTAR PUSTAKA

Adjidarma, Seno Gumira. 2004.  Biola Tak Berdawai. Jakarta: AKUR.
Aminuddin. 2010.  Pegantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Nurgiantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
            University Press.
Sugiarti. 2002. Pengetahuan dan Kajian Prosa Fiksi. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Tim Balai Pustaka, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesustraan. Jakarta: PT Gramedia.
Rosyid, Abdur. 2009. “Unsur-Unsur Intrinsik dalam Prosa”. (online)
Tempo. (tanpa tahun). “Seno Gumira Adjidarma”. (online)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar