Rabu, 26 Desember 2012

POLA AKUISISI BAHASA PADA PENDERITA AFASIA MOTORIK KORTIKAL BERDASARKAN HIPOTESIS TABULARASA


Abstrak: Pola akuisisi atau pemerolehan bahasa pada manusia normal tentunya berbeda dengan manusia yang mengalami gangguan berbahasa atau afasia. Afasia sendiri memiliki berbagai macam jenis yang salah satunya adalah afasia motorik kortikal. Penderitanya kehilangan kemampuan mengutarakan isi pikiran dengan menggunakan perkataan. Pola akuisisi bahasa pada penderita afasia motorik kortikal ini akan dihubungkan dengan salah satu hipotesis pemerolehan bahasa yaitu hipotesis tabularasa. Hipotesis ini mengatakan bahwa otak manusia yang baru lahir diibaratkan seperti kertas kosong.

Kata Kunci : akuisisi bahasa, afasia motorik kortikal, hipotesis tabularasa.


1. LATAR BELAKANG
Sungguh merupakan keagungan Tuhan yang tiada terkira. Dia yang menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna.  Sebagai makhluk yang sempurna, manusia telah dibekali berbagai kemampuan sejak dari ia dilahirkan.  Salah satu kemampuan manusia yang membedakan dan menjadi keunggulan dibandingkan dengan makhluk lain ialah kemampuan berbahasa. Dengan kemampuan itulah, sejak kecil manusia belajar memahami dan mengucapkan kata-kata.
Akuisisi atau pemerolehan bahasa pada manusia normal merupakan pembahasan yang menarik terkait dengan ranah ilmu kebahasaan. Namun akan lebih menarik lagi apabila yang dibahas adalah mengenai akuisisi pada manusia yang mengalami gangguan berbahasa atau yang dalam istilah ilmiah disebut afasia.  Akuisisi bahasa pada penderita afasia tentunya berbeda dengan akuisisi bahasa pada manusia normal. Penderita afasia memiliki pola akuisisi sendiri sesuai dengan tingkat kerusakan bagaian otak yang mengatur fungsi kebahasaan.
      Artikel ini khusus membahas mengenai pola akuisisi bahasa yang ada pada penderita salah satu dari jenis afasia (afasia motorik kortikal), dimana nantinya akan dijabarkan lebih lanjut.  Selain itu, untuk memperkaya khazanah sekaligus memperkuat dasar penulisan artikel ini, maka penulis menghubungkan dengan salah satu  dari beberapa hipotesis pemerolehan bahasa yaitu hipotetis tabularasa.  Keterkaitan antara pola akuisisi bahasa, afasia motorik kortikal dan hipotesis tabularasa seperti yang telah dikemukakan, akhirnya menarik perhatian penulis untuk membuat artikel dengan judul “Pola Akuisisi Bahasa pada Penderita Afasia Motorik Kortikal Berdasarkan Hipotesis Tabularasa”.

2. POLA AKUISISI BAHASA
Istilah akuisisi atau yang dalam bahasa Inggris disebut acquisition merupakan padanan dari istilah pemerolehan. Pemerolehan yang dimaksud yakni proses penugasan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (Dardjowijojo, 2005: 225). Pemerolehan bahasa (language acquisition) sering kali disamakan dengan dengan pembelajaran bahasa (learning acquisition). Namun yang membedakan adalah jika pada akuisisi bahasa, anak mengalami proses di dalam otaknya untuk belajar menguasai bahasa ibunya (native language/bahasa pertama/B1), maka pada pembelajaran bahasa anak mengalami proses belajar menguasai suatu bahasa yang secara formal (diajari) di dalam kelas.  Pembelajaran bahasa berkaitan dengan pemerolehan bahasa kedua atau B2.
Manusia yang sedang memperoleh bahasa mengalami dua buah proses yakni proses kompetensi dan proses performansi. Proses kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Senada dengan itu, Shinta (2010) membagi proses kompetensi menjadi (1) proses pemahaman, yaitu kemampuan atau kepandaian mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar dan (2) proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat baru, yaitu kemampuan mengeluarkan atau memproduksi kalimat-kalimat sendiri. Proses penerbitan ini selanjutnya diteruskan pada proses performansi yang  dalam linguistik transformasi generatif disebut juga perlakuan atau pelaksanaan bahasa. Kedua proses ini berlainan, namun saling berkaitan karena proses kompetensi merupakan syarat terjadinya proses performansi.  Anak yang telah menguasai kedua proses ini dikatakan memiliki kemampuan linguistik.

3. AFASIA MOTORIK KORTIKAL
Kerusakan otak di hemisfer kiri daerah pusat berbahasa (speech area) pada seseorang yang cekat tangan kanan (rightander) dapat menimbulkan gangguan berbahasa yang dinamakan afasia (Yelia, 2012). Lebih lanjutnya Yelia menjelaskan bahwa afasia merupakan gangguan penggunaan bahasa baik lisan maupun tulis. Afasia dapat mengenai modalitas bahasa yang terdiri dari percakapan (spontaneus speech), pemahaman bahasa lisan (comprehension of spoken language), pengulangan (repetition of spoken language), penamaan (confrontation naming), membaca dan menulis.
            Pada penderita afasia, tidak tentu semua modalitas bahasanya terganggu. Ada dua pola afasia yaitu afasia sensorik dan afasia motorik. Namun yang akan dibahas dalam artikel ini dikhususkan pada afasia motorik yang merupakan akibat dari terganggunya neuron (saraf) motorik. Neuron motorik berfungsi suntuk meneruskan impuls dari sistem saraf pusat ke otot dan kelenjar yang akan melakukan respon tubuh (Lestari, 2009: 290). Afasia motorik berkenaan dengan terganggunya area berbahasa yang berhubungan dengan lobus frontal, lobus temporal, dan lobus pariental di otak bagian Broca. Area ini terletak di belahan otak kiri yang merupakan tempat kemampuan untuk menghasilkan bahasa. Afasia motorik sendiri dibedakan menjadi menjadi beberapa macam dan salah satunya adalah afasia motorik kortikal.
Purwo (1989: 173) menjelaskan afasia motorik kortikal sebagai salah satu jenis gangguan berbahasa dimana pederitanya kehilangan kemampuan untuk mengutarakan isi pikiran dengan menggunakan perkataan.  Penderita afasia motorik kortikal ini masih bisa mengerti bahasa lisan dan bahasa tulisan, namun sama sekali tidak bisa menggunakan ekspresi verbal.  Meskipun begitu, ia masih bisa menggunakan ekspresi visual yaitu melalui bahasa tulis dan bahasa isyarat. 
Penyebab afasia pada umumnya atau lebih khususnya pada afasia motorik kortikal dapat berupa terjadinya lesi pada area penghasil ujaran pada otak yaitu broca. Penyebab lainnya seperti yang dikemukakan oleh Prameswari (2011) antara lain stroke, traumatis dan cedera otak. Ini sependapat dengan Welly (2012), menurutnya afasia terjadi ketika terjadinya serangan stroke yang membuat gangguan bahasa dan komunikasi pada otak.   .Afasia ini berkembang secara perlahan-lahan, seperti dalam kasus tumor otak atau progresif penyakit saraf  misalnya penyakit alzheimer atau parkinson. Hal ini mungkin juga disebabkan oleh pendarahan tiba-tiba yang terjadi  di dalam otak. Afasia juga terdaftar sebagai efek samping yang jarang dari fentanyl, yaitu suatu opioid yang digunakan untuk mengontrol rasa sakit kepala kronis.
Gejala-gejala afasia motorik kortikal antara lain sebagai berikut (1) ketidakmampuan mengucapkan, bukan karena kelumpuhan atau kelemahan otot; (2) ketidakmampuan untuk berbicara spontan; (3) ketidakmampuan untuk membentuk kata-kata; (4) ketidakmampuan untuk menyebut nama objek; dan (5) terbatasnya perilaku verbal. Adapun penanganan pada penderita afasia motorik kortikal antara lain dengan perawatan selama beberapa periode di rumah sakit. Penanganan afasia pada umumnya hampir selalu diteruskan ke ahli logopedia atau orang yang alhi dalam bidang komunikasi.

4.    POLA AKUISISI BAHASA PADA PENDERITA AFASIA MOTORIK KORTIKAL
Clark dalam (Indah, 2008: 50) melansir bahwa, fungsi bahasa yang paling utama sejak orang belajar bahasa adalah untuk komunikasi. Belajar bahasa yang dimaksud di sini adalah belajar bahasa pertama atau pemerolehan bahasa pertama. Komunikasi dengan bahasa dibedakan menjadi dua macam aktivitas manusia yang mendasar, yaitu berbicara dan mendengarkan. Kegiatan komunikasi akan berjalan lancar apabila tidak ada gangguan, khususnya gangguan berbahasa seperti afasia motorik kortikal.
Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwasanya penderita afasia motorik kortikal mengalami kerusakan atau cidera pada otak bagian broca sehingga kehilangan kemampuan dalam mengungkapkan isi pikiran melalui perkataan atau ekspresi verbal.  Namun ia masih bisa menggunakan ekspresi visual seperti isyarat dan menulis untuk mengungkapkan pikiran. Jika dihubungkan dengan pola akuisisi seperti dalam proses kompetensi dan performansi, tentunya akan berbeda dengan pola akuisisi pada manusia normal. Namun perlu diingat bahwa seseorang yang menderita afasia secara umum memiliki kapasitas intelektual yang penuh.
Proses kompetensi terdiri atas proses pemahaman dan penerbitan. Dalam proses pemahaman atau memamahi informasi yang didengar, penderita afasia motorik kortikal tidak mengalami gangguan sehingga ia tetap dapat memahami suatu ujaran. Begitu pula  halnya dalam proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat sendiri, penderita tidak akan mengalami kesulitan.
Proses kompetensi merupakan pijakan bagi proses performansi atau proses pelaksanaan tindak ujaran.  Proses kompetensi pada pendeita afasia motorik kortikal memang tidak terganggu, namun pada proses performansi atau tindak ujar (ekspresi verbal) ia sama sekali tidak dapat melakukan. Broca tidak mampu  memproses dan menghasilkan tindak ujaran. Ketika berkomunikasi, penderita afasia motorik kortikal  nampak seperti orang bisu yang mengungkapkan isi pikiran melalui isyarat atau tulisan sebagai bentuk performansinya dalam mengekspresikan atau mengutarakan isi pikiran.

5.    HIPOTESIS TABULARASA
Dalam proses akuisisi atau pemerolehan bahasa, dikenal tiga macam hipotesis yaitu hipotesis nurani, hipotesis tabularasa dan hipotesis kesemestaan kognitif.  Namun, dalam artikel ini hanya akan membahas salah satunya saja yaitu hipotesis tabularasa.
Tabularasa secara harfiah berarti ‘kertas kosong’, dalam arti belum ditulis apa-apa (Chaer, 2009: 172). Hipotesis yang pertama kali dikenalkan oleh tokoh empirisme bernama John Locke ini mengatakan bahwa otak bayi yang baru lahir bagaikan kertas kosong yang nantinya akan diisi dengan pengalaman-pengalaman yang didapatnya. Lebih lanjut Chaer menjelaskan, menurut hipotesis tabularasa semua pengetahuan bahasa manusia yang nampak dalam perilaku berbahasa merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang dialami dan diamati oleh manusia.
Hipotesis tabularasa sejalan dengan toeri behaviorisme yang menganggap bahwa pengetahuan linguistik terdiri hanya dari rangkaian hubungan-hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran S – R (Stimulus – Respon).  Menurut teori ini bahasa adalah sekumpulan tabiat-tabiat  atau perilaku-perilaku.  Tabiat-tabiat inilah yang akan dituliskan pada “kertas kosong” tabularasa.  Setiap kalimat yang muncul dari hasil pemikiran manusia merupakan kalimat-kalimat baru.
Skinner dalam (Chaer, 2009: 176-178) mengatakan bahwa berbicara merupakan satu respons operan yang dilazimkan kepada suatu stimulus  dari dalam atau dari luar, yang sebenarnya tidak diketahui.  Selanjutnya Skinner memperkenalkan sekumpulan kategori respons bahasa yang hampir serupa fungsinya dengan ucapan antara lain sebagai berikut.
            (1) Mands, yaitu satu operant bahasa di bawah pengaruh stimulus yang bersifat menyingkirkan, merampas atau menghabiskan. Mands muncul sebagai kalimat imperaktif (bersifat memerintah) berupa  permohonan atau rayuan  hanya apabila penutur ingin mendapatkan sesuatu. Misalnya, kanak-kanak mengucap kata ‘susu’, hal ini terjadi karena ada rasa haus atau lapar, anak tahu bahwa jika diucapkan kata itu, orang tua langsung memberikannya (ganjaran). Mands memerlukan satu interaksi khusus antara keadaan dulu yang serupa dan dialami, respons bahasa, perilaku orang yang mengukuhkan, dan jenis pengukuhan. (2) Tacts, yaitu benda atau peristiwa konkret yang muncul sebagai akibat adanya stimulus. Dalam tata bahasa tacts disamakan dengan menamai atau menyebut nama suatu benda atau peristiwa. Misalnya apabila melihat rumah sebagai stimulus maka yang keluar adalah kata ‘rumah’ sebagai respons. (3) Echoics, yaitu suatu perilaku yang dipengaruhi oleh respon orang lain sebagai stimulus dan kita meniru ucapan itu. Misalkan, seseorang mengucapkan ‘rumah’, maka kita akan merespon mengucapkan ‘rumah’. (4) Textual adalah perilaku berbahasa yang diatur oleh stimulus yang tertulis sedemikian rupa sehingga bentuk perilaku itu mempunyai korelasi dengan bahasa yang tertulis itu. Korelasi yang dimaksud adalah hubungan semantik antara sistem penulisan (ejaan) suatu bahasa dengan respon ucapan apabila membacanya secara langsung. Jadi, apabila kita melihat tulisan <kucing> sebagai stimulusnya kita memberi respons [kuciŋ]. (5) Intraverbal operan adalah operan berbahasa yang diatur oleh perilaku berbahasa terdahulu dilakukan atau dialami oleh penutur. Umpamanya sebuah kata dituliskan sebagai stimulus, maka kata lain yang ada hubungannya dengan kata itu akan diucapkan sebagai respon. Kata meja, misalnya akan membangkitkan kata kursi. Begitu juga kata terima kasih sebagai stimulus akan membangkitkan kata kembali sebagai responnya.

6.    POLA AKUISISI BAHASA PADA PENDERITA AFASIA MOTORIK KORTIKAL BERDASARKAN HIPOTESIS TABULARASA
Di atas telah dibahas mengenai penderita afasia motorik kortikal  dan kaitannya dengan pola akuisisi bahasa. Pola akuisisi bahasa pada penderita afasia motorik kortikal ini selanjutnya akan dihubungkan dengan salah satu hipotesis pemerolehan bahasa yaitu tabularasa. Menurut hipotesis ini manusia dianalogikan sebagai kertas kosong yang dapat ditulisi apa saja atau dengan kata lain manusia dapat memperoleh bahasa apa saja.  Hal ini berlaku juga pada penderita afasia motorik kortikal yang memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan isi pikiran melalui bahasa khususnya bahasa verbal.
Seperti yang telah dibicarakan mengenai berbicara sebagai satu respon operan yang dilazimkan kepada sesuatu stimulus dari dalam atau dari luar yang sebenarnya tidak jelas diketahui, maka dalam bagian ini akan diterangkan mengenai masing-masing kategori respon bahasa. Kategori-kategori respon bahasa di sini tentunya berlaku pada penderita afasia motorik kortikal. Sebenarnya penderita afasia motorik kortikal juga mengalami hal yang sama dengan manusia normal dalam menangkap stimulus. Namun yang membedakan ialah caranya merespon.
(1) Pada kategori mands, sebagai contoh apabila seseorang  yang normal ingin mendapatkan sesuatu yang berasal dari stimulus misalkan saja rasa lapar, maka sebagai respon ia akan mengucapkan minta makan.  Berbeda halnya dengan penderita afasia motorik kortikal yang tidak dapat menggunakan ekspresi verbal.  Ketika mendapat stimulus berupa rasa lapar maka ia akan menggunakan bahasa isyarat dengan mengelus-elus perutnya atau menuliskan pada selembar kertas. (2) Contoh untuk respon bahasa tacts, jika pada manusia normal yang mendapat stimulus melihat sebuah mobil akan mengeluarkan tact “mobil” sebagai respon, maka pada penderita afasia motorik kortikal tidak tidak dapat megeluarkan tact “mobil”. (3) Echois, pada kategori ini apabila pada manusia normal mendengar dari orang lain kata “mobil” sebagai stimulus ia akan menirukan, namun tidak bagi penderita afasia motorik kortikal. (4) Textual, pada manusia normal ketika membaca tulisan misalnya saja <kucing>  sebagai stimulus maka maka akan memberi respon pengucapan [kuciŋ].  Ini tentu tidak dapat dilakukan oleh penderita afasia motorik kotikal karena ia tidak dapat berbicara. (5) Intraverbal Operant, jika manusia normal dapat dengan mudah memberikan respon dari suatu kata yang diucapkan seseorang sebagai stimulus berupa kata yang memiliki hubungannya, maka penderita afasia motorik kortikal tidak mampu.
Lima kategori respons di atas sebetulnya dapat dilakukan oleh penderita afasia motorik kortikal.  Namun atas keterbatasannya dalam ekspresi verbal maka respon yang ia berikan bukanlah berupa perkataan atau ucapan, melainkan berupa isyarat atau melalui tulisan. Gangguan berbahasa afasia motorik kortikal memngubah cara seseorang dalam bersikap. Dengan memanfaatkan secara optimal kemungkinan komunikasi yang masih ada, lingkungan penderita afasia masih bisa bekomunikasi dengannya (AIA, 2012).
Khusus untuk penderita afasia motorik kortikal, cara kita untuk dapat berkomunikasi tidaklah sesulit berkomunikasi dengan penderita afasia yang memiliki tingkatan cedera lebih parah.  Apabila kita ingin mengatakan sesuatu, maka katakan saja seperti berbicara dengan orang yang normal karena penderita afasia motorik kortikal tidak mengalami masalah pada pemahaman ujaran.  Namun, kita dituntut harus bersabar karena untuk merespons stimulus kita yang berupa ujaran, responsnya bukan berupa ujaran melainkan berupa bahasa isyarat atau tulisan.




7.    KESIMPULAN
Dalam pola akuisisi bahasa terdapat dua buah proses yaitu proses kompetensi dan performansi. Proses kompetensi berkenaan dengan  pemahaman dan penerbitan kata-kata, sedangkan proses performansi berkenaan dengan tindak ujaran.
Pola akuisisi bahasa pada manusia normal tentu saja berbeda dengan manusia yang menderita afasia atau gangguan berbicara. Penderita afasia khususnya afasia motorik kortikal mengalami lesi pada otak bagian broca yang merupakan tempat menghasilkan bahasa.  Penyebab terjadinya lesi ini dapat berupa serangan stroke, trauma maupun cedera otak akibat hantaman benda yang mengenai bagian otak penghasil bahasa.
 Penderita afasia motorik kortkal  kehilangan kemampuan untuk mengutarakan isi pikiran dengan menggunakan perkataan.  Ia masih bisa mengerti bahasa lisan dan bahasa tulisan, namun sama sekali tidak bisa menggunakan ekspresi verbal.  Meskipun begitu, ia masih bisa menggunakan ekspresi visual yaitu melalui bahasa tulis dan bahasa isyarat. 
Pola akuisisi bahasa pada penderita afasia motorik kortikal berkaitan dengan proses kompetensi dan performansi berbeda dengan manusia normal.  Pada proses kompetensi berupa pemahaman dan penciptaan kalimat-kalimat ia tidak mengalami kesulitan, namun pada proses performansi berupa tindak ujar (ekspresi verbal) ia mengalami kesulitan karena tidak ada tindak ujar yang muncul.
Hipotesis tabularasa menganalogikan manusia sebagai kertas kosong yang dapat ditulisi apa saja atau dengan kata lain dapat memperoleh bahasa apa saja. Hipotesis ini berhubungan dengan teori behaviorisme yang mengandalkan hubungan stimulus-respons dalam komunikasi berbahasa. Dalam hipotetsis tabularasa dibahas mengenai lima kategori respons bahasa yaitu mands, tacts, echois, textual dan intraverbal operant.
Hipotesis tabularasa yang berbicara banyak mengenai stimulus-respons terjadi pula pada penderita afasia motorik kortikal.  Namun yang membedakan prosesnya dengan manusia normal adalah cara ia merespons stimulus.  Ia memiliki keterbatasan dalam ekspresi verbal maka respon yang ia berikan bukanlah berupa perkataan atau ucapan, melainkan berupa isyarat atau melalui tulisan. Gangguan berbahasa afasia motorik kortikal memngubah cara seseorang dalam bersikap. Dengan memanfaatkan secara optimal kemungkinan komunikasi yang masih ada, lingkungan penderita afasia masih bisa bekomunikasi dengannya.

DAFTAR PUSTAKA
Aphasia, Association International. 2012. “Apakah Afasia?”. (Online) http://www.afasie.nl/aphasia/pdf/26/brochure1.pdf.  Diakses 18 Desember 2012.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowijodjo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Indah, Rohmani Nur dan Abdurrahman. 2008. Psikolinguistik: Konsep dab Isu Umum.  Malang: UIN-Malang Press.
Lestari, Endang Sri dan Idun Kistinnah. 2009. Biologi 2: Makhluk Hidup dan Lingkungannya. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan  Nasional.
Prameswari, Anggun. 2011. “Aphasia, Apa Lagi Sih?”. (Online) http://a11no4.wordpress.com/tag/gangguan-pervasif/. Diakses 14 Desember 2012.
Purwo, Bambang Kaswanti. 1989. Pertemuan Linguistik Lembaga Atma Jaya: Kedua. Jakarta: Kanisius.
Shinta, Qorinta. 2010. “Pemerolehan Pragmatik dalam Bahasa Anak Studi Kasus Prinsip Kerja Sama – Maksim Grice pada Anak Usia enam (6) Tahun”. (Online) www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fbib1/article/download/423/pdf. Diakses 15 Desember 2012.
Welly. 2012. “Penyakit Afasia”. (Online) http://missyellarose.blogspot.com/2010/02/5-penyakit-afasia.html. Diakses 15 Desember 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar