Kamis, 17 Mei 2012

HAKIKAT PUISI


Hingga saat ini, tidak ada definisi yang baku mengenai apa itu puisi.  Banyak ahli-ahli sastra yang memberikan definisi puisi.  Namun, seperti yang dikemukakan oleh Shahnon Ahmad (dalam Pradopo. 1997: 7) bahwa bila unsur-unsur dari pendapat-pendapat itu dipadukan, maka akan didapat garis-garis besar tentang pengertian puisi yang sebenarnya.  Unsur-unsur tersebut dapat berupa: emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, sususan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaaan yang bercampur-baur.  Di situ dapat disimpulkan ada tiga unsur yang pokok. Pertama, hal yang meliputi pemikiran, ide, atau emosi; kedua, bentuknya; dan yang ketiga ialah kesannya.
Hakikat puisi ialah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi.  Puisi merupakan karya seni  (mengandung unsur estetik) yang unsur seni dominannya mengandalkan keindahan kata, gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat, wacana dan tipografinya.  Kepuitisan dapat dicapai dengan bermacam-macam cara, misalnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa dan sebagainya. Dalam mencapai kepuitisan itu penyair menggunakan banyak cara sekaligus secara bersamaan untuk mendapatkan jaringan efek puitis yang sebanyak-banyaknya, yang lebih besar daripada pengaruh beberapa komponen secara terpisah penggunaannya.  Antara unsur pernyataan (ekspresi), sarana kepuitisan, yang satu dengan yang lainnya saling membantu, saling memperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya, semuanya itu untuk mendapatkan kepuitisan yang seefektif mungkin, seintensif mungkin (Pradopo. 1997: 13).
Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk mengerti hakikat puisi, antara lain :
1.      Fungsi Estetik
Dalam sebuah karya sastra khususnya puisi, fungsi estetiknya dominan dan di dalamnya ada unsur-unsur estetiknya.  Unsur-unsur keindahan ini merupakan unsur-unsur kepuitisannya, misalnya persajakan, diksi (pilihan kata), irama dan gaya bahasanya. Gaya bahasa meliputi semua penggunaan bahasa secara khusus untuk mendpatkan efek tertentu, yaitu efek estetikanya atau aspek kepuitisannya.  Jenis-jenis gaya bahasa itu meliputi semua aspek bahasa, yaitu bunyi, kata, kalimat dan wacana yang dipergunakan secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu itu (Pradopo. 1997: 315).
2.      Kepadatan
Karya sastra berupa puisi menjadi berbeda dengan karya sastra lain seperti prosa dan drama karena terdapat aktivitas pemadatan.  Puisi merupakan ekspresi esensi, tidak semua peristiwa diceritakan panjang lebar oleh penyairnya.  Hanya inti masalah, perstiwa atau inti cerita dan esensi yang dikemukakan dalam puisi. 
3.      Ekspresi Tidak Langsung
Ekspresi tidak langsung dapat berupa kiasan. Riffaterre (dalam Pradopo. 1997: 318) mengemukakan bahwa sepanjang waktu, dari waktu ke waktu, puisi itu selalu berubah.  Perubahan ini disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik.  Akan tetapi, satu hal yang tidak berubah, yaitu puisi itu mengucapkan sesuatu secara tidak langsung.  Ucapan tidak langsung ialah menyatakan suatu hal dengan arti lain.  Ketidaklangsungan ekspresi ini disebabkan oleh tiga hal yaitu (1) penggantian arti (displacing of meaning), (2) penyimpangan atau pemencongan arti (distorting of meaning), dan (3) penciptaan arti (creating of meaning).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar