Selasa, 18 Oktober 2011

Memahami Puisi "Ada yang Mengiris Luka" Karya Eko Suryadi WS


ADA YANG MENGIRIS LUKA
kepada AM

Karya : Eko Suryadi WS

ada yang mengiris luka malam ini
karena buih yang menyimpan dendam
telah terkapar mati
air yang tersumbat tiba-tiba mengalir

yang mengiris luka malam ini
adalah kamu
dalam diam yang apa pun maknanya

mendekap doaku yang tercecer
batu hitam mendelik tertawakan
langit biru ungu tergelincir di ujung bukit
lelaki muda mengalungkan asap di leher

sementara tidur telah bangkit di cakrawala
matahari esok masi akan berjalan di atas garisnya sendiri
kau lihat; ladang bulan mengulum batu nisan kepunyaanku
karena malam ini segalanya telah kupesan

malam ini telah merambat sandaran jarum jam bisu
dalam mimpi memagut segala kesempatan
pintaku;
beri aku bunga kecil
sesaat nanti aku terbujur kaku
dingin menatap daun-daun kering

Memahami isi puisi :

1. Judul
            Pengarang memberikan judul "Ada yang Mengiris Luka". Kata 'Luka' di sini dapat diartikan sebagai sebuah kesedihan atau rasa sakit hati. Kemudian di awal kalimat judul ditulis 'Ada yang' sebagai subjek aktif, dalam hal ini yang melakukan (mengiris luka). Di sini pengarang memberikan judul yang merangkum isi dari puisi yang ditulisnya, yakni menceritakan ada seseorang atau orang lain yang mengiris (menyakiti) si pengarang yang sebelumnya sudah terluka (tersakiti).
Setelah judul, pengarang menuliskan "Kepada AM". Ini dapat diartikan bahwa pengarang menuliskan puisi yang ditujukan kepada seseorang yang ia beri inisial "AM". Entah apakah orang yang berinisial "AM" ini lah yang telah menyakiti si pengarang sehingga pengarang menjadikannya sebagai subjek dalam puisinya untuk menyindir, atau pengarang sekadar menulis puisi sebagai persembahan untuk si "AM".

2. Bait Pertama
²  ada yang mengiris luka malam ini
ada yang mengiris (sebuah) luka (pada) malam (hari) ini
Pada malam hari ini ada seseorang yang mengiris luka. Maksudnya ada seseorang yang menyakiti hati pengarang yang sebelumnya sudah sakit.
²   karena buih yang menyimpan dendam
telah terkapar mati
karena buih yang menyimpan dendam
Pengarang menyimpan dendam seperti banyaknya buih.
(namun) telah terkapar mati
Meskipun ia menyimpan dendam, namun dendam itu telah pupus atau tidak bisa lagi ia kobarkan karena hati yang sebelumnya sakit, kembali disakiti sehingga seolah-olah mati.
²  air yang tersumbat tiba-tiba mengalir
Air mata yang tersumbat (jarang menangis) tiba-tiba mengalir karena sedih.

3. Bait kedua
²  yang mengiris luka malam ini
adalah kamu
yang mengiris luka (pada) malam (hari) ini
adalah kamu
Pengarang menunjuk pada 'kamu' sebagai orang yang menyakitinya pada malam ini.
²  dalam diam yang apa pun maknanya
'Kamu' yang menyakiti hati dengan diam, yang sebenarnya 'aku' atau pengarang tidak mengerti makna apa yang sebenarnya ada dibalik diam itu.

4. Bait ketiga
²  mendekap doaku yang tercecer
(aku hanya bisa) mendekap doaku yang tercecer
'Aku' atau si pengarang hanya bisa banyak berdoa seolah-olah doanya berceceran.
²  batu hitam mendelik tertawakan
(biar pun) batu hitam mendelik (men)tertawakan (aku)
Tidak peduli meski pun batu hitam (perumpamaan apa pun yang dianggap tidak penting) mendelik dan mentertawakan kesedihan si pengarang.
²  langit biru ungu tergelincir di ujung bukit
(dan) langit (yang berwarna) biru dan ungu tergelincir di ujung bukit
Langit yang berwarna biru dan ungu berubah jadi jingga (senja) dapat diartikan usia yang sudah mulai tua.
²  lelaki muda mengalungkan asap di leher
(juga biar pun aku nampak seperti) lelaki muda yang mengalungkan asap di leher(nya)
Pengarang seperti lelaki muda yang mengalungkan asap (dilihat seperti mengeluarkan aura kesedihan) di lehernya (pada penampilannya)

5. Bait keempat
²  sementara tidur telah bangkit di cakrawala
Sudah cukup kesedihan yang dialami pengarang. Maka ia bangkit dari tidur (dari kediamannya akan rasa sakit dan sedih yang dirasa) di cakrawala (di perbatasan keinginan hatinya antara ingin tetap meratapi kesedihan atau memilih bangkit).
²  matahari esok masih akan berjalan di atas garisnya sendiri
Pengarang menyadari bahwa waktu pasti akan terus berjalan konstan tanpa bisa berhenti.
²  kau lihat; ladang bulan mengulum batu nisan kepunyaanku
Pengarang menunjukkan kepada 'kau' bahwa 'ladang bulan' yang berarti cahaya yang terang benderang (melambangkan harapan yang terbuka lebar) 'mengulum batu nisan kepunyaannku' (harapan yang memberikan semangat pada hati si pengarang yang seolah mati).
²  karena malam ini segalanya telah kupesan
Pada malam dimana si pengarang disakiti atau terluka hatinya, ia tetap mencari segala cara untuk mengobati rasa sakit hatinya.

6. Bait kelima
²  malam ini telah merambat sandaran jarum jam usia
(tapi pada) malam ini telah merambat sandaran jarum jam (yang membatasi) usia
Usia si pengarang yang sudah beranjak tua dan merasa bahwa usianya sudah tidak akan lama lagi.
²  dalam mimpi memagut segala kesempatan
dalam mimpi (yang) memagut segala kesempatan
Usianya pengarang yang mungkin hanya bisa digunakan untuk berangan-angan tanpa bisa memperoleh kesempatan untuk bangkit dari kesedihan.
²  pintaku
Pengarang meminta
²  beri aku bunga kecil
Pengarang meminta untuk diberi 'bunga kecil' yaitu kenang-kenangan atau sebuah penghargaan kecil setidaknya untuk menghibur dirinya yang telah berusaha menghapus kesedihannya.
²  sesaat nanti aku terbujur kaku
(apabila) sesaat nanti aku terbujur kaku
Apabila suatu saat nanti 'aku' atau si pengarang meninggal dunia
²  dingin menatap daun-daun kering
Pengarang merasa 'dingin' (sendirian juga kesepian) dan hanya bisa menatap daun-daun kering (tak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa meratapi harapan-harapan yang tidak bisa tercapai)


Rangkuman pemahaman isi puisi :
Si 'aku' atau pengarang merasa bahwa hatinya yang sudah terluka atau sedih disakiti oleh 'kau' atau orang lain. Pengarang menyimpan dendam di dalam hatinya, namun dendamnya itu hanya bisa disimpan dalam hati dikarenakan hatinya terlalu sakit dan seolah mati dalam kesedihan. Ia pun menangis.
Pengarang hanya bisa berdoa meski pun banyak yang mentertawakannya dan meski pun usianya sudah beranjak tua. Ia menyadari bahwa waktu akan terus berjalan. Maka ia mulai membuat harapan-harapan untuk bisa keluar dari kesedihannya. Namun di sisi lain ia juga merasa bahwa harapan-harapannya itu tidak bisa tercapai karena ia berada di batas usia. Ia takut kalau-kalau harapannya tidak kesampaian karena ia meninggal dunia (mati). Tapi di sini pengarang meminta kenang-kenangan kecil sebagai penghargaan kepada dirinya yang meski pun berada dalam kesedihan namun tetap memiliki harapan.

Komentar :
Puisi "Ada yang Mengiris Luka" ini menggunakan kata dan kalimat yang tidak begitu sulit dipahami meski pun ada beberapa di antaranya yang ambigu atau mempunyai makna ganda atau lebih. Ide yang disampaikan pengarang ini adalah mengenai perjuangannya bangkit dari kesedihan meski pun pada akhirnya ia tidak bisa keluar dari kesedihan itu.
Bahasa yang dipakai pengarang pun cukup indah. Dari awal judul saja sudah menarik pembaca untuk membaca dan mengikuti alur cerita dalam puisinya. Ketika pembaca menyelesaikan membaca, maka suasana kesedihan akan terbawa.
Gabungan kata dalam puisi ini pun menarik sehingga menimbulkan kesan yang indah. Misalnya seperti 'mengiris luka', 'doaku yang tercecer', 'mengalungkan asap', dan lain sebagainya.
Meski pun puisi ini berbicara tentang luka bahkan kematian, namun pada akhir puisi pengarang menyampainkannya dengan perasaan lega. Kalau si pengarang menyebutkan tentang kematian, maka di sini kematian itu bukanlah sesuatu serba mengerikan. Tapi kematian sebagai bagian dari kesadaran hidup. Bahwa hidup tak akan berwarna tanpa adanya harapan. Sesakit apa pun hidup, kita harus selalu memiliki harapan sebagai penyemangat. Masalah harapan itu tercapai atau tidak, itu adalah urusan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar