Sabtu, 23 Juni 2012

PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK


ABSTRAK
Bimbingan orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kemandirian anak, karena orang tua merupakan  lingkungan terdekat dan memiliki porsi interaksi paling banyak dengan anak.    Kemandirian memiliki tingkatan dan karakteristik tertentu yang perlu diperhatikan betul oleh orang tua dalam memberikan bimbingan.  Banyak faktor yang mempengaruhi kemandirian pada anak yang menjadikan anak itu mandiri atau tidak. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dapat dijadikan patut diperhatikan orangtua dalam membimbing kemandirian anak sejak dini.

Kata kunci : bimbingan orang tua; kemandirian anak; tingkatan dan karakteristik; faktor kemandirian.

1. LATAR BELAKANG
            Semua orang tua tentunya menginginkan anaknya menjadi manusia yang bekepribadian baik dan sukses.  Tentunya hal ini harus diimbangi dengan bagaimana orang tua itu membimbing anaknya.  Orang tua dituntut dengan kesabaran, keuletan dan kesungguhan agar harapan itu dapat terwujud.  Salah satu cara menjadikan anak berkepribadian baik dan sukses adalah dengan menanamkan sikap kemandirian pada anak.
Kemandirian merupakan salah satu aspek penting penunjang keberhalisan anak mencapai masa depan, karena dengan mandiri anak itu tidak akan terus bergantung pada orang lain.  Namun, tidak semua semua anak bisa berlaku mandiri dengan sendirinya. Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola pengasuhan dan bimbingan orang tua. Di dalam lingkungan keluarga, orang tua lah yang berperan dalam mengasuh, membimbing, dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.
Terkadang orang tua baru menyadari pentingnya kemandirian setelah anak duduk di bangku sekolah.  Sementara itu mungkin anak sudah cukup untuk diajar mandiri.  Sebenarnya, mulai usia dua tahun anak telah menunjukkan tanda-tanda untuk menjadi pribadi yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri.  Saat ini adalah saat yang tepat untuk membentuknya menjadi pribadi yang mampu berdiri sendiri (Sobur, 1986: 60).
Mengajarkan kemandirian pada anak sejak dini memang bukan hal yang mudah.  Terlebih banyak faktor yang mempengaruhi kemandirian pada anak seperti faktor bawaan, pola asuhan, kondisi fisik anak dan urutan kelahiran.  Tingkat dan karakteristik kemadirian setiap anak pun berbeda-beda, sehingga orang tua harus lebih peka dalam menentukan pola bimbingan kepada anak-anaknya.
Sejauh ini, masih banyak anak yang hingga usia dewasa pun masih tergantung kepada orang tua.  Salah satu contohnya adalah dalam hal pemilihan fakultas/jurusan ketika anak memasuki jenjang perkuliahan.  Masih banyak orang tua yang ngotot memasukkan anak mereka ke fakultas/jurusan yang mereka kehendaki tanpa mempertimbangkan bakat dan minat anak itu sendiri.  Akibatnya, sang anak kehilangan motivasi dan semangat belajar, atau bahkan kehilangan gairah belajar dan tak jarang berakhir dengan Drop Out.  Hal-hal seperti dikemukakan di atas lah yang akhirnya menarik perhatian penulis untuk membuat artikel dengan judul “Pengaruh Bimbingan Orang Tua terhadap Kemandirian Anak”.

2. PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP ANAK
            Bukowsky , Brendgen dan Vitaro dalam King (2010: 194) mengatakan bahwa orang tua dan teman sebaya merupakan pengaruh terbesar ada perkembangan remaja.  Remaja dalam hal ini dikaitkan dalam lingkupnya sebagai anak.  Salah satu tugas perkembangan yang penting bagi remaja adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang kompeten dengan cara yang semakin mandiri (Collins & Steinberg dalam King, 2010: 194).
            Orang tua berperan besar dalam mengajar, mendidik, memberikan bimbingan, dan menyediakan sarana belajar serta memberi teladan pada anak sesuai dengan nilai moral yang berlaku atau tingkah laku yang perlu dihindari (Gunarso dalam Blogger Indonesia, 2010).  Anak belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan tanggung jawab belajar tumbuh pada diri anak (Ahmadi dalam Blogger Indonesia, 2010).  Dalam hal ini belajar pada anak tidak hanya dikaitkan dengan pelajaran di sekolah, namun juga belajar bertindak, bersikap dewasa, bersosial, dan lain sebagainya.
            Anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan waktunya di sekolah atau waktu berinteraksi dengan lingkungan luar.  Oleh karena itu, intensitas interaksi mereka lebih banyak dilakukan dengan lingkungan rumah atau keluarga yang dalam hal ini adalah orang tua.  Intensitas pertemuan yang banyak ini lah yang menjadikan orang tua memiliki peran atau pengaruh yang besar dalam membimbing anak-anaknya ke arah manapun yang mereka kehendaki.
           
3. PENGERTIAN KEMANDIRIAN ANAK
            Desmita (2011: 185) mengungkapkan pengertian kemandirian sebagai kemampuan untuk mengendalikan dan mengatur pikiran, perasaan dan tindakan sendiri secara bebas serta berusaha sendiri untuk mengatasi perasaan-perasaan malu dan keragu-raguan.  Lebih dari itu Desmita menjelaskan  bahwa kemandirian biasanya ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan sendiri, serta mampu  mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain.
            Menurut Robert Havighurst dalam Desmita (2011: 186),  kemandirian dibedakan menjadi empat bentuk antara lain sebagai berikut.  Pertama, kemandirian emosi, yaitu kemampuan mengatur emosi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi pada orang lain atau orang tua.  Kedua, kemandirian ekonomi, yaitu kemampuan mengatur ekonomi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain atau orang tua.  Ketiga, kemandirian intelektual, yaitu kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Kemandirian intelektual ini merujuk pada kemampuan berpikir, menalar, memahami beragam kondisi, situasi dan gejala-gejala masalah sebagai dasar usaha mengatasi masalah.  Sedangkan yang keempat, kemandirian sosial, yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain atau kemampuan untuk berani secara aktif membina relasi sosial  dan tidak tergantung pada aksi orang lain.
            Pada anak, kemandirian dapat diamati dari hal-hal kecil seperti menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri, tidur terpisah dengan orang tua, berangkat sekolah sendiri, mengatur pengeluaran uang sakunya sendiri dan lain sebagainya.  Menurut Sobur (1986: 58-59) sebenarnya, semenjak lahir setiap anak berusaha keras untuk menjadi tidak tergantung pada orang lain.  Misalnya saja pada saat anak belajar berjalan, pada mulanya proses belajar ini memang memerlukan bantuan orang lain.  Namun keinginan anak untuk bisa  berjalan ini lah yang disebut bahwa anak tersebut tidak ingin lagi tergantung pada orang lain untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau dengan kata lain anak ingin melakukan sendiri perpindahan itu tanpa harus meminta bantuan orang lain seperti digendong dan lain sebagainya.

4. TINGKATAN DAN KARAKTERISTIK KEMANDIRIAN ANAK
            Desmita (2011: 187-188) memaparkan tingkatan dan karakteristik kemandirian beradasarkan pendapat Lovinger ke dalam enam tingkatan sebagai berikut.  Tingkatan pertama adalah tingkat impulsif dan melindungi diri.  Ciri-cirinya antara lain: peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang lain; mengikuti aturan secara spontanistik dan hedonistik; berpikir tidak logis dan tertegun  pada cara berpikir tertentu (stereotype); cenderung melihat kehidupan sebagai zero-sum games; dan cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungannya.
            Tingkat kedua adalah tingkat konformistik.  Ciri-cirinya: peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial; cenderung berpikir stereotype dan klise; peduli akan konformitas terhadap aturan eksternal; bertindak dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian; menyamakan diri dalam ekspresi emosi dan kurangnya intospeksi; perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal; takut tidak diterima kelompok;  tidak sensitif terhadap keindividualan; dan merasa berdosa jika melanggar aturan.
            Tingkat ketiga adalah tingkat sadar diri.  Ciri-cirinya: mampu berpikir alternatif; melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi ; peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada; menekankan pada pentingnya memecahkan masalah; memikirkan cara hidup; dan penyesuaian terhadap situasi peranan.
            Tingkatan keempat adalah tingkat saksama (conscientious).  Ciri-cirinya antara lain: bertindak atas dasar nilai-nilai internal; mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan; mampu melihat keragaman emosi, motif dan perspektif diri sendiri maupun orang lain; sadar akan tanggung jawab mampu melakukan kritik dan penilaian diri; peduli akan hubungan mutualistik; memiliki tujuan jangka panjang; cenderun melihat peristiwa dalam konteks sosial; dan berpikir lebih kompleks dan atas dasar pola analitis.
            Tingkatan kelima adalah tingkat individualitas.  Ciri-cirinya: peningkatan kesadaran individualitas; kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dan ketergantungan; menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain; mengenal eksistensi perbedaan individual; mampu bersikap toleran teradap pertentangan dalam kehidupan; membedakan kehidupan internal dengan kehidupa luar dirinya; mengenal kompleksitas diri; dan peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.
            Tingkatan keenam adalah tingkat mandiri.  Ciri-cirinya antara lain: memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan, cenderung bersikap realistic dan objektif terhadap diri sendiri dan orang lain; peduli terhadap pemahaman abstrak, seperti keadilan sosial; mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan; toleran terhadap ambiguitas; peduli akan pemenuhan diri (self-fulfilment), ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal; responsif terhadap kemandirian orang lain; sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain; dan mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan.

5. FAKTOR-FAKTOR KEMANDIRIAN
Kemandirian pada anak muncul tanpa selalu dapat diprediksi melalui usia, namun dapat dilihat ketika anak sudah mulai memiliki keinginan sendiri, atau dengan kata lain tingkatan usia tidak mesti berpengaruh terhadap kemandirian anak.  Ada anak yang usianya sudah beranjak dewasa atau bahkan sudah dewasa pun masih belum memiliki sikap mandiri.  Namun ada pula anak yang usianya masih sangat dini sudah memiliki sikap yang mandiri.  Hal ini ditentukan oleh beberapa faktor seperti yang diungkapkan Dra. Mayke Sugianto Tedjasaputra, M. Si dalam Arbya (2011) berikut.
Pertama, faktor bawaan, dimana ada anak yang berpembawaan mandiri, ada yang memang suka menikmati jika dibantu orang lain.  Kedua, faktor pola asuh yang memungkinkan anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani.  Ketiga, faktor kondisi fisik anak, misalnya anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebhih “istimewa” ketimbang saudara-saudaranya sehingga menjadikan anak tidak mandiri.  Keempat, urutan kelahiran, contohnya anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum cukup berpegalaman.  Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.

6.  PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK
            Seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa orang tua memiliki pengaruh bimbingan yang sangat besar terhadap anak termasuk memberikan pengaruh dalam hal bimbingan terhadap anak untuk mencapai kemandirian.  Ini dikarenakan orang tua merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak dalam interaksinya sehari-hari.
            Anak tumbuh dan berkembang sepanjang hidup mereka. Tingkat ketergantungan berubah dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan aspek-aspek kepribadian dalam diri mereka. Kemandirian pun menjadi sangat berbeda pada rentang usia tertentu. Kemandirian sangat tergantung pada proses kematangan dan proses belajar anak. Anak tumbuh dan berkembang dalam lingkup sosial. Lingkup sosial awal yang meletakkan dasar perkembangan pribadi anak adalah keluarga. Dengan demikian orang tua memiliki porsi terbesar untuk membawa anak mengenal kekuatan dan kelemahan diri untuk berkembang, termasuk perkembangan kemandiriannya (Sourie, 2012).
Anak-anak akan berkembang melalui berbagai tingkat dari sikap ketergantungan kepada orang ke tingkat kemandirian yang penuh apabila mereka diberi dorongan  semangat untuk melakukannya.  Orang tua harus memberikan dorongan keberanian dan latihan yang cukup memadai, mengerjakan pekerjaan rutin  tersebut bagi anak-anaknya (Balson, 1987: 137).
            Kemandirian akan membawa anak kepada hal-hal posistif.  Misalnya saja dengan mandiri, anak dapat tidak lagi bergantung pada pertolongan orang lain, tidak bingung ketika menghadapi suatu masalah, menjadi lebih kreatif dan inovatif. Fatimah (2008: 144) menjelaskan bahwa kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis lain, dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini.  Mengingat banyaknya dampak positif bagi perkembangan individu, kemandirian sebaiknya diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya.  Seperti telah diakui, segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan.
            Namun, seperti yang diungkapkan Simanjuntak (2011) bahwa membentuk kemndirian anak sejak dini itu gampang-gampang susah.  Hak ini tergantung dari orang tua anak dalam memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak. Hal ini tergantung dari orang tua anak dalam memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak. Tentu saja ini merupakan tugas orang tua untuk selalu mendampingi anaknya, sebab orang tua adalah lingkungan yang paling dekat dan bersentuhan langsung dengan anak. Peran orang tua atau lingkungan terhadap tumbuhnya kemandirian pada anak sejak usia dini merupakan suatu hal yang penting. Hal ini mengingat bahwa kemandirian pada anak tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Anak perlu dukungan, seperti sikap positif dari orang tua dan latihan-latihan ketrampilan menuju kemandiriannya.
            Tingkat kemandirian anak yang semakin lama semakin berkembang akan membedakan tingkat kemandiriannya saat remaja. Lebih lanjut Fatimah (2008: 145) menambahkan, dalam mencapai keinginannya untuk mandiri, sering remaja mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan masih adanya kebutuhan untuk tetap bergantung pada orang lain.  Remaja yang dalam hal ini bertindak sebagai anak, cenderung mengalami kebingungan ketika orang tua mereka bersikap memanjakan ketimbang mengajari tentang kemndirian.  Padahal secara alamiah anak/remaja sudah memiliki keinginan untuk bersikap mandiri.
            Sejauh ini banyak orang tua yang mengeluh karena anaknya tidak mandiri.  Segala sesuatu yang anak lakukan  meskipun itu merupakan hal yang kecil masih saja tergantung pada orang tua.  Misalnya saja dalam mengatur waktu, mengerjakan tugas rumah maupun sekolah dan sebagainya.  Orang tua yang tidak atau kurang mengerti trik membentuk kemandirian anak menjadi panik dan memilih jalan mudah, yaitu dengan memenuhi tuntutan anak atau ahkan memberikan perhatian yang berlebihan tanpa memikirkan dampaknya.
            Bicara mengenai dampak, ketidakmandirian pada anak dapat mengakibatkan anak menjadi malas, selalu tergantung pada orang lain, tidak kreatif dan sulit berinteraksi dengan lingkungan luar. Oleh karena itu, masih menurut Fatimah (2008: 146-148), kemandirian anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Orang tua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian pada anak. Berikut beberapa saran yang patut dipertimbangkan.
            Pertama adalah komunikasi.  Orang tua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Kedua yaitu kesempatan.  Orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil dan melaksanakan keputusan  sendiri serta mengatasi sendiri masalah yang dihadapi tanpa terlalu banyak campur tangan orang tua.  Ketiga adalah tanggung jawab.  Bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci menuju kemandirian yang mengajarkan anak untuk melakukan segala hal dengan hati-hati jika tidak ingin merasakan dampak negatif.  Keempat yaitu konsistensi. Konsistensi orang tua dalam menanamkan kemandirian pada anak akan menjadi panutan bagi anak  untuk dapat merancang hidupnya sendiri.
            Senada dengan Fatimah, Trisni (2009) mengemukakan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk kemadirian anak.  Pertama adalah dengan menanamkan rasa percaya diri.  Percaya diri terbentuk ketika anak diberikan kepercayaan untuk melakukan suatu hal yang ia mampu kerjakan sendiri.  Kedua adalah membentuk kebiasaan anak agar tidak selalu tergantung dan dilayani oleh orang tuanya. Ketiga adalah dengan membiasakan kedisiplinan pada anak.

7. KESIMPULAN
            Pengaruh bimbingan orang tua terhadap kemandirian anak sangatlah besar.  Hal ini dikarenakan porsi orang tua dalam berinteraksi dengan anak juga besar.  Kemandirian yang berarti kemampuan anak menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan sendiri, serta mampu  mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain, tentunya membutuhkan bimbingan dari orang tua selaku pemegang kunci kesuksesan anak kelak.
            Kemandirian pada anak  memiliki tingkat dan karakteristik tertentu yang perlu diperhatikan betul oleh orang tua.  Banyak faktor yang mempengaruhi kemandirian pada anak yang menjadikan anak itu mandiri atau tidak.  Sering kali terjadi kesalahan atau ketidakmengertian orang tua mengenai kemandirian anak sehingga masih banyak anak yang meski usianya sudah beranjak dewasa, namun belum juga memiliki sikap yang mandiri.
            Ada beberapa hal yang patut diperhatikan orang tua jika ingin mengajarkan kemandirian pada anak sejak dini yaitu dengan mepererat komunikasi dengan anak, memberikan anak kesempatan dan bertanggung jawab dalam melakukan berbagai hal, serta konsistensi orang tua dalam memberikan bimbingan.  Selain itu orang tua juga harus menanamkan rasa percaya diri, kebiasaan untuk tidak bergantung pada orang lain dan kedisiplinan pada anak.

DAFTAR PUSTAKA
Balson, Maurice. 1993. Bagaimana Menjadi Orang Tua yang Baik. Jakarta: Bumi Aksara.
Desmita. 2011. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Fatimah, Enung. 2008.  Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung:
CV Pustaka Setia.
King, Laura A. 2010. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
Sobur, Alex. 1986. Komunikasi Orang Tua dan Anak. Bandung: Angkasa.
Arbya, Nety. 2011.  “Membentuk Kemandirian Anak”. (Online) http://keluargasehat.wordpress.com. (diakses 29 Mei 2012).
Indonesia, Blogger. 2010. “Teori Tentang Bimbingan Orang Tua”. (Online) http://heruid.blogspot.com/2010/02/teori-tentang-bimbingan-orang-tua.html. (diakses 9 Juni 2012).
Simanjuntak, Lisber. 2011.  “Menanamkan Kemandirian pada Anak Sejak Usia Dini”. (Online) http://www.bpplsp-reg-1.go.id/buletin/read.php?id=74&dir=6&idStatus=0. (diakses 29 Mei 2012).
Sourie, Julak. 2012.  “Peranan Orang Tua dalam Mengembangkan Kemandirian Anak”. (Online) http://julak-net.blogspot.com/2012/04/peranan-orangtua-dalammengembangkan.html. (diakses 29 Mei 2012).
Trisni, Inda. 2009.  “Melatih Kemandirian Anak”. (Online) http://harikuakhiratku.blogspot.com/2009/07/melatih-kemandirian-anak.html. (diakses 29 Mei 2012).

FKIP JUARA UMUM REKTOR CUP 2012




MALANG – Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP-UMM)  tak pernah puas akan prestasi.  Setelah tiga tahun berturut-turut berhasil menyabet gelar juara umum ajang Rektor Cup, tahun ini pun FKIP kembali meraihnya.  Dalam ajang  paling bergengsi di kampus putih ini,  FKIP berhasil mengungguli 9 fakultas lain dengan memborong 24 emas, 25 perak dan 17 perunggu.
Dr. M. Syaifuddin, M.M, Dekan FKIP saat memberikan sambutan pada penutupan Rektor Cup (9/6) dengan bangga mengatakan “Merupakan kebanggaan bisa menjadi juara umum Rektor Cup UMM 2012 ini.  Semoga saja piala bergilir juara umum ini akan selalu ada di tangan FKIP.”
“Prestasi seperti ini rupanya masih belum cukup, FKIP terus menggali dan mengembangankan potensi untuk bisa berprestasi, bukan hanya di lingkungan kampus, atau jago kandang.  Fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak ini ternyata juga sering mengharumkan nama universitas di ajang-ajang luar baik regional, nasional dan bahkan internasional,” ujar  Pembantu Dekan III FKIP UMM, Drs. Nur Widodo  yang ditemui seusai menghadiri acara Rektor Cup cabang tari (20/5).
Dijelaskan Widodo, salah satu mahasiswa berprestasi FKIP berasal dari jurusan Bahasa Indonesia, Nurvanggit Riansyahzudhitya.  Vanggit merupakan wakil UMM dalam lomba baca puisi ke tingkat nasional (Sayebanda) yang diadakan oleh Kemenpora 2011. Selain itu ada pula Wawan Wahyudi Efendi.  Mahasiswa jurusan Biologi angkatan 2008 ini pernah meraih juara menulis karya ilmiah spesifikasi teknoprenden (interprenden teknologi) tahun 2009 dalam acara yang berlangsung di RAM IPB.
“Program ini didukung oleh LCM Amerika dan  diikuti oleh empat negara yaitu Peru, India, Amerika dan Indonesia. Lalu, 50 orang peserta program terbaik dari Indonesia langsung dikirim ke Singapura selama 1 bulan dan menjalani training. Kemudian yang terbaik diberikan penghargaan.  Wawan merupakn salah satu diantaranya,” ujar Wawan.
Sejauh ini FKIP UMM terus berjuang menjadi fakultas  berprestasi. Masih menurut Pembantu  Dekan III FKIP UMM yang mengurusi pengembangan minat dan bakat mahasiswa ini, FKIP sudah memberi sumbangan kontributif yang sangat bagus. FKIP di bidang penalaran misalnya, selalu mewakili kampus ini untuk berkompetisi di tingkat nasional.
Selama ini (timnas) UMM yang berkompetisi pada bidang seni, karya tulis, poster, dan sebagainya selalu didominasi oleh mahasiswa FKIP. Contohnya entrepreneurship di Singapura, vokal grup  ke tingkat regional dan nasional, juara 1 (Lomba Menulis Cerita Pendek) LMCR 2010-2011 dan Duta Budaya Bangsa 2011 ke Singapura.
“Prestasi mahasiswa FKIP baik di dalam maupun di luar kampus memang membanggakan. Namun untuk bisa lebih maju lagi, kita harus tidak pernah puas dengan prestasi yang telah diraih. Kita juga harus terus meningkatkannya lagi,” tandasnya.
Senada dengan mahasiswanya, dosen-dosen di FKIP pun juga tak mau ketinggalan dalam menorehkan prestasi. Seperti yang dikatakan oleh Dra. Sugiarti, salah satu dosen FKIP berprestasi sering menjadi  pemateri di seminar-seminar nasional kebahasaan  saat diwawancarai. ”Untuk itu memang ada beberapa aktivitas yang dilakukan oleh dosen, misalnya presentasi seminar pendidikan dan pengajaran baik nasional maupun internasional. Ada pula aspek penunjang  yang dilakukan oleh dosen dengan menjadi juri lomba-lomba apapun itu dan mengikuti aktivitas di dalam maupun di luar kampus sebagai peserta.”

ANALISIS KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI PUISI PADA LIMA PUISI TAUFIK ISMAIL DALAM “MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA”


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Puisi merupakan salah satu genre sastra yang makin lama makin berkembang dari waktu ke waktu, baik dari segi bentuk maupun jumlah peminatnya.  Sebagai sebuah karya sastra, puisi tentunya memiliki hakikat dan fungsi yang disebut dulce et utile. Dulce artinya menyenangkan, sedangkan utile artinya bermanfaat.  Jika menyoroti hakikat dulce, penyair berusaha sebisa mungkin menggunakan berbagai cara untuk membuat puisinya memiliki kesan yang menyenangkan.
            Salah satu cara yang digunakan penyair untuk menimbulkan kesan menyenangkan pada puisinya adalah dengan menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi.  Ketidaklangsungan ekspresi puisi ini menurut Riffaterre  (dalam Pradopo, 1997: 210) merupakan konvensi tambahan puisi bahwa puisi itu menyatakan pengertian-pengertian atau hal-hal secara tidak langsung, yaitu menyatakan sesuatu hal yang berarti lain. 
Tujuan penyair menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah untuk menyembunyikan arti sesungguhnya untuk kemudian menjadi tantangan bagi pembaca.  Bagaimana pembaca menginterpretasi dan mengapresiasi puisi yang dibacanya menjadikan puisi itu memiliki fungsi mendidik dan tentunya bisa menjadi sarana hiburan tersendiri.  Ketidaklangsungan puisi juga seperti menjadi hal yang wajib ada dalam puisi, karena hampir semua puisi menggunakan ketidaklangsungan ekspresi. 
            Setiap penyair memiliki ciri khas atau gaya sendiri-sendiri dalam menggunakan ketidaklangsungan ekspresi.  Salah satu penyair yang sering menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah Taufik Ismail.  Penyair yang banyak menulis puisi-puisi bernada sosial ini juga sudah menelurkan berbagai antologi puisi diantaranya : Tirani dan Benteng (1966) dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998). 
            Bertolak dari uraian di atas, maka dalam karya tulis ini penulis berusaha menganalisis dan mengulas ketidaklangsungan ekspresi puisi yang ada dalam puisi-puisi karya Taufik Ismail yang terangkum dalam antologi puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Alasan penulis memilih puisi-puisi karya Taufik Ismail sebagai bahan analisis adalah karena puisi-puisinya dianggap memiliki gaya bahasa dan penyampaian ekspresi yang menarik untuk dikaji. Nilai estetik yang terkandung dalam puisi-puisi Taufik Ismail juga merupakan daya tarik tersendiri baik untuk sekedar dinikmati atau bahakan juga untuk dikaji. Selain itu, nama besar Taufik Ismail sebagai sastrawan tenama di Indonesia juga mengundang perhatian penulis untuk mencoba menganalisis karya puisinya.

1.2  Rumusan masalah
            Rumusan masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini antara lain:
  1. Bagian puisi mana yang mengandung ketidaklangsungan ekspresi puisi penggantian arti (displacing) yang ada dalam puisi-puisi karya Taufik Ismail?
  2. Bagian puisi mana yang mengandung ketidaklangsungan ekspresi puisi penyimpangan arti (distorting) yang ada dalam puisi-puisi karya Taufik Ismail?
  3. Bagian puisi mana yang mengandung ketidaklangsungan ekspresi puisi penciptaan arti (creating of meaning) yang ada dalam puisi-puisi karya Taufik Ismail?

1.3  Batasan Masalah
Batasan masalah dalam suatu kajian atau analisis  sangatlah penting dalam menentukan arah tujuan penulisan.  Oleh karena itu penulis membatasi analisis dengan menggunakan pisau analisis berupa ketidaklangsungan ekspresi puisi.  Puisi yang dianalisis pun tidak merupakan keseluruhan puisi yang ada dalam antologi puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, melainkan penulis memilih hanya lima puisi untuk dianalisis.

1.4  Tujuan
            Berdasarkan pemahaman di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan karya tulis ini antara lain:
  1. Memperoleh pengetahuan mengenai pengertian dan fungsi ketidaklangsungan ekspresi puisi.
  2. Memperoleh pengetahuan mengenai cara menganalisis ketidaklangsungan ekspresi puisi.
  3. Dapat menemukan dan menginterpretasi ketidaklangsungan ekspresi puisi dalam puisi-puisi karya Taufik Ismail.
  4. Dapat menemukan letak estetik ketidaklangsungan ekspresi puisi dalam puisi-puisi karya Taufik Ismail.



BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Pengantar
Landasan teoritik digunakan sebagai landasan kerja konseptual dan teoritis.  Pada bagian ini penulis memaparkan teori-teori ilmiah yang sudah ada dan relevan dengan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya.  Landasan teori dalam analisis ini membahas mengenai ketidaklangsungan ekspresi puisi yang meliputi 1)penggantian arti (displacing), 2) penyimpangan arti (distorsing) dan 3) penciptaan arti (creating of meaning).
Menurut Teeuw (dalam Pradopo, 1995:146) analisis struktural yang digabungakan dengan analisis semiotik disebut strukturalisme dinamik.  Hal ini untuk mengatasi keterbatasan strukturalisme murni yang perspektif tinjauannya sinkronis yang tak sepenuhnya dapat menangkap relevansi eksistensial (rangka sosial-budaya) dan makna historis.
Sastra (puisi) merupakan sistem tanda (semiotik) tingkat kedua yang merupakan sistem tanda tingkat kedua setelah bahasa.  Di dalamnya terdapat konvensi sastra sendiri yang disebut sebagai konvensi tambahan (tambahan di luar konvensi bahasa).  Salah satu dari konvensi tambahan itu adalah konvensi bahasa kiasan yang menyatakan pengertian-pengertian dan hal-hal secara tidak langsung.  Konvensi tambahan dalam sastra di antaranya konvensi bahasa kiasan, persajakan, pembagian bait, persajakan, bahkan juga enjabement (perloncatan baris) dan tipografi (susunan tulisan).  Dalam hal tipografi, lebih memanfaatkan bentuk visual untuk memberi arti atau makna tambahan.  Sebenarnya baik konvensi bahasa atau konvensi tambahan sama-sama memberikan makna dalam sebuah sajak.
Ketidaklangsungan pernyataan dalam puisi itu menurut Riffaterre dalam Pradopo (1995: 210) disebabkan oleh penggantian arti (displacing), penyimpangan arti (distorsing) dan penciptaan arti (creating of meaning).



2.2  Penggantian Arti
Penggantian arti merupakan penggunaan kata yang menggantikan arti sebenarnya.   Menurut Riffaterre (dalam Pradopo. 1987: 212) dalam hal ini penggantian arti menggunakan bahasa kiasan yang berarti tidak menurut arti sesunguhnya.  Bahasa kiasan itu diantaranya menggunakan majas-majas seperti perbandingan, metafora, personifikasi, sinekdoki dan lain sebagainya.
Contohnya terdapat pada penggalan puisi Chairil Anwar “Sajak Putih” (bait kedua, baris pertama) yang berbunyi : “Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba”.  Penggalan ini menggunakan bahasa kiasan atau majas personifikasi yang mengibaratkan sepi yang sedang bernyanyi.  Di sini, sepi menyanyi bukan diartikan sebagai sepi yang menyanyi, melainkan suasana sepi yang dirasakan oleh penyair ketika malam dimana saat khusuk berdoa.

2.3  Penyimpangan Arti
Menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 1995: 148) penyimpangan arti terjadi bila dalam sajak ada ambiguitas, kontradiksi ataupun nonsense.
2.3.1  Ambiguitas
Salah satu sifat karya sastra khususnya puisi adalah polyinterpretable yang artinya menimbulkan banyak penafsiran atau makna ganda.  Contohnya: ingin kupetik seribu kupu-kupu dari hatimu.  Ini dapat diartikan bahwa penyair (aku) ingin merebut hati si (mu) yang indahnya ibarat kupu-kupu. Dapat juga diartikan bahwa penyair (aku) ingin merebut hati si (mu) namun terlalu sulit karena hati si (mu) terlalu liar, berterbangan seperti kupu-kupu yang jumlahnya seribu.
       Ambiguitas biasa digunakan oleh penyair untuk memberikan kebebasan pada pembaca untuk mengartikan sendiri makna puisinya.  Sehingga, setiap kali dibaca oleh pembaca yang berlainan, maka akan menimbulkan makna-makna baru.
2.3.2  Kontradiksi
Kontradiksi disebut juga sebagai ironi, yaitu cara penyair menyampaikan maksud secara berlawanan.  Contoh: sekilas ia tersenyum menertawai kemiskinannya. Kata tersenyum dan menertawai di sini sangat berlawanan arti dengan kata kemiskinan. Kemiskinan biasanya diibaratkan dengan sesuatu yang menyedihkan atau suram, namun penyair menggambarkannya secara kontradiktif  menggunakan kata tersenyum dan menertawai.
2.3.3  Nonsense
Nonsense adalah bentuk kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti sebab tidak terdapat dalam kosakata, misalnya penggabungan dua kata atau lebih sehingga menjadi bentuk baru.  Contoh: sepisaupi, sepisaupa.  Dapat pula berupa pengulangan suku kata dalam satu kata.  Contoh: terkekeh-kekehkekehkeh.

2.4  Penciptaan Arti                     
Penciptaan arti terjadi bila dalam ruang teks diorganisasikan untuk membuat tanda-tanda yang di kuar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak ada artinya, misalnya simitri (keseimbangan), rima, tipografi, enjabement dan sebagainya.  Contoh:
Elang yang gugur tergeletak
Elang yang tergugur terebah
Satu harapku pada anak
Ingatkan pulang pabila lelah
Dalam bait sajak itu terdapat simitri (keseimbangan) berupa persejajaran bentuk yang menimbulkan persejajaran arti: bahwa bagaimanapun hebatnya elang, sekali-kali ia gurur tergeletak dan terebah, begitu pula si anak akan lelah juga dan ingatlah akan pulang.



BAB III
METODE PENULISAN

3.1  Metode Kualitatif
Kirk dan Miller dalam Indtayanto (2010) mendefinisikan metode kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasanya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya. Karya tulis ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengamatan  pada puisi untuk kemudian dianalisis berdasarkan teori ketidaklangsungan ekspresi puisi.

3.2  Data
Data merupakan informasi atau bahan yang harus dicari dan dikumpulkan untuk menjawab permasalahan yang akan dikaji dalam suatu penulisan karya ilmiah. Data dalam karya tulis ini adalah lima buah puisi karya Taufik Ismail yang ada dalam kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

3.3  Sumber Data
Sumber data merupakan aspek yang sangat penting karena ketepatan memilih dan menentukan sumber data akan menentukan validitas data atau informasi yang disajikan. Ada pun data yang menjadi sumber dalam karya tulis ini dibagi menjadi dua yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer berasar dari buku antologi (kumpulan puisi) Malu (Aku) Jadi Orang Indoneisia karya Taufik Ismail. Sedangkan untuk sumber sekunder berasal dari buku-buku dan artikel-artikel dari internet yang memuat teori-teori yang relevan dengan pembahasan.

3.4  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan mengumpulkan bahan pustaka, membaca, memilah data, mencatat, mengidentifikasi dan memantapkan kebenaran data untuk kemudian digunakan sebagai bahan analisis.  Pengumpulan data dilakukan untuk menjaga kealamiahan data yang diperoleh. Dalam karya tulis ini, pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka yaitu dengan mengumpulkan berbagai sumber pustaka seperti kumpulan puisi Taufik Ismail Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, serta pustaka-pustaka penunjang berupa teori-teori mengenai ketidaklangsungan ekspresi puisi.

3.5  Teknik Analisis
Teknik analisis data adalah proses mengatur urutan data dengan menggolongkannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Teknik analisis data yang digunakan dalam karya tulis ini antara lain dengan identifikasi, interpretasi, analisis dan pemberian kesimpulan.




BAB IV
PEMBAHASAN

4.1  Analisis Puisi “Seratus Juta”
Puisi ini menceritakan bagaimana sengsaranya kehidupan orang-orang miskin yang tidak mempunyai pekerjaan (pengangguran) dikarenakan sempitnya lapangan pekerjaan.  Taufik mengekspresikan jiwanya melalui puisi dengan kata-kata sederhana yang mengandung ketidaklangsungan ekspresi sebagai pewarna yang memperindah karyanya.
Ketidaklangsungan ekspresi sudah dapat dilihat pada baris pertama puisi: Ummat miskin dan penganggur berdiri hari ini.  Kata berdiri mengandung penggantian arti dari hidup atau kehidupan, sedangkan hari ini menggantikan arti dari sekarang.  Di sini, digambarkan umat atau kaum miskin dan pengangguran yang hidup di masa sekarang. 
Baris kedua: Seratus juta banyaknya, tampakkah olehmu wajah mereka. Saking banyaknya umat miskin dan pengangguran yang ada, penyair mengibaratkan jumlahnya seratus juta untuk menggantikan jumlah sesungguhnya.  Kemudian penyair bertanya tampakkah olehmu wajah mereka. Maksudnya adalah dengan jumlah yang demikian banyak ini, wajah-wajah umat miskin dan pengangguran itu sampai sulit untuk dikenali satu per satu.
Baris ketiga: Di tengah mereka tak tahu aku akan berbuat apa.  Baris ini mengandung penyimpangan arti, khususnya ambiguitas.  Interpretasi pertama adalah si aku tidak tahu apa yang akan dilakukan mereka (umat miskin dan pengangguran) di tengah-tengah kehidupan.  Sedangkan interpretasi kedua adalah si aku tidak tahu harus berbuat apa ketika berada di tengah-tengah mereka (umat miskin dan pengangguran).
Ambiguitas kembali muncul pada baris keempat: Kini kutundukkan kepala, karena. Kutundukkan kepala bisa berarti si penyair sedih dan merenung, melihat keadaan seperti ini yang dianggapnya merupakan sesuatu yang luar biasa sperti yang ada pada baris kelima Ada sesuatu besar luar biasa. Namun dapat pula berarti bahwa penyair tak kuasa menahan malu karena melihat keadaan yang memprihatinkan sehingga ia hanya bisa menundukkan kepala.
Penciptaan arti tercipta dari baris kelima dan keenam: Ada sesuatu besar luar biasa/Hilang terasa dari rongga dada. Rima akhir yang dibentuk menimbulkan kesan paralel yang memberi arti baru bahwa sesuatu yang besar (masalah kemiskinan dan pengangguran) terasa hilang dari rongga dada yang sudah sesak.  Sehingga penyair merasakan kehampaan dalam batinnya.
Penciptaan arti juga terdapat dalam baris ke-7 dan ke-8: Saudaraku yang sirna nafkah, tanpa kerja berdiri di sini/Saudara kita yang sempit rezeki, terbungkuk hari ini. Persejajaran bentuk ini menimbulkan persejajaran arti: bahwa saudaraku (kaum miskin dan pengangguran) sama-sama memiliki nasib yang menyedihkan karena tidak bisa mencari nafkah dan tidak mendapatkan rezeki sehingga sekarang ini hanya bisa terbungkuk (tidak bisa berbuat apa-apa), padahal mereka harus menghidupi anak dan isteri.
Nampaknya bahasa kias selalu mengiringi isi puisi.  Penyair menggunakan majas hiperbola seperti pada baris ke-9 sampai ke-14: Di belakang mereka tegak anak dan isteri, berjuta-juta/Beratus ribu saf berjejer susunannya/Sampai ke kakilangit khatulistiwa/Tak ada lagi tempat tersedia/Di kantor, pabrik dan toko bagi mereka/Dan jadi semestalah ini sengsara. Di sini penyair melebih-lebihkan jumlah untuk menyemai kesan bahwa angka kemiskinan dan pengangguran sudah terlampau banyak dengan menggunakan kata-kata: berjuta-juta, berates ribu saf, sampai ke kaki langit, dan semesta.  Penyair ingin menlukiskan betapa banyaknya orang miskin dan pengangguran yang tidak memiliki perkerjaan karena sudah tidak ada lagi tempat yang tersedia baik di kantor, pabrik maupun toko.  Keadaan seperti ini membuat kehidupan menjadi sengsara.
Pada baris ke-14 sampai ke-16: Anak-anak tercerabut dari pendidikan/Penyakit dan obat, sejarak dengan utara dan selatan/Cicilan kredit terlantar berantakan. Tiga baris ini menggambarkan akibat dari makin banyaknya angka kemiskinan oleh adanya pengangguran. Terdapat penggantian arti menggunakan majas simile atau perbandingan sesuatu yang dianggap sama dengan hal lain yaitu pada Penyakit dan obat, sejarak dengan utara dan selatan (baris ke-15).  Maksudnya adalah bagi orang miskin yang sakit, sulit sekali untuk mendapatkan pengobatan.  Pada baris ke-15 ini juga dapat dikatakan mengandung kontradiksi, yaitu seluruh rakyat seharusnya bisa mendapatkan pengobatan dengan mudah dan murah namun kenyataannya tidak bagi orang miskin.  Pengobatan hanya untuk orang-orang yang punya uang.
Selanjutnya, pada baris ke-18 dan ke-19: Bilakah gerangan terbuka gerbang pekerjaan/Suram, suramnya langit keadaan/Nestapa, nestapanya cuaca bangsa. Kata-kata yang digarisbawahi mengandung penggantian arti.  Gerbang pekerjaan dapat berarti sebagai lapangan atau lowongan pekerjaan. Langit keadaan dan cuaca bangsa yaitu kondisi bangsa yang berubah-ubah.  Penggalan baris ini menceritakan betapa suramnya keadaan orang-orang miskin yang tidak memiliki pekerjaan karena tak ada lowongan bagi mereka.
Baris ke-21 sampai ke-23 berisi pengulangan yang menimbulkan penciptaan arti yakni untuk menekankan kembali perasaan penyair yang sudah dijelaskan seperti apa yang ada di baris ke-4 sampai ke-6.  Terakhir, penyair membuat bait baru (bait ke-2) yang berisi: Saudaraku/Kita mesti berbuat sesuatu/Betapa pun sukarnya itu. Saudaraku di sini dapat dikatakan ambigu karena dapat berarti ditujukan oleh pengarang kepada orang yang tidak termasuk golongan miskin dan pengangguran atau ditujukan kepada orang-orang miskin dan pengangguran. Intinya, penyair mengajak untuk berbuat sesuatu demi keluar dari permasalahan kemiskinan dan pengangguran meskipun hal itu sangat sulit dilakukan.

4.2  Analisis Puisi “Syair Empat Kartu di Tangan”
Syair Empat Kartu di Tangan merupakan puisi bernada ironi yang menceritakan tentang keserakahan.  Dalam puisi ini banyak sekali ditemukan ketidaklangsungan ekspresi. Hal ini sudah nampak hanya ketika membaca judul.  Empat kartu merupakan simbol yang menggantikan arti sebenarnya yaitu  empat hal rahasia yang menjadi dasar acuan atau kunci si aku (lirik) dalam menjalani hidup.
Bait pertama:  Ini bicara blak-blakan, bang/ Buka kartu tampak tampang / Sehingga semua jelas membayang / Monoloyalitas kami sebenarnya pada uang. Baris kedua pada buka kartu merupakan kiasan atau penggantian arti dari terungkapnya sebuah rahasia sehingga tampak tampang.  Maksudnya adalah terungkapnya rahasia membuat tampang (keadaan sesungguhnya) menjadi tampak.  Maka dengan terungkapnya rahasia ini, jelaslah segala yang ditutupi bahwa sesungguhnya  monoloyalitas atau yang dalam KBBI berarti kesetiaan tunggal kami ada pada uang. Apa pun yang dipikirkan kami selalu mengerucut pada yang namanya uang.
Penciptaan arti jelas terlihat pada bait pertama yang penuh dengan keseimbangan (simitri), baik dalam hal rima akhirnya, baris-baris dalam baitnya, maupun antara bait satu dengan bait lainnya.  Baris-baris dan bait-bait ini merupakan paralelisme yang tersusun rapi.  Begitu pula halnya dengan keseimbangan tipografinya.  Hal ini dapat menimbulkan penciptakan arti baru karena dari kesejajaran atau keseimbangan timbullah orkestrasi (bunyi musik) dan irama yang menyebabkan kesan liris. Makna baru yang muncul oleh kesejajaran dan keparalelan ini adalah bahwa terbukanya rahasia menyebabkan keburukan berupa monoloyalitas pada uang  yang ada di dalamnya terlihat jelas.
Pada bait kedua, baris pertama: Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara, penyair mulai menggunakan penyimpangan arti berupa nonsense yaitu ka-bukaan.  Di sini, terdapat pengulangan suku kata dalam satu kata. Selain itu, pada baris ketiga sehingga buat apa basi dan basa, penyair mempermainkan struktur kalimat dan menggunakan penggantian arti pada basi dan basaBasi dan basa menggantikan arti dari segala sesuatu yang dilakukan dengan bertele-tele atau tidak langsung merujuk pada perbuatan yang dituju. Kemudian pada baris keempat: Sila kami Keuangan yang Maha Esa. Jika diperhatikan, penyair mengadopsi kalimat dari salah satu isi pancasila (sila pertama) dengan mengganti kata ketuhanan menjadi keuangan.
Lanjut pada bait ketiga Jangan sungkan buat apa yah-payah/Analisa psikis toh cuma kuasi ilmiah/Tak usahlah sah-susah/Ideologiku begitu jelas ideologi rupiah.  Penyair kembali menggunakan penyimpangan arti nonsense pada yah-payah. Selanjutnya pada baris kedua Analisa psikis toh cuma kuasi ilmiah. Analisa psikis menggantikan arti sebenarnya yaitu tes psikologi yang biasa digunakan pada tes-tes masuk sekolah maupun tes masuk kerja.  Kuasi ilmiah mewakili arti sebenarnya sebuah prosedur dan formalitas. Ada pula ideologi rupiah yang  menggantikan arti atau makna  sebenarnya.  Ideologi merupakan dasar pemikiran atau pandangan, sedangkan rupiah adalah nama mata uang Indonesia.  Frasa ideologi rupiah berarti pandangan atau dasar pemikiran si aku (lirik) adalah uang yang dalam hal ini dapat dikaitkan dengan materi.  Si aku selalu melakukan seusatu dengan berorientasi pada materi.  Oleh karena penyair menggunakan kata rupiah yang menjadi mata uang Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa si aku merupakan orang Indonesia.
 Jadi apabila disatukan, maka pengantian arti yang digunakan penyair dalam puisi ini memiliki makna bahwa tes-tes psikologi yang dilakukan selama ini dalam menerima siswa ataupun pekerja hanya merupakan prosedur demi formalitas belaka.  Sedangkan yang menjadi pertimbangan sebenarnya hanyalah uang atau materi.  Istilahnya adalah siapa yang punya uang maka ia berkuasa.  Seseorang yang memiliki harta lebih bisa masuk sekolah atau kerja dengan uang tanpa harus bersusah payah memenuhi persyaratan.
Penggantian arti kembali muncul pada bait ke-4 (baris pertama): Begini kawan, bila dadaku jalani pembedahan. Kata yang menjadi kiasan adalah dadaku.  Dada diibaratkan sebagai tempat hati nurani, di mana seseorang menentukan pilihan setelah melalui pertimbangan pemikiran.  Baris ke-2: Setiap jeroan berjajar keliatan.  Jeroan yang mengandung arti isi perut menjadi kiasan dari segala seuatu yang ada dalam dada (hati), lalu mengalagi pembedahan.  Secara keseluruhan bait yang baris satu sama lainnya saling berkaitan, maka penggantian arti dapat lebih mudah diidentifikasi. 
Lebih dari yang telah dijabarkan di atas, selain banyaknya penggantian arti yang mendominasi puisi, terdapat pula penciptaan arti.  Penciptaan arti dapat dilihat dari simitri (keseimbangan) rima, jumlah (bait dan baris) dan tipografi. Pada rima, di setiap akhir baris dalam satu bait menggunakan rima akhir yang sama. Puisi ini juga mengandung empat bait yang masing-masing bait mengandung empat baris.  Jumlah ini sesuai dengan judulnya Syair Empat Kartu di Tangan.  Hal ini dapat menciptakan arti baru berupa penguatan bahwa si penyair benar-benar memiliki empat kartu (rahasia) yang menjadi pegangan atau pandangan dalam hidupnya.  Selain itu dapat pula dilihat dari segi tipografinya.  Keseimbangan tadi berpengaruh pada keselarasan tipografi yang tampak datar namun menciptakan arti bahwa antara empat kartu yang semuanya merujuk pada uang (materi) dan semua itu berada pada tataran yang sama dalam dasar pemikiran subjek dalam puisi.

4.3  Analisis Puisi “Miskin Desa, Miskin Kota”
            Metafora pada puisi ini sangat kental.  Penyair sering sekali mempersamakan atau membandingkan satu hal dengan hal lain. Bait pertama (baris pertama): Kakekmu di zaman Jepang kena kudis dan beri-beri.  Penyair menggunakan kata Kakekmu dipersamakan untuk menggantikan arti dari nenek moyang atau orang-orang yang hidup di zaman penjajahan Jepang.  Selanjutnya ada penyimpangan arti berupa ambiguitas pada baris kedua: Bengkak di kaki, kelaparan dan matiBengkak di kaki dapat diartikan kaki bengkak karena penyakit atau kaki bengkak yang disebabkan kerja paksa yang dialami.
            Bait ke-2: Beribu kami mengais/Beribu pula mengemis. Terdapat penggantian arti berupa hiperbola yang melebih-lebihkan jumlah, yaitu beribuMengais juga mewakili arti sebenarnya yaitu sesuatu yang sangat dibutuhkan (bisa jadi sandang, pangan dan papan) yang tidak dapat dimiliki karena jumlahnya terbatas, sehingga kami harus seolah-olah mengais untuk dapat memilikinya.  Selain mengais yang ada, kami juga mengemis untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.  Arti mengemis di sini dapat disejajarkan dengan meminta-minta.
            Bait ke-3: Keluarga kita di zaman PKI makan bulgur kuda/Panen sedesa dilindas cuaca dan hama/Bu-likmu, misanmu, semuanya mati muda. Penyair lagi-lagi menyelipkan penggantian arti di dalam puisi ini.  Keluarga menjadi kiasan dari orang-orang atau penduduk Indonesia yang hidup di zaman penjajahan Jepang.  Bulgur kuda dalam arti sebenarnya adalah makanan kuda yang berupa rumput.  Bulgur kuda mewakili arti begitu parahnya keadaan saat dulu sehingga rakyat Indonesia hanya bisa makan makanan yang tidak layak.  Keadaan seperti itu diperparah lagi dengan kegagalan panen sedesa akibat dilindas atau disebabkan oleh cuaca buruk dan merebaknya hama.
            Bait ke-5: Tahun ini lagi kita ditebas kesengsaraan/Negeri rubuh, kasau-jeriau dan pagu dapur berantakan/Sesabar-sabar makhluk makan angan-angan/Jam berdetak, angin lewat di atas tungku penjerangan/Di halaman depan menanti keranda ke kuburan.  Penyair begitu sering menggunakan penggantian arti dalam puisi ini.  Baris pertama misalnya Tahun ini lagi kita ditebas kesengsaraan. Maksud ditebas adalah dilanda.  Negeri rubuh menganalogikan keadaan negeri yang sangat buruk akibat penjajahan. Pada kasau-jeriau dan pagu dapur berantakan, dapur berarti bahwa keadaan segala yang berhubungan dengan logistik pada waktu itu benar-benar kacau.  Makan angan-angan berarti orang-orang pada zaman itu tidak bisa memakan makanan yang layak, karena makanan yang layak tidak tersedia bagi mereka.  Mereka hanya berkhayal untuk bisa memakan makanan yang layak.  Kemudia jam berdetak mewakili arti dari waktu yang terus berjalan, sedangkan angin berarti kekosongan atau ketiadaan dan  tungku penjerangan berarti tempat memasak.  Jika baris ke-4 digabungkan maka penggantian arti jadi lebih mudah dipahami, yaitu seiring berjalannya waktu namun tetap saja tidak ada yang bisa dimasak untuk di makan.  Baris terakhir, kuburan merupakan pengganti dari arti sebenarnya yaitu kematian.
            Puisi Miskin Desa, Miskin Kota ini  memiliki tipografi yang tidak beraturan dan disusun tidak rata.  Di sini muncul penciptaan arti di luar ketatabahasaan yang mendukung suasana ketidakkodusifan keadaan yang digambarkan dalam puisi sehingga menambah kesan keadaan yang kacau dengan kemiskinan yang merebak bukan hanya di desa tapi juga di desa.

4.4  Analisis Puisi “Air Kopi Menyiram Hutan”
            Puisi Air Kopi Menyiram Hutan yang bersifat naratif ini lebih banyak menggunakan kata-kata langsung  daripada kata-kata tidak langsung dalam mengekspresikan maksud penyair.  Puisi ini menceritakan bagaimana sebuah berita besar seperti kebakaran hutan dimuat dalam koran.  Berikut analisa ketidaklangsungan ekspresi yang terdapat dalam puisi Air Kopi Menyiram Hutan.
            Saat membaca judul, mungkin pembaca masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh penyair.  Namun, setelah membaca isi pembaca dapat mengerti baik sebagian maupun keseluruhan isi puisi.  Ini dikarenakan pada judul saja penyair sudah menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi.
            Tiga juta hektar/Halaman surat kabar/telah dirayapi api/Terbit pagi ini. Ketidaklangsungan ekspresi puisi (penggantian arti) di sini sangat terasa, karena jika diartikan secara langsung, kutipan puisi ini tidak masuk akal.  Tidak mungkin halaman surat kabar bisa mencapai luas tiga juta hektar.  Namun yang dimaksudkan penyair di sini adalah bahwa ada berita di dalam sebuah surat kabar atau koran yang mengabarkan bahwa telah terjadi kebakaran (dirayapi api).  Hal ini dijelaskan lagi dengan Panjang empat jari/Dua kolom tegak lurus yang mewakili arti dari seberapa panjang berita tentang kebakaran yang dimuat.
Puisi ini terdiri dari satu bait dengan jumlah baris tiga puluh satu. Puisi ini berkesan datar jika dilihat dari segi simitri dan tipografinya.  Hal ini dapat berarti bahwa kejadian yang dilukiskan dalam puisi ini memang dikesankan datar oleh penyair.  Datar dimaksudkan menciptakan arti baru  bahwa memang kejadian besar seperti kebakaran hutan yang menjadi berita besar dalam koran sering kali tidak digubris atau dipedulikan oleh pembacanya, atau dengan kata lain hanya dianggap seperti angin lalu belaka.  Ini terbukti dengan setelah kopi menumpahi koran, maka sang pemilik Koran hanya melipat Koran itu dan membuangnya tanpa memikirkan berita yang ada di koran itu. 
4.5  Analisis Puisi “Kuitansi”
            Puisi ini menceritakan tentang kebingungan si aku (lirik) dalam menentukan pilihan.  Ketidaklangsungan ekspresi puisi ditemukan pada beberapa bagian puisi seperti pada bait pertama, baris ke-2 yaitu Dua hektar luasnya yang secara tidak langsung memberikan pengertian yang ambigu. Dua hektar, jika diartikan langsung menjadi luas kuitansi dan dapat diartikan lain yaitu sebagai luas sebuah tanah yang menjadi nilai dalam kuitansi.Pada bait pertama, baris ke-4 dan ke-5: Tak tahu aku cara/menandatanganinya. Maksud dari menandatanginya secara tidak langsung mengungkapkan persetujuan.
            Pada bait ke-2: Sebuah kuitansi/Berbentuk bom waktu/Bila kuteken hari ini /Akan meledak dua dasawarsa/Dan mencencang anak cucuku/Tak tahu aku cara/Menandatanganinya.  Metafora bom waktu muncul pada baris ke-2.  Bom waktu dinyatakan seharga dengan sesuatu yang akan meledak dalam hitungan waktu. Lalu penyair menegaskan bahwa bom waktu itu akan meledak.  Sesunguhnya yang meledak bukanlah bom atom, namun yang dimaksud adalah akibat dari apabila si aku menandatangani atau menyetujui isi kuitansi itu.  Meledak bisa jadi adalah kejadian luar biasa yang akan mencencang atau menghancurkan masa depan anak cucu, yang dalam al ini mewakili arti dari keturunan si aku.
            Lanjut pada bait ke-3: Selembar kuitansi/Seluas langit/Biru jernih di atas sana/Tak tergapai/Dalam jangkauan tak sampai/Tak tahu aku cara/MenandatanganinyaSeluas langit merupakan metafora dari sesuatu yang begitu luas sehingga dinyatakan sama dengan luasnya langit. Si aku harus benar-benar mempertimbangkan keputusan untuk menyetujui atau tidak isi kuitansi yang sangat berharga dan bahkan mungkin tak tergapai.  Namun, ia masih saja bingung bagaimana menentukan pilihan (bagaimana cara menandatanganinya).
            Bait ke-4: Sebuah kuitansi/Berbentuk lipatan kain kafan/Berwarna perak berkilauan/Dengan jari bergetaran/Di bagian bawah di sudut kanan/Tandatanganku/kugoreskanKain kafan bukan diartikan sebagai kain kafan sebenarnya, namun menggantikan arti dari kematian atau sesuatu yang suram dan mengantarkan pada keberakhiran.  Perak berkilauan menggantikan arti dari sesuatu yang menggiurkan atau memukau. Jari bergetaran, maksudnya adalah kegugupan yang dialami si aku hingga akhirnya ia mengambi keputusan untuk menyetujui isi kuitansi yang diwakili oleh Di bagian bawah di sudut kanan/Tandatanganku/kugoreskan.



BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
            Ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah salah satu cara yang digunakan penyair untuk menimbulkan kesan menyenangkan pada puisinya.  Ketidaklangsungan ini dapat berupa pengantian arti, penyimpangan arti (ambiguitas, kontradiksi, nonsense) dan penciptaan arti.  Tujuan penyair menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah untuk menyembunyikan arti sesungguhnya untuk kemudian menjadi tantangan bagi pembaca. 
            Setiap penyair memiliki ciri khas atau gaya sendiri-sendiri dalam menggunakan ketidaklangsungan ekspresi dalam puisinya.  Salah satu penyair yang banyak menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah Taufik Ismail.  Dalam kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufik Ismail, penulis telah menguraikan analisis ketidaklangsungan ekspresi puisi yangterkandung di dalam lima puisi dengan masing-masing judul: Seratus Juta; Syair Empat Kartu di Tangan; Miskin Desa, Miskin Kota; Air Kopi Menyiram Koran; dan Kuitansi. Di antara ragam jenis ketidaklangsungan ekspresi puisi, dalam kelima puisi yang dianalisis, penggantian artilah yang paling banyak muncul jika dibandingkan dengan penyimpangan arti maupun penciptaan arti.

4.2  Saran
            Ketidaklangsungan ekspresi memang seperti menjadi hal yang wajib ada dalam puisi.  Hal ini bukan semata-mata untuk memberikan kesan estetik pada puisi, namun juga mengandung unsur mendidik pembaca.  Namun alangkah baiknya apabila sebagai pembaca, tidak hanya terus-menerus bentindak sebagai konsumen atau penikmat puisi karya orang lain.  Terlebih dengan seringnya membaca puisi karya-karya penyair terkenal seperti Taufik Ismail ini, setidaknya pembaca mendapat pengetahuan lebih dan dimungkinkan mendapat inspirasi untuk ikut berkarya.  Dalam berkarya nantinya, ketidaklangsungan ekspresi puisi dapat dipakai sebagai sarana menyampaikan maksud di dalam puisi secara halus, berseni dan mendidik.


DAFTAR RUJUKAN

Ismail, Taufik. 1998. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jakarta: PT Inter Masa.
Pradopo, R.D. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pradopo, R.D.  1997. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Indrayanto. 2010. “Pengertian Metode Kualitatif”. (online) http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2027031-pengertian-metode-kualitatif/. Diakses 13 Juni 2012.



LAMPIRAN
Seratus Juta
Ummat miskin dan penganggur berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya, tampakkah olehmu wajah mereka
Di tengah mereka tak tahu aku akan berbuat apa
Kini kutundukan kepala, karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hilang terasa dari rongga dada
Saudaraku yang sirna nafkah, tanpa kerja berdiri di sini
Saudara kita yang sempit rezeki, terbungkuk hari ini
Di belakang mereka tegak anak dan isteri, berjuta-juta
Beratus ribu saf berjejer susunannya
Sampai ke kakilangit khatulistiwa
Tak ada lagi tempat tersedia
Di kantor, pabrik dan toko bagi mereka
Dan jadi semestalah ini sengsara
Anak-anak tercerabut dari pendidikan
Penyakit dan obat, sejarak dengan utara dan selatan
Cicilan kredit terlantar berantakan
Bilakah gerangan terbuka gerbang pekerjaan
Suram, suramnya langit keadaan
Nestapa, nestapanya cuaca bangsa
Kini kutundukkan kepala, karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hilang terasa dari rongga dada

Saudaraku
Kita mesti berbuat sesuatu
Betapa pun sukarnya itu.
(Ismail, Taufik. 1998:5)
Syair Empat Kartu di Tangan
Ini bicara blak-blakan, bang
Buka kartu tampak tampang
Sehingga semua jelas membayang
Monoloyalitas kami sebenarnya pada uang

Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara
Koyak tampak terkubak semua
Seingga buat apa basi dan basa
Sila kami Keuangan Yang Maha Esa

Jangan sungkan buat apa yah-payah
Analisa psikis toh cuma kuasi ilmiah
Tak usahlah sah-susah
Ideologiku begitu jelas ideologi rupiah

Begini kawan, bila dadaku jalani pembedahan
Setiap jeroan berjajar keliatan
Sehingga jelas sebagai keseluruhan
Asas tunggalku memang keserakahan

(Ismail, Taufik.1998: 28)

Miskin Desa, Miskin Kota
Kakekmu di zaman Jepang kena kudis dan beri-beri
Bengkak di kaki, kelaparan dan mati
                        Beribu kami mengais
                        Beribu pula mengemis

Keluarga kita di zaman PKI makan bulgur kuda
Panen sedesa dilindas cuaca dan hama
Bu-likmu, misanmu, semuanya mati muda
                        Berpuluh ribu kami mengais
                        berpuluh ribu pula mengemis
Tahun ini lagi kita ditebas kesengsaraan
Negeri rubuh, kasau-jeriau dan pagu dapur berantakan
Sesabar-sabar makhluk makan angan-angan
Jam berdetak, angina lewat di atas tungku penjerangan
Di halaman depan menanti keranda ke kuburan
                        Tak terhitung kami mengais
                        tak terhitung pula yang mengemis

(Ismail, Taufik. 1998: 68)

Air Kopi Menyiram Hutan
Tiga juta hektar
Halaman surat kabar
Telah dirayapi api
Terbit pagi ini
Panjang empat jari
Dua kolom tegaklurus
Dibongkar dari pick-ap
Subuh dar percetakan
Ditumpuk di tepi jalan
Dibereskan agen koran
Sebelum matahari dimunculkan
Dilempar ke pekarangan
Dipungut oleh pelayan
Ditaruh di mejamakan
Ditengok secara sambilan
Dasi tengah diluruskan
Ramut isteri kekusutan
Empat anak berseliweran
Pagi penuh kesibukan
Selai di ujung tangan
Roti dalam panggangan
Ketika tangan bersilangan
Kopi tumpah di bacaan
Menyiram tigajutahektar koran
Dua kolom kepanjangan
Api padam menutup hutan
Koranbasah dilipat empat
Keranjang plastik anyaman
Tempat dia dibuangkan
Tepat pagi itu
Jam setengah delapan

(Ismail, Taufik. 1998: 134)

Kuitansi
Selembar kuitansi
Dua hektar luasnya
Terbentang di hadapanku
Tak tahu aku cara
Menandatanganinya

Sebuah kuitansi
Berbentuk bom waktu
Bila kuteken hari ini
Akan meledak dua dasawarsa
Dan mencencang anak cucuku
Tak tahu aku cara
Menandatanganinya

Selembar kuitansi
Seluas langit
Biru jernih di atas sana
Tak tergapai
Dalam jangkauan tak sampai
Tak tahu aku cara
Menandatanganinya

Sebuah kuitansi
Berbentuk lipatan kain kafan
Berwarna perak berkilauan
Dengan jari bergetaran
Di bagian bawah di sudut kanan
Tandatanganku
kugoreskan

(Ismail, Taufik. 1998: 152)