Selasa, 18 Oktober 2011

Sinopsis Novel 'Aku', Lelaki Asing dan Kota Kairo (karya Aguk Irawan MN)


Novel ini bercerita tentang seorang gadis cantik dan solehah yang kemudian dipinang oleh lelaki tampan dan juga sholeh. Mereka mengenyam pendidikan  di fakultas yang sama. Sang wanita bernama Ningrum, dan yang lelaki bernama Ahmad Syamsudin. Ahmad Syamsudin adalah alumnus terbaik dengan IP tertinggi sehingga tak salah jika ia menjadi lelaki favorit di fakultas. Rasa saling mencintai akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan.
                Pernikahan baru berjalan tiga bulan. Ahmad Syamsudin yang kemudian dipanggil ‘Mas Syam’ oleh sang istri mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Kairo, Mesir. Akhirnya, meski dengan berat hati Ningrum melepas kepergian orang yang paling dicintainya itu. Syam menjanjikan untuk menyelesaikan kuliahnya tidak lebih dari tiga tahun. Selama berpisah, mereka hanya berkomunikasi melalui telepon, atau e-mail.  Syam sering kali menelepon atau mengirimi   e-mail untuk mengungkapkan kerinduan yang mendalam kepada istrinya. Begitu pula dengan Ningrum, kerinduannnya pada suaminya tak kunjung padam. Semakin hari kerinduan yang dirasanya itu semakin menyiksa batinnya.
                Setahun berlalu, mulailah muncul kejanggalan di hati Ningrum. Syam mulai jarang menelepon atau mungkin sekedar mengirim e-mail. Puncaknya ialah saat Syam melupakan hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Padahal Ningrum begitu mengharapkan kata-kata romantis yang biasa diungkapkan suami tercintanya itu. Syam berdalih bahwa dirinya disibukkan oleh jadwal kuliah yang padat dan Ningrum pun mempercayainya sebagai bukti cintanya.
                Ketika Syam menelepon, ia banyak bercerita tentang seorang gadis yang menurutnya sangat mirip dengan Ningrum. Bahkan cerita itu sering diulang-ulang setiap kali ia menelepon. Tak ayal Ningrum pun dilanda kecemburuan yang luar biasa, terutama saat Syam mengatakan bahwa dirinya mengagumi gadis itu meski ia hanya menganggapnya sebagai teman. Lebih-lebih ketika ibunya bercerita bahwa ternyata ayahnya mempunyai tiga istri simpanan di kota-kota yang berbeda. Belum lagi kakak laki-lakinya yang bercerita bahwa dirinya menduakan kekasihnya. Terang saja hal ini membuat Ningrum semakin was-was. Ia takut kalau ternyata semua laki-laki itu sama. Namun ia tetap yakin suaminya tidak akan begitu.
                Sampai suatu ketika ia mendapat telepon dari Kairo. Tapi kali ini bukan dari Syam melainkan dari utusan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) yang mengatakan bahwa sang suami telah tewas dalam kecelakaan kapal laut saat sedang mengikuti liburan. Hati Ningrum hancur berkeping-keping. Ia segera menyusul Syam  ke Kairo untuk melihat jenazahnya untuk yang terakhir kalinya. Namun, disaat ia berada di penginapan tempat Syam tinggal, ia mendapatkan sepucuk surat bersampul merah jambu yang dibuat oleh Syam yang ditujukan kepada teman wanitanya yang sering diceritakannya. Di surat itu Syam sangat memuja wanita yang bernama Laila.
                Suatu saat, secara tidak sengaja Ningrum bertemu dengan Laila. Ia mengatakan bahwa  Syam adalah suaminya. Ia juga memperlihatkan surat nikah mereka kepada Laila. Namun betapa terkejutnya ia setelah mendengar penjelasan dari Laila bahwa  Syam ternyata juga adalah suami Laila dan mengaku belum beristri sebelum menikahinya. Syam juga mengatakan bahwa dia mempunyai seorang adik perempuan yang sangat mirip wajahnya dengan Laila. Ningrum tak menyangka jika suaminya tak sebaik yang dia kira. padahal setiap saat suaminya berpesan kepadanya agar “selalu menjaga cinta dan kesetiaan”, namun suaminya sendiri yang akhirnya melanggar janji tersebut.
                Novel ini berkisah tentang kehidupan seorang perempuan yang penuh penantian. Nyaris seluruh halaman dalam novel ini berupa kisah penantian sang istri yang ditinggal suami. Sayangnya penantian panjang yang memakan berhalaman-halaman novel ini akhirnya membuat kita  kecewa pada akhir cerita. Bukan karena ceritanya jelek atau  pengarangnya yang ngawur. Tapi karena pada akhir cerita ternyata laki-laki yang dipuja oleh si tokoh utama  mengingkari kesetiaannya.

Memahami Puisi "Ada yang Mengiris Luka" Karya Eko Suryadi WS


ADA YANG MENGIRIS LUKA
kepada AM

Karya : Eko Suryadi WS

ada yang mengiris luka malam ini
karena buih yang menyimpan dendam
telah terkapar mati
air yang tersumbat tiba-tiba mengalir

yang mengiris luka malam ini
adalah kamu
dalam diam yang apa pun maknanya

mendekap doaku yang tercecer
batu hitam mendelik tertawakan
langit biru ungu tergelincir di ujung bukit
lelaki muda mengalungkan asap di leher

sementara tidur telah bangkit di cakrawala
matahari esok masi akan berjalan di atas garisnya sendiri
kau lihat; ladang bulan mengulum batu nisan kepunyaanku
karena malam ini segalanya telah kupesan

malam ini telah merambat sandaran jarum jam bisu
dalam mimpi memagut segala kesempatan
pintaku;
beri aku bunga kecil
sesaat nanti aku terbujur kaku
dingin menatap daun-daun kering

Memahami isi puisi :

1. Judul
            Pengarang memberikan judul "Ada yang Mengiris Luka". Kata 'Luka' di sini dapat diartikan sebagai sebuah kesedihan atau rasa sakit hati. Kemudian di awal kalimat judul ditulis 'Ada yang' sebagai subjek aktif, dalam hal ini yang melakukan (mengiris luka). Di sini pengarang memberikan judul yang merangkum isi dari puisi yang ditulisnya, yakni menceritakan ada seseorang atau orang lain yang mengiris (menyakiti) si pengarang yang sebelumnya sudah terluka (tersakiti).
Setelah judul, pengarang menuliskan "Kepada AM". Ini dapat diartikan bahwa pengarang menuliskan puisi yang ditujukan kepada seseorang yang ia beri inisial "AM". Entah apakah orang yang berinisial "AM" ini lah yang telah menyakiti si pengarang sehingga pengarang menjadikannya sebagai subjek dalam puisinya untuk menyindir, atau pengarang sekadar menulis puisi sebagai persembahan untuk si "AM".

2. Bait Pertama
²  ada yang mengiris luka malam ini
ada yang mengiris (sebuah) luka (pada) malam (hari) ini
Pada malam hari ini ada seseorang yang mengiris luka. Maksudnya ada seseorang yang menyakiti hati pengarang yang sebelumnya sudah sakit.
²   karena buih yang menyimpan dendam
telah terkapar mati
karena buih yang menyimpan dendam
Pengarang menyimpan dendam seperti banyaknya buih.
(namun) telah terkapar mati
Meskipun ia menyimpan dendam, namun dendam itu telah pupus atau tidak bisa lagi ia kobarkan karena hati yang sebelumnya sakit, kembali disakiti sehingga seolah-olah mati.
²  air yang tersumbat tiba-tiba mengalir
Air mata yang tersumbat (jarang menangis) tiba-tiba mengalir karena sedih.

3. Bait kedua
²  yang mengiris luka malam ini
adalah kamu
yang mengiris luka (pada) malam (hari) ini
adalah kamu
Pengarang menunjuk pada 'kamu' sebagai orang yang menyakitinya pada malam ini.
²  dalam diam yang apa pun maknanya
'Kamu' yang menyakiti hati dengan diam, yang sebenarnya 'aku' atau pengarang tidak mengerti makna apa yang sebenarnya ada dibalik diam itu.

4. Bait ketiga
²  mendekap doaku yang tercecer
(aku hanya bisa) mendekap doaku yang tercecer
'Aku' atau si pengarang hanya bisa banyak berdoa seolah-olah doanya berceceran.
²  batu hitam mendelik tertawakan
(biar pun) batu hitam mendelik (men)tertawakan (aku)
Tidak peduli meski pun batu hitam (perumpamaan apa pun yang dianggap tidak penting) mendelik dan mentertawakan kesedihan si pengarang.
²  langit biru ungu tergelincir di ujung bukit
(dan) langit (yang berwarna) biru dan ungu tergelincir di ujung bukit
Langit yang berwarna biru dan ungu berubah jadi jingga (senja) dapat diartikan usia yang sudah mulai tua.
²  lelaki muda mengalungkan asap di leher
(juga biar pun aku nampak seperti) lelaki muda yang mengalungkan asap di leher(nya)
Pengarang seperti lelaki muda yang mengalungkan asap (dilihat seperti mengeluarkan aura kesedihan) di lehernya (pada penampilannya)

5. Bait keempat
²  sementara tidur telah bangkit di cakrawala
Sudah cukup kesedihan yang dialami pengarang. Maka ia bangkit dari tidur (dari kediamannya akan rasa sakit dan sedih yang dirasa) di cakrawala (di perbatasan keinginan hatinya antara ingin tetap meratapi kesedihan atau memilih bangkit).
²  matahari esok masih akan berjalan di atas garisnya sendiri
Pengarang menyadari bahwa waktu pasti akan terus berjalan konstan tanpa bisa berhenti.
²  kau lihat; ladang bulan mengulum batu nisan kepunyaanku
Pengarang menunjukkan kepada 'kau' bahwa 'ladang bulan' yang berarti cahaya yang terang benderang (melambangkan harapan yang terbuka lebar) 'mengulum batu nisan kepunyaannku' (harapan yang memberikan semangat pada hati si pengarang yang seolah mati).
²  karena malam ini segalanya telah kupesan
Pada malam dimana si pengarang disakiti atau terluka hatinya, ia tetap mencari segala cara untuk mengobati rasa sakit hatinya.

6. Bait kelima
²  malam ini telah merambat sandaran jarum jam usia
(tapi pada) malam ini telah merambat sandaran jarum jam (yang membatasi) usia
Usia si pengarang yang sudah beranjak tua dan merasa bahwa usianya sudah tidak akan lama lagi.
²  dalam mimpi memagut segala kesempatan
dalam mimpi (yang) memagut segala kesempatan
Usianya pengarang yang mungkin hanya bisa digunakan untuk berangan-angan tanpa bisa memperoleh kesempatan untuk bangkit dari kesedihan.
²  pintaku
Pengarang meminta
²  beri aku bunga kecil
Pengarang meminta untuk diberi 'bunga kecil' yaitu kenang-kenangan atau sebuah penghargaan kecil setidaknya untuk menghibur dirinya yang telah berusaha menghapus kesedihannya.
²  sesaat nanti aku terbujur kaku
(apabila) sesaat nanti aku terbujur kaku
Apabila suatu saat nanti 'aku' atau si pengarang meninggal dunia
²  dingin menatap daun-daun kering
Pengarang merasa 'dingin' (sendirian juga kesepian) dan hanya bisa menatap daun-daun kering (tak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa meratapi harapan-harapan yang tidak bisa tercapai)


Rangkuman pemahaman isi puisi :
Si 'aku' atau pengarang merasa bahwa hatinya yang sudah terluka atau sedih disakiti oleh 'kau' atau orang lain. Pengarang menyimpan dendam di dalam hatinya, namun dendamnya itu hanya bisa disimpan dalam hati dikarenakan hatinya terlalu sakit dan seolah mati dalam kesedihan. Ia pun menangis.
Pengarang hanya bisa berdoa meski pun banyak yang mentertawakannya dan meski pun usianya sudah beranjak tua. Ia menyadari bahwa waktu akan terus berjalan. Maka ia mulai membuat harapan-harapan untuk bisa keluar dari kesedihannya. Namun di sisi lain ia juga merasa bahwa harapan-harapannya itu tidak bisa tercapai karena ia berada di batas usia. Ia takut kalau-kalau harapannya tidak kesampaian karena ia meninggal dunia (mati). Tapi di sini pengarang meminta kenang-kenangan kecil sebagai penghargaan kepada dirinya yang meski pun berada dalam kesedihan namun tetap memiliki harapan.

Komentar :
Puisi "Ada yang Mengiris Luka" ini menggunakan kata dan kalimat yang tidak begitu sulit dipahami meski pun ada beberapa di antaranya yang ambigu atau mempunyai makna ganda atau lebih. Ide yang disampaikan pengarang ini adalah mengenai perjuangannya bangkit dari kesedihan meski pun pada akhirnya ia tidak bisa keluar dari kesedihan itu.
Bahasa yang dipakai pengarang pun cukup indah. Dari awal judul saja sudah menarik pembaca untuk membaca dan mengikuti alur cerita dalam puisinya. Ketika pembaca menyelesaikan membaca, maka suasana kesedihan akan terbawa.
Gabungan kata dalam puisi ini pun menarik sehingga menimbulkan kesan yang indah. Misalnya seperti 'mengiris luka', 'doaku yang tercecer', 'mengalungkan asap', dan lain sebagainya.
Meski pun puisi ini berbicara tentang luka bahkan kematian, namun pada akhir puisi pengarang menyampainkannya dengan perasaan lega. Kalau si pengarang menyebutkan tentang kematian, maka di sini kematian itu bukanlah sesuatu serba mengerikan. Tapi kematian sebagai bagian dari kesadaran hidup. Bahwa hidup tak akan berwarna tanpa adanya harapan. Sesakit apa pun hidup, kita harus selalu memiliki harapan sebagai penyemangat. Masalah harapan itu tercapai atau tidak, itu adalah urusan Tuhan.

Selasa, 24 Mei 2011

FLS2N Surabaya 2010


Meskipun hampir setahun sudah berlalu. Tapi itu tidak menyurutkan niatku untuk menulis pengalamanku dan teman-teman kontingen Kal-Sel selama mengikuti kegiatan FLS2N [Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional] 14-19 Juni 2010 di Surabaya.

            Berawal dari surat yang datang dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan tanggal 7 April 2010. Pagi itu Pak Abdurrahman El-Husaini yaitu guru Bahasa Inggris SMAN 1 Martapura sekaligus pembina Sanggar Sastra Sekolah memberitahukan ku perihal surat itu. ”Wahhhh........”. Bukan main terkejutnya aku ketika menerima surat yang menerangkan bahwa namaku diikutkan dalam perlombaan tingkat nasional. 


Ada 18 Nama siswa SMA yang masuk, antara lain :
  • Muhammad Alfiannoor Rizki dari SMAN 3 Banjarmasin untuk kategori Cipta dan Baca Puisi [Putera]
  • Evira Nida Maulida dari SMAN 1 Martapura untuk kategori Cipta dan Baca Puisi [Puteri]
  • Muhammad Kusnandar Pamungkas dari SMAN 1 Banjarbaru untuk kategori Menyanyi Solo [Putera]
  •  Rizkiah Akbariliana Putri dari SMAN 1 Banjarmasin untuk kategori Menyanyi Solo [Puteri]
  • Masduki dari SMAN 1 Kelumpang selatan Kotabaru untuk kategori Membaca Qur’an [Putera]
  • Nurlaila Susanti dari SMAN 1 Kandangan untuk ketegori Membaca Qur’an [Puteri]
  • Rosemarie Nurmalasari K. dari SMAN 2 Banjarmasin untuk kategori Gambar Poster
  • Putra Alan L. dari SMAN Loksado untuk kategori Seni Kriya
  • Wildan Eko Prasetyo dari SMAN 6 Banjarmasin untuk kategori Tari Kreasi Berapasangan
  • Vinya Sintami Putri dari SMAN 6 Banjarmasin untuk kategori Tari Kreasi Berapasangan
  • Evan Kristianus dari SMAN 1 Banjarmasin untuk kategori Drama Singkat/Fragmen
  • Erika Putri dari SMAN 1 Banjarmasin untuk kategori Drama Singkat/Fragmen
  • Diehana Sari dari SMAN 1 Banjarmasin untuk kategori Drama Singkat/Fragmen
  • Fitria Kamelia dari SMAN 1 Banjarmasin untuk kategori Band [sebagai vocalis]
  • Fariz Baihaqi dari SMAN 1 Banjarmasin untuk kategori Band [sebagai drummer]
  • Galih Rizki K.U. dari SMAN 1 Banjarmasin untuk kategori Band [sebagai keyboardist]
  • Romadoni Sofwan Rizko dari SMAN 1 Banjarmasin untuk kategori Band [sebagai gitaris]
Sejak saat itu aku mulai giat berlatih. Ada rasa tak percaya dan juga was-was memang, tapi aku tetap percaya diri. Sebulan berlalu. Aku mulai gelisah karena tidak ada pemberitahuan lanjutan mengenai lomba dari Dinas Pendidikan. Dalam hati aku bertanya-tanya, “wah, jangan-jangan aku tidak jadi diikutkan lomba”.  Tapi tak berlangsung lama ada lagi surat yang datang. Kali ini dari Kementrian Pendidikan Nasional, tepatnya tanggal 10 Mei 2010. Suratnya berisi kepastian ku sebagai peserta dan berbagai persyaratan lomba. Terang saja aku lega.

Waktuku tinggal kurang dari 5 minggu lagi untuk mempersiapkan diri untuk lomba. Padahal aku juga harus mempersiapkan ulangan akhir semester menjelang kenaikan kelas. Hmmm...... kupikir justru ini tantangannya. Lagi pula aku dapat banyak dukungan dari orang tua, teman-teman, guru-guru dan keluargaku. Terlebih dari dari Pak Abdurrahman. Beliau banyak sekali memberiku masukan-masukan yang kuingat betul. Tiap kali bertemu di sekolah, beliau selalu menasihatiku dan memberikanku motivasi.

Akhirnya Juni datang juga. Setelah semua ulangan kuselesaikan, pikuranku hanya terfokus pada lomba. Berikut waktu-waktu tak terlupakan itu :


13 Juni 2010
Semua peserta FLS2N entah itu SD, SMP, SMA dan SMK berkumpul di SLBC Liang Anggang untuk acara pelepasan peserta. Dengan mobil aku diantar oleh keluargaku [mobilnya sesak soalnya banyak yang nganter.....hehehe   ^.^].  Di sana kulihat banyak wajah-wajah asing yang menurutku kurang bersahabat alias wajah yang penuh dengan persaingan. Wahhhhhhh

Setelah acara pelepasan, para peserta tingkat SMA dikumpulkan untuk diberi pengarahan oleh salah satu pembina yaitu Bapak Gusnanda S.Pd, MM dari Dinas Pendidikan Provinsi mengenai keberangkatan kami besok.

Malam mulai larut, kami semua diharuskan beristirahat di kamar masing-masing yangtelah disiapkan panitia. Saat aku beranjak naik tangga untuk menuju kamar, salah seorang peserta mencegatku.
”Kamu Evira?”, tanyanya.
”Iya. Kenapa?”, aku balik bertanya.
Ternyata dia adalah M. Alfiannoor Rizki atau yang biasa dipanggil Alfi [peserta cipta dan baca puisi putera]. Alfi meminta nomor handphone ku. Katanya untuk kalau saja ada sesuatu yang penting. Hmmm..... aku senang karena dia orang pertama yang kukenal. Sesampainya di kamar ternyata aku sendirian karena peserta yang harusnya sekamar denganku tidak ikut menginap [dia memilih pulang]. Huuuuuhhh ya sudahlah, untung aku bukan orang yang penakut lagi pula kamarnya cukup nyaman. HHHehehhee


14 Juni 2010
            `Meski tidurku tidak begitu nyenyak, hari ini aku merasa siap untuk berangkat. Setelah bangun, mandi dan sholat, aku bersiap untuk sarapan. Ponselku berbunyi, ternyata Alfi mengirim pesan untukku. Katanya ayo latihan dan sarapan. Oke, aku segera turun dan menemuinya. Kami sarapan lalu sedikit latihan. Sebenarnya aku tidak suka latihan keras karena itu kebiasaanku setiap menjelang lomba. Tapi tak apalah.

Awalnya kukira kami menuju bandara dengan diantar bis atau mobil. Eih ternyata naik angkot ijo. Wahhhhh...................
 suasana pagi di SLBC menjelang keberangkatan


Pesawat kena delay, kami malah berangkat sekitas jam 1 siang. Sambil menunggu kebanyakan dari kami malah berfoto ria hhhaaaa................



Bandara Syamsudin Noor


siap-siap terbang neeeeee

              Setelah menempuh perjalanan melintasi lautan luas untuk menyebrangi pulau. Akhirnya kami sampai juga di Bandara Juanda di Sidoarjo Jawa Timur. Dengan bis, kami segera menuju Asrama Haji Embarkasi Surabaya untuk menginap di sana. Sesampainya di Asrama Haji, kami berbagi kamar. Satu kamar dihuni oleh empat orang. Kalau aku sih terserah saja dengan siapa, yang penting bisa tidur. Akhirnya ditentukan kalau aku dapat kamar 113 di Hall C2 bersama Susan, Vinya dan Putri [lihat nomor kamarnya hhhaaaa jangan berpikir yang tidak-tidak alias serem yaaaaa]. Sekamar dengan mereka ternyata menyenangkan. Mereka begitu bersahabat.

 hebonya kamar 113


15 Juni 2010
            Hari ini dikhususkan untuk acara pembukaan FLS2N di Jatim Expo yang diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur. Ada banyak penampilan menarik di atas panggung yang cukup megah. Kami berangkat dengan bis yang sudah disediakan panitia. Ternyata kami satu bis dengan rombongan dari Provinsi Riau dan Banten.  Hmmmm....... baru kali ini aku baik bis yang dikawal ketat oleh polisi. Maksudnya biar jalannya lancar tanpa harus berjejalan dengan kendaraan lain dan bisa cepat sampai ke gedung [baru kali ini nerobos banyak lampu merah tapi malah dianjurkan. Hhhaaaa berasa pejabat euyh] 


 serunya suasana dalam bis


 sambutan oleh Gubernur Jawa Timur

 Panggung utama

FLS2N kontingen Kalsel setelah acara

Sore harinya semua peserta diharuskan mengikuti tecnical meeting untuk masing-masing cabang lomba. Aku dan Alfi berangkat bersama karena cabang lomba kami sama. Di sana kulihat banyak wajah-wajah baru dari seluruh provinsi di Indonesia. Sebelum acara dimulai aku sempat berkenalan dengan peserta dari Provinsi Jawa Barat yaitu Irma, dari Provinsi Sumatera Barat yaitu Irsyad dan Nadya, dan dari provinsi lainnya [lupa saya hhaaa].

            Tecnical meeting kali ini dihadiri langsung oleh dewan juri antara lain Dra. Puji Isdriani, Drs. Ahmadun Yosi Herfanda SH, dan Sunu Wasono M,Hum yang bertindak sebagai pembicara.  Ada beberapa hal yang mereka sampaikan mengenai lomba. Sore itu juga diadakan pencabutan nomor tampil dan aku mendapat nomor 24 [sama dengan tanggal lahirku].  Aku harus siap apa pun yang terjadi.

 Juri sedang memberi pengarahan untuk peserta lomba cipta dan baca puisi

16 Juni 2010
            Seluruh peserta sibuk mempersiapkan diri untuk berlomba hari ini. Banyak sekali yang memakai pakaian adat demi menunjang penampilan mereka. Semuanya bersiap menuju bis-bis yang sudah disiapkan panitia untuk menuju ke tempat-lomba.

            Untuk hari ini, paserta lomba cipta dan baca puisi hanya memakai pakaian bebas karena jadwalnya hanya untuk cipta saja. Lagi-lagi aku dapat teman baru yang berasal dari Provinsi Sulawesi Barat, namanya Erika dan wahyudin. Ada pula dari Provinsi Nusa Tenggara Timur [aku lupa namanya,,, duh maaf yaaa].

 di dalam bis menuju tempat lomba

                       Awalnya cukup gugup karena baru kali ini aku menjadi peserta di ajang nasional. Tak lama menunggu akhirnya juri mengumumkan tema untuk puisi. Temanya antara lain tentang kehidupan sosial dan persahabatan. Aku labih memilih tema kehidupan sosial karena menrutku menciptakan puisi dari tema itu relatif lebih mudah dibuat dan dibacakan nanti. Hhmmm........ Tugasku sudah selesai hari ini. Tinggal mempersiapkan diri untuk besok.

foto bersama peserta dari provinsi lain dan dewan juri

Saat sudah selesai aku mesih belum bisa pulang. Karena harus menunggu teman-teman satu kontingen dulu. Dari pada sendirian, aku memilih untuk berjalan-jalan di sekitar halaman SMAN 1 dan SMAN 2 Surabaya tempat kami berlomba. Sesekali aku menonton berlangsungnya lomba menyanyi solo. Wahhh........ suara mereka nggak kalah bagus sama kontestas Indonesian Idol lho...... Maklum, mereka semua ini kan orang-orang pilihan.

Rosemarie (oci) sedang berjuang untuk lomba poster

Hana sedang menghayati peran dalam lomba drama singkat

Festival Band (penampilan kontingen Kalsel)

ngumpul rame-rame seusai lomba

            Tak kusangka aku berada di sini sampai malam. Menunggu giliran Pamungkas atau yang biasa dipanggil Ipunk untuk menyanyi. Keren juga suaranya.

            Malam hari aku kelelahan. Sekitar pukul 10 malam kami baru pulang ke asrama haji. Di bis pulang aku duduk bersebelahan dengan Alan. Dia anak yang lucu menurutku. Meski dia tinggal di daerah yang jauh dari kota alias agak terpencil tapi jadwal terbangnya padat. Alan bercerita padaku bahwa ini ketiga kalinya ia pergi ke Jawa untuk mengikuti lomba. Sebelum ke Surabaya ia pernah mengikuti lomba di Jakarta dan Yogyakarta. Hebat yaaaaaa.

17 Juni 2010
            Ini hari yang menentukan menurutku. Hari ini saatnya lomba membacakan puisi yang ditulis kemarin. Aku bangun pagi-pagi sekali. Setelah shalat subuh aku langsung mengebakan make-up untuk lomba nanti. Belum selesai, ternyata kami semua harus segera keluar untuk berfoto bersama satu kontingen dengan mengenakan seragam sasirangan khas Kalimantan Selatan.





Oci, Vinya, Evira, Putri dan Susan

            Hah! Aku terlambat. Waduh kacaulah. Aku belum sempat dandan untuk pakaian adat yang harus segera kukenakan. Untung saja ada Bu Ida [pendamping kontingen] dan Kak wardi yang membantuku. Mereka menenangkanku yang panik karena bis untuk peserta lomba puisi sudah berangkat. Tapi tak apa, karena ternyata aku masih sempat berangkat dengan bis lain.

            Ini kali kedua aku datang ke SMAN 2 Surabaya. Suasana di halaman begitu riuh oleh peserta dan penonton lomba tari kreasi berpasangan. Aku, Alfi dan Evan yang membantu membawa tasku segera memasuki aula yang berada di lantai dua.  Saat sampai ternyata peserta yang tampil baru beberapa orang. Hhhhh........lega rasanya.







                 Kulihat sekitar. Wah....... banyak juga yang mengenakan pakaian adat daerah. Namun ada pula yan mengenakan seragam sekolah dan pakaian lainnya [menyesuaikan dengan isi puisinya]. Melihat penampilan mereka aku jadi merasa kecil. Sungguh menurutku hampir tidak ada yang biasa-biasa saja. Semuanya luar biasa. Tapi ini tak menyurutkan nyaliku. Aku tampil semaksimal mungkin. 

 penampilan M. Alfiannoor Rizki

peserta puteri dari kalimantan timur

yang ini penampilanku (hehehehe)


Wildan dan Vinya saat beraksi di panggung




Pak Nanda, Vinya, Wildan dan Bu Ida berfoto usai lomba

Aku (Evira) dan Alfi... Haha berasa Nanang Galung euyh


Sekitar pukul 2 siang lomba berakhir. Kami pun beranjak. Saat berkumpul dengan teman-teman dan para pendamping, kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke Tunjungan Plaza dengan taksi Blue Bird [akhirnya ada juga sesi jalan-jalannya. Asyik.....]. Sayangnya aku lupa membawa baju ganti, jadi ya aku hanya memakai sasirangan yang kubawa [ini sasirangan ku yang lain alias bukan seragam].

            Kami berenam [aku, Oci, Evan, Alfi, Bu Ida dan Pak Nanda] akhirnya sampai juga. Aku, Oci dan Bu Ida berjalan berlainan dengan Evan, Alfi dan Pak Nanda. Maklum, selera jalan-jalan kami berbeda. Hhaahaa  

            Di sana aku sempat membeli kaos dan jaket untuk oleh-oleh. Yaahhh sedikit saa karena aku belum dapat honor [waahhhhhhhh]. Saat menemani Bu Ida ke toko sepatu, kami bertemu dengan orang asing asal afrika yang ternyata seorang pilot sedang berbelana juga. Mereka sangat ramah pada kami. Meski bahasa inggris kami masih belepotan, tapu mereka ternyata mengerti apa yang kami bicarakan dan tanyakan.

Mall Tunjungan Plaza

Foto bersama bule Afrika,.




18 Juni 2010
            Hari ini saatnya pengumuman pemenang. Aku tak segugup saat akan lomba. Kali ini aku pasrah apa pun yang terjadi. Teman-teman yang lain pun begitu.

 suasana menjelang pengumuman

            Acara pengumuman dimuali dengan tilawah dan berbagai sambutan. Tapi yang menarik di sini adalah pembacaan puisi oleh peserta putera asal Riau, Barozi. Sungguh mengagumkan. Padahal kemarin aku sudah melihatnya. Tapi penampilannya kali ini membuatku mengaguminya.

            Sampailah di acara puncak yaitu pengumuman. Alan teman kami keluar sebagai juara IV lomba seni kriya. Sedang aku hanya masuk nominasi 10 besar [peringkat VI] lomba cipta dan baca puisi. Sedikit kecewa memang, tapi aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk puas apa pun hasilnya.


yang ini fotonya Alan







           Acara selajutnya setelah pengumuman adalah jalan-jalan ke Jembatan Suramadu. Namun, teman-teman kontingenku lebih memilih punya acara sendiri. Ya sudah, aku ikut saja. Lagi-lagi aku diajak de Tunjungan Plaza. Mmmmm..... Oke saja lah.

            Ternyata dasar naluri belanja. Kami nangkring di mall sampai malam. Padahal malam ini ada acara penutupan di Jatim Expo. Tak apa lah. Paling-paling acaranya mirip-mirip dengan pembukaan.

             Malam hari setelah belanja, saatnya ngambil honor. Heheheeee ini ada waktu yang ditunggu-tunggu setelah menelan sedikit kecewa setelah pengumuman tadi siang. Tidak disangka, ada teman-teman dari papua yang sedang berpakaian ala daerahnya. Yaaaah sekalian deh ikutan foto.



19 Juni 2010
            This time to back home.................. Pagi hari kami bersiap mengepak barang-barang dan oleh-oleh yang sebenarnya sudah disiapkan tadi malam [takut ada yang ketinggalan]. 

 selesai packing
                                             
            Sebelum pulang kami sempat berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Huhuhuhu…… kita akan berpisah kawan-kawan. I love you all…………………….

 pamer sertifikat neeee

Masduki, Evira, Susan, Oci dan Alfi




 Bandara Juanda
            Semoga catatan pengalamanku ini bisa diambil hikmahnya dan menjadi inspirasi bagi semua untuk terus berprestasi dan jangan pernah puas dengan apa yang sudah kita raih. Semangat!!!!!!!!!!!!!!