Kamis, 17 Mei 2012

ANALISIS PUISI “MEMBACA TANDA-TANDA” KARYA TAUFIK ISMAIL


Membaca Tanda-tanda
(Taufik Ismail)
                                                                                    
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas
tapi kita kini mulai merindukannya

Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu
Allah
Ampunilah dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
akan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kami mulai merindukannya


Analisis Puisi “Membaca Tanda-tanda” Melalui Aspek Semantik Puisi
            Semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang makna.  Dalam menganalisis puisi melalui aspek semantik, ada empat hal yang perlu dikaji yaitu makna, bahasa kiasan, imaji (citraan) dan simbol.
2.1.1  Makna
Memahami dan mengkaji sebuah puisi tidaklah mudah, terlebih lagi sekarang puisi makin komlpeks dan aneh.  Selain itu, bahasa puisi biasanya menyimpang dari tata bahasa normatif, sehingga pembaca mengalami kesulitan untuk memahami puisi tersebut. 
Puisi adalah sebuah karya sastra yang baru mempunyai makna bila diberi makna oleh pembacanya.  Pemaknaan sering juga disebut interpretasi.  Pemberian makna atau interpretasi sebuah karya sastra, dalam hal ini tergantung pada kemampuan pembacanya di bidang bahasa, selain itu dibutuhkan kemampuan tentang konvensi sastra dan budaya tertentu.  Pemaknaan sebuah puisi antara satu pembaca dengan pembaca yang lain berbeda-beda karena karya sastra termasuk puisi memiliki sifat polyinterpretable atau multi tafsir.  Begitu pula dalam analisis penulis mengenai makna dalam puisi Membaca Tanda-tanda karya Taufik Ismail dalam makalah ini, mungkin akan berbeda dengan pemaknaan yang diberikan orang lain.
Puisi Membaca Tanda-tanda memiliki makna bahwa Taufik Ismail selaku penciptanya mengajak pembaca untuk dapat membaca gejala-gejala alam yang terjadi di sekitar kita.  Pembaca diajak untuk peka terhadap perubahan alam yang semakin lama semakin memprihatinkan keadannya.  Alam yang dulunya asri, indah dan nyaman, kini terusik dengan kerusakan akibat tangan-tangan manusia yang banyak merusak lingkungan. 
Taufik dalam puisi ini mencurahkan perasaannya yang merindukan lingkungan yang alami dan murni.  Ia sangat menyesalkan apa yang terjadi saat ini.  Sudah banyak gejala alam yang memperingatkan manusia untuk sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.  Namun dengan banyaknya gejala alam ini Taufik masih mempertanyakan apakah kita (manusia) bisa membaca gejala-gejala perubahan pada alam.
2.1.2  Bahasa Kiasan
Dalam karya sastra seperti puisi, untuk menimbulkan efek estetik atau efek kepuitisannya maka digunakanlah gaya bahasa.  Selain itu tujuan penyair menggunakan gaya bahasa dalam puisinya antara lain untuk menghasilkan kesenangan yang bersifat imajinatif, menghasilkan makna tambahan, agar dapat menambah konkrit sikap dan perasaan penyair dan agar makna yang diungkapkan lebih padat. 
Salah satu gaya bahasa yang sering digunakan dalam menulis puisi adalah bahasa kiasan. Bahasa kiasan menyebabkan puisi menjadi menarik, menimbulkan kesegaran, hidup dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan.  Bahasa kiasan ini mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik dan hidup. Bahasa kiasan mencakup: perbandingan atau simile, metafora, perumpamaan epos, personifikasi, metonimi, sinekdok, alegori dan sebagainya. Namun, secara umum bahasa-bahasa kiasan tersebut memiliki sifat memepertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain.
Puisi Membaca Tanda-tanda  tidak memakai banyak ragam bahasa kiasan atau majas. Bahasa kiasan yang digunakan hanya seperti berikut :
1.      Personifikasi
Personifkasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan bendabenda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan (Keraf. 2008: 140). Personifikasi dalam puisi ini terdapat pada kutipan sebagai berikut :
·         Kita saksikan zat asam didesak karbon dioksid itu menggilas paru-paru (bait kelima)
·                                 Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir (bait ke-6, baris 2-7)
2.      Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa yang melebih-lebihkan sesuatu. Hiperbola dalam puisi ini terdapat dalam kutipan :
      Banjir air mata (bait ke-6, baris ke-8)
2.1.3  Imaji (citraan)
Dalam puisi, untuk memberi gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana yang khusus, untuk membuat (lebih) hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan dan juga untuk menarik perhatian, penyair juga menggunakan gambaran-gambaran angan (pikiran), di samping alat kepuitisan yang lain. Gambaran-gambaran angan dalam sajak itu disebut citraan (imagery).  Citraan ini ialah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya (Altenbern dalam  Pradopo. 1997: 79).
Imaji terbagi menjadi imaji penglihatan (visual imagery), imaji pendengaran (audiotory imagery), imaji raba dan sebagainya.  Imaji atau citraan yang terdapat dalam puisi Membaca Tanda-tanda antara lain :

1.      Imaji penglihatan
Imaji penglihatan adalah citraan yang timbul oleh penglihatan.  Imaji penglihatan dalam puisi ini terdapat dalam kutipan :
·                     Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya (bait ke-3)
·         Kita saksikan zat asam didesak karbon dioksid itu menggilas paru-paru (bait ke-5)
·         Kita sasksikan
Gunung membawa abu
………………….. (bait ke-6)
·         Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda (bait ke-7)
2.      Imaji Pendengaran
Imaji pendengaran adalah citraan yang timbul oleh pendengaran. Imaji pendengaran dalam puisi ini terdapat dalam kutipan :
      Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari (bait ke-3, baris ke-3)
3.      Imaji Raba
Imaji raba adalah citraan yang timbul oleh perabaan. Imaji perabaan dalam puisi ini terdapat dalam kutipan :
·         Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita (bait ke-1)
·         Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
akan meluncur lewat sela-sela jari (bait ke-10)


2.1.4  Simbol
Simbol merupakan bagian dari kajian berdasarkan aspek semiotik (tanda).  (Pradopo. 1995: 120) mengemukakan bahwa  simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubungannya bersifat arbiter (semau-maunya). Arti tanda itu itu ditentukan oleh konvensi.  Dalam bahasa, tanda yang paling banyak digunakan adalah simbol.
Ada tiga macam simbol yang dikenal, yakni (a) simbol pribadi, misalnya seorang menangis bila mendengar lagu gembira karena lagu itu telah menjadi lambang pribadi ketika orang yang dicintainya meninggal dunia, (b) simbol pemufakatan, misalnya Jepang=Negara Matahari Terbit, dan (c) simbol universal, misalnya bunga adalah lambing cinta.
Analisis simbol pada puisi Membaca Tanda-tanda diuraikan sebagai berikut :
·         Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Bait puisi ini menyimbolkan bahwa penyair merasa kehilangan sesuatu yang dekat sekali dengan dirinya juga orang lain yaitu keasrian alam.
·         Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas
tapi kita kini mulai merindukannya
Bait puisi ini menyimbolkan bahwa ia merindukan suasana alam yang masih murni, indah, asri dan belum terjamah oleh tangan-tangan manusia, karena sekarang suasana itu sudah tidak terasa lagi (tidak begitu jelas).
·         Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Maksudnya adalah udara yang terpolusi oleh asap (pencemaran udara) disimbolkan bahwa warna udaranya menjadi abu-abu.
·         Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Maksudnya adalah air danau yang tercemar kian lama volumenya kian menyusut sehingga disimbolkan bahwa air danau semakin surut.
·         Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari
Maksudnya (merupakan simbol) bahwa pada pagi hari tidak ada lagi suara kicauan burung-burung yang bersahut-sahutan karena perburuan liar dan penebangan hutan menyebabkan mereka kehilangan tempat tinggal (hutan), sehingga mereka pergi mencari tempat baru atau bahkan hampir punah.
·         Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan
Bait puisi di atas menyimbolkan gejala-gejala perubahan alam yang ditandai dengan hilangnya komponen-komponen alam itu mulai dari yang terkecil (daun) hingga yang terbesar (huta).
·         Kita sasksikan zat asam didesak karbon dioksid menggilas paru-paru
Baris puisi ini menyimbolkan adanya zat-zat asam dan karbon akibat polusi yang banyak terkandung di udara menyebabkan terjadinya berbagai penyakit yang berhubungan dengan terganggunya alat-alat pernapasan seperti paru-paru.
·         Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu                (terjadi bencana gunung berapi, tanah
Lindu membawa longsor          longsor dan banjir)
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata  (memakan korban jiwa)
Bait puisi ini menyimbolkan adanya pencemaran udara, penebangan hutan, perburuan liar dan sebagainya telah mengundang berbagai macam bencana mulai dari gunung berapi, longsor dan banjir yang memakan korban jiwa.
·         Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir                            (bencana-bencana)
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu
Allah
Ampunilah dosa-dosa kami           (timbul kesadaran)
Bait puisi di atas menyimbolkan bencana-bencana yang timbul akibat manusia yang lalai akan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya sebagai khalifah di muka bumi. Namun semuanya tidak lepas dari kehendak Sang Pencipta.  Dia menguji makhluk-Nya dengan menimpakan musibah dan bencana.  Lalu timbul lah kesadaran pada diri manusia dan rasa ingin kembali, serta meminta pengampunan kepada-Nya atas semua kesalahan yang diperbuat.
·         Beri kami kearifan membaca tanda-tanda
Kearifan membaca tanda-tanda di sini menyimbolkan manusia yang meminta kepada tuhannya agar dapat peka terhadap lingkungan dan benar-benar menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi dengan sebaik-baiknya dari melihat tanda-tanda alam yang ada.


Analisis Puisi “Membaca Tanda-tanda” Melalui Aspek Formal Puisi
2.2.1  Diksi
Puisi adalah salah satu karya sastra yang mengandalkan keindahan kata-kata untuk memunculkan kesan estetisnya.  Dalam memainkan kata-kata, yang menjadi ujung tombaknya adalah diksi atau pemilihan kata oleh penyairnya. (Barfield dalam Pradopo. 1997: 54) mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya disebut diksi puitis.
Diksi digunakan oleh penyair untuk mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami batinnya.  Penyair harus benar-benar tepat memilih kata jika ingin mengekspresikan  dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya tersebut.
Taufik Ismail dalam puisinya Membaca Tanda-tanda banyak menyindir manusia sebagai khalifah di bumi yang masih saja merusak alam dengan perburuan hewan, penebangan hutan, dan lain sebagainya yang menyebabkan alam mulai kehilangan keindahannya.  Taufik mengunakan diksi ‘kehilangan’ pada bait keempat untuk menggambarkan hilangnya keindahan alam.  Taufik pun banyak menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan alam seperti udara, danau, burung, hutan, gunung dan lain sebagainya untuk menyesuaikan puisinya dengan tema alam.  Selain itu ia memilih kata-kata seperti longsor, banjir, gempa dan sebagainya untuk menggambarkan bencana.
Diksi yang dipilih Taufik Ismail dalam puisi ini pada umumnya memakai kata-kata yang lumrah digunakan dan mudah dipahami maknanya. Kesemuanya membuat puisi ini menjadi menarik sehingga pesannya juga lebih cepat diterima oleh pembaca.

2.2.2  Tipografi
Cara penulisan suatu puisi sehingga menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat diamati secara visual disebut tipografi (Aminuddin.1995: 146).  Peranan tipografi dalam puisi, selain untuk menampilkan aspek artistik visual, juga untuk menciptakan nuansa makna dan suasana tertentu.
Puisi Membaca Tanda-tanda memiliki tipografi yang tidak resmi. Maksudnya adalah baris dan bait yang tidak resmi yaitu bait satu dengan bait yang lain memiliki jumlah baris yang berbeda. Tipografi puisi ini lurus sejajar dan di bagi ke dalam sebelas bait. Dengan bentuk yang lurus seperti ini, penyair tidak menyimpan kode apapun sehingga memudahkan untuk dibaca. Penyair menggunakan bentuk tata wajah yang konvensional dalam sajaknya ini yakni bentuk lurus sehingga tidak menimbulkan penafsiran lain dari pembaca.
Tipografi seperti yang ada dalam puisi ini dapat dibaca seolah seperti membaca sebuah cerita biasa.  Namun penyusunan bentuknya yang sedemikian rupa dapat memengaruhi nada dan suasana ketika membaca puisi ini seperti sedih, gundah, kekhawatiran dan sebagainya.
2.2.3  Gaya Bahasa
Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Gaya bahasa menjadi bagian dari diksi kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu. Gaya bahasa yang terdapat dalam puisi Membaca Tanda-tanda antara lain :
1.      Repetisi
Repetisi adalah rangkaian kata yang diulang beberapa kali untuk menegaskan artinya.  Repetisi dalam puisi ini terdapat dalam kutipan :


Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir                             repetisi
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu
Allah
Ampunilah dosa-dosa kami   (bait ke-8)
2.      Satire
Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir. Satire dalam puisi ini terdapat dalam kutipan :
Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda? (baik ke-7)
Di sini, Taufik menyindir apakah kita (semua orang termasuk dirinya) bisa merenungkan tanda-tanda atau gejala-gejala perubahan alam yang telah disaksikan.
3.      Klimaks
Klimaks adalah gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat (memuncak) kepentigannya dari gagasan-gagasan sebelumnya. Klimaks dalam puisi ini terdapat dalam kutipan :
Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata   (bait ke-6)
2.2.4  Bunyi
Dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif.  Bunyi ini erat hubungannya dengan anasir-anasir musik, misalnya: lagu , melodi, irama, dan sebagainya.  Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunai tugas yang lebih penting lagi, yaitu memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus dan sebagainya (Prdopo. 1997: 22).
Bunyi membahas mengenai onomatope (tiruan), eufoni (efek senang), kakofoni (efek sedih), asonansi (kombinasi bunyi vokal), aliterasi (kombinasi bunyi konsonan) rima dan sebagainya.  Bunyi-bunyi yang terdapat dalam puisi Membaca Tanda-tanda antara lain :
1.      Kakofoni
Kakofoni merupakan kombinasi bunyi yang tidak merdu dan parau.  Kakofoni ini cocok dan dapat untuk memperkuat suasana tidak menyenangkan, kacau balau, serba tak teratur, bahkan memuakkan.  Kakofoni terjadi apabila terdapat perpaduan antara konsosan berat (b, d, g, z, w) dengan vokal berat (u, o).  Contoh kakofoni yang terdapat dalam puisi Membaca Tanda-tanda antara lain :
Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata
2.      Rima
Rima adalah bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi.  Rima disebut juga persajakan. Rima digunakan untuk mengolah bunyi pada puisi. Oleh karena itu penyair memilih diksi-diksi yang mempunyai persamaan bunyi. Pola rima pada puisi ini tidak teratur.  Misalnya saja pada bait pertama dan kedua bersajak (a-b), bait ketiga (a-a-b), bait keempat (a-b-b-b) dan seterusnya. Pada puisi Membaca Tanda-tanda, hanya terdapat rima luar, yaitu rima yang terdapat antarbaris yang terletak di awal, tengah dan akhir.
·         Awal
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu  (bait ke-8, baris 2-5)

·         Tengah
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan  (bait ke-4)
·         Akhir
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan  (bait ke-4, baris 2-4)


BIOGRAFI SINGKAT PRAMOEDYA ANANTA TOER



Pramoedya Ananta Toer lahir pada 6 Februari 1925 di Kampung Jetis, Blora Jawa Tengah sebagai anak sulung dari Sembilan bersaudara.  Ayahnya bernama Mastoer, seorang guru dan ibunya bernama Oemi Saidah, seorang ibu rumah tangga.  Sewaktu kecil, Pram sudah terlihat sebagai anak yang pintar mengumpulkan teman-temannya, banyak akal dan berani mencoba apapun dalam segala hal.  Namun, masa kecilnya juga tertindas oleh perlakuan ayahnya yang terlalu keras dan berdisiplin tinggi.  Rasa tertekan, terkucilkan, tertindas, dan minder yang akut akhirnya mendorong Pram untuk menulis.
Pram memulai pendidikannya di SD Blora.  Namun ia pernah tiga kali tidak naik kelas sehingga membuat ayahnya malu dan mengatakannya sebagai anak yang bodoh.  Ayahnya tidak mau menyekolahkannya lebih lanjut ke jenjang yang lebih tinggi.  Akhirnya ibunya lah yang menyekolahkan dan membiayai Pram untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah telegraf (Radio Vackschool) Surabaya tanpa sertifikat karena kedatangan Jepang.   
            Di masa ia muda ketika kondisi negara sedang dijajah baik oleh Belanda maupun Jepang, Pram melakukan perjuangan melawan penjajah. Pram sering mengikuti kelompok militer di Jawa dan ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan.  Tidak hanya berjuang untuk negara, Pram juga berjuang untuk keluarga.  Pada usia 17 tahun, ibunya menderita sakit TBC dan akhirnya meninggal di tahun 1942. Ayahnya pun kesulitan bekerja sebagai guru karena kedatangan Jepang yang menyebabkan ia kehilangan mata pencahrian. Pram harus menafkahi keluarganya.  Ia bekerja sebagai wartawan di kantor Jepang, kemudian menjadi stenograf, lantas menjadi jurnalis yang handal.  Ia juga pernah bergabung dalam BKR.
Mengenai asmaranya, Pram sempat mengalami kisah tragis.  Pernikahan pertamanya yang memilki tiga orang anak kandas.  Ia ditolak oleh mertua dan istrinya akibat hanya menggantungan diri pada kegiatan menulis untuk menafkahi keluarga. Gaji yang diterima saat bekerja di Balai Pustaka dianggap tidak mencukupi. Pram pun bercerai dan kembali menikah dengan perempuan lain bernama Maemunah.  Pernikahan keduanya ini membuahkan sembilan orang anak.
            Ketika bangsa Indonesia yang telah merdeka akan kembali dijajah oleh Belanda (Agresi militer: 21 Juli 1947), Pram bergabung dengan kalangan nasionalis.  Ia mencetak serta menyebarkan pamflet dan majalah perlawanan.  Tindakan ini membawanya ke dalam penjara tahanan Belanda di Bukit Duri tanpa proses yang wajar dan selanjutnya di Pulau Damar (Edam).  Ia disisksa oleh satu peleton dan barang-barang di rumahnya disita.  Di dalam penjara, Pram mendapatkan banyak pengalaman hidup seperti belajar pasrah kepada tuhan, perjuangan, hingga belajar bahasa asing seperti Inggris, Belanda dan Jerman secara otodidak, termasuk belajar sosiologi, filsafat dan ekonomi.  Ia juga banyak menelurkan sejumlah karya seperti Perburuan dan Dia yang Menyerah. Akhir Desember 1949, Pram dibebasan bersama kelompok tahanan terakhir.
Kehidupan Pram pada masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru menjadi titik balik kehidupannya. Jika pada zaman Orde Lama ia menjadi titik puncak tokoh sastrawan terkemuka yang menyerang dengan kekuatan ideologi sastranya, maka ada zaman Orde Baru ia dijebloskan ke dalam penjara Salemba lalu ke penjara Tangerang.  Pram dianggap sebagai simbol perlawanan dan korban kekerasan rezim Soeharto.  Di sini lah karya-karya Pram mulai banyak bermunculan.  Hal ini berlajut hingga masa Reformasi.  Pram sering sekali menjadi pembicara dalam seminar-seminar berbau kenegaraan.
Satu hal yang membuat nama Pramoedya Ananta Toer menjadi besar adalah pemikiran-pemikirannya tentang nasionalisme, demokrasi, pluralisme, pendidikan, perempuan dan agama.  Secara garis besar, pemikiran Pram mengenai nasionalisme dikaitkan dengan bentuk Indonesia sebagai negara maritim dan otonomi daerah sebagai bentuk pemerintahannya. Sedangkan pemikirannya tentang demokrasi, Pram berhasil menerapkan kebebasan berpendapat dalam kalangan Lekra yang bertentangan dengan kaum komunis.  Mengenai pemikiran pluralisme, Pram bersikap terbuka terhadap persoalan agama dan rasa tau etnis. Kemudian pemikirannya dalam pendidikan, ia mengkritik sistem pendidikan yang memposisikan guru subjek sekaligus objek yang mutlak di dalam kelas.  Untuk pemikirannya mengenai perempuan, Pram menunjukkan bagaimana ia memiliki perhatian yang besar terhadap kaum yang dianggapnya tangguh meski dalam kondisi tertindas.  Semua pemikiran-pemikirannya itu dituangkannya dalam bentuk karya tulis fiksi maupun non fiksi.
Banyaknya karya tulis yang lahir dari sosok Pramoedya Ananta Toer menjadikannya sebagai salah satu sosok sastrawan terkemuka baik di Indonesia maupun dunia.  Ia berkali-kali dan masuk sebagai nominasi penerima pengahargaan Nobel mapupun penghargaan-penghargaan lain dalam bisang sastra baik nasional maupun internasional.  Sejumlah karya fiksinya yang terkenal anatara lain: Sepuluh Kepala Nica (1946), Bukan Pasar Malam (1951), Midah Si Manis Bergigi Emas (1955), Mangir (2000), Jalan Daendeles dan lain-lain.  Sementara itu, karya puisinya diantaranya Antara Kita (Siasat) (1949), Anak Tumpah Darah Indonesia (1951) dan lain sebagainya.  Ada pula karya terjemahan (Tikus dan Manusia, Kembali pada Tjinta dan Kasihmu, Ibunda, dll) dan karya nonfiksi (Kronik Revolusi, Surat kepada Keith Foulcher, dll).
Ciri khas karya-karyanya antara lain mengambil persoalan tema biografi seseorang, kebanyakan menguraikan persoalan sejarah, bertendensi pada kemanusiaan dan nilai-nilai humanis, dan menganut aliran realisme sosial.  Selayaknya kebanyakan sastrawan di Indonesia yang merupakan perokok berat, Pram juga termasuk di dalamnya.  Pram juga merupakan sosok yang humoris dengan berbagai celetukan kata-katanya yang mengundang tawa atau setidaknya segaris senyum.
            Pramoedya tidak pernah puas menulis. Ia menulis hingga di usia senjanya.  Namun mulai Januari 2006 kondisi kesehatannya menurun aakibat penyakit diabetes, sesak napas dan jantung. Pada 6 Februari 2006 digelar acara pameran buku mengenai Pram sebagai bentuk penyemangat hidup sekaligus sebagai hadiah ulang taun Pram ke-81. Setelah lama mengidap berbagai penyakit, penyakit tua dan beberapa kali keluar-masuk rumah sakit, pada 30 April 2006 pukul 08.55 WIB Pramoedya Ananta Toer wafat.  Ia meninggalkan seorang istri, delapan anak dan lima belas cucu.  Banyak hal yang dapat kita pelajari dari sosok Pramoedya Ananta Toer, diantaranya belajar berbangsa dan keindonesiaan, belajar mengarang dan belajar mengenai arti kehidupan.

Daftar Pustaka :
Rifai, Muhammad. 2010. Pramoedya Ananta Toer: Biografi Singkat (1925-2006). Yogyakarta: Garasi House of Books.