Selasa, 24 April 2012

ANALISIS STANDAR MUTU NASKAH DRAMA "JAM DINDING YANG BERDETAK" KARYA NANO RIANTIARNO

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Jika teater kehilangan daya tarik dan ditinggalkan penonton, maka yang patut disalahkan adalah orang teater.  Bukan para penonton, juga bukan masyarakat kesenian ataupun masyarakat umum. Mengapa? Karena daya tarik teater datang dari orang teater, dicipta oleh orang teater.  Penonton hanya menonton, menikmati lalu menyerap dengan mata, rasa dan hati kemudian mencaki-maki atau memuji, atau menghargai dan berbagi (Riantiarno. 2011: vii).
Pementasan teater berawal dari adanya sebuah naskah.  Naskah memiliki peran penting dalam menentukan kualitas dan kesusksesan suatu pentas teater.  Unsur-unsur yang terkandung dalam naskah menjadi pembangun dan acuan dalam penggarapannya sebelum dipentaskan.  Bicara mengenai teater dan naskah, ada satu istilah yang berhubungan dengan keduanya yaitu drama.  Drama adalah hasil seni sastra berupa naskah yang ungkapannya dalam wujud teater yang menekankan pada unsur suara (kata, ucapan, dialog) baik yang tersurat maupun tersirat.
Menyinggung masalah naskah drama sebagai jembatan sebuah ide untuk dipentaskan dalam bentuk teater, maka banyak hal yang perlu diketahui mengenai bagaimana naskah drama yang memiliki standar mutu yang baik.  Hal-hal yang terkait dengan standar mutu sebuah genre sastra berupa drama antara lain : tema, naskah, alur cerita atau plot, perwatakan tokoh, bahasa, kandungan pesan moral dan pengarangnya.
Makalah ini membahas mengenai standar mutu karya drama yang mengkhususkan pada analisis dari segi naskah drama.  Adapun naskah drama yang dianalisis diambil dari salah satu karya seorang dramawan Indonesia ternama, Nano Riantiarno dengan judul “Jam Dinding yang Berdetak”.  Alasan penulis memilih naskah ini sebagai bahan analisis adalah untuk memudahkan penjabaran mengenai pokok bahasan yaitu mutu atau kualitas.  Naskah drama karya Nano Riantiarno dianggap merangkum unsur-unsur pembentuk naskah yang menunjang mutu atau kualitasnya.  Hal ini tidak diraguakan karena Nano telah banyak menghasilkan karya-karya bermutu dan sukses seperti Opera Kecoa, Opera Salah Kaprah, Rumah Kertas dan lain-lain. 
Jam Dinding yang Berdetak adalah salah satu naskah drama karya Nano Riantiarno yang menarik untuk dikaji dan dijadikan tolak ukur betapa kerasnya kehidupan. Isinya menceritakan mengenai bagaimana kehidupan sebuah keluarga miskin.  Bagaimana cara Nano menyajikan naskah dramanya agar memiliki mutu membuat penulis penasaran, apakah naskah drama ini benar-benar layak jika dikatakan bermutu.

1.2   Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan makalah mengenai Analisis Standar Mutu Naskah Drama “Jam Dinding yang Berdetak” ini ialah sebagai berikut :
1.      Mengetahui apa itu standar mutu karya drama.
2.      Mengetahui unsur-unsur apa saja yang harus dierhatikan dalam menilai mutu sebuah naskah drama dan aplikasinya terhadap naskah drama Jam Dinding yang Berdetak.
3.      Mempelajari bagaimana naskah drama yang memiliki mutu.

1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah atau hal-hal yang penulis bahas dalam makalah ini antara lain :
1.      Menjelaskan standar mutu naskah drama secara umum dan menghubugkannya dengan naskah drama.
2.      Menjelaskan unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam menilai  mutu sebuah naskah drama.
3.      Mengaplikasi unsur-unsur yang menjadi tolak ukur sebuah naskah drama ke dalam naskah drama Jam Dinding yang Berdetak.

1.4  Batasan Masalah
Batasan masalah dalam suatu kajian atau analisis  sangatlah penting dalam menentukan arah tujuan.  Makalah ini menggunakan pisau analisis berupa standar mutu karya drama/teater.  Seperti yang kita ketahui bahwa drama berbeda dengan teater.  Drama masih berupa naskah, sedangkan teater sudah berupa drama (naskah) yang dipentaskan.  Oleh karena penulis belum pernah melihat pementasan dari drama “Jam Dinding yang Berdetak”, maka penulis membatasi analisis sampai pada naskah drama sebagai karya sastra dan naskah drama sebagai rencana pertunjukan.




BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Standar Mutu
            Sebelum membahas mengenai standar mutu sebuah naskah drama, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu standar mutu secara umum.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), standar adalah ukuran tertentu yang diapakai sebagai patokan. Sedangkan mutu adalah ukuran baik atau buruk suatu benda yang dalam hal ini dapat juga disebut sebagai kualitas. 
            Menurut Joseph Juran, ada lima konsep atau dimensi penilaian standar mutu secara umum yaitu rancangan (desain), kesesuaian, ketahanan, keamanan (tidak membahayakan), dan dapat dimanfaatkan.  Apabila konsep ini dihubungkan dengan sebuah naskah drama, maka uraian atau penjelasannya sebagai berikut:
2.1.1  Rancangan (desain)
Suatu naskah, sebelum ditulis pastinya memiliki rancangan terlebih dahulu.  Rancangan ini dapat berupa rencana (plan).  Rencana yang dimaksud adalah rencana yang dibuat oleh pengarang mengenai bagaimana unsur-unsur dalam struktur naskah drama seperti tema, alur, penokohan, setting, dan lain sebagainya akan dibuat.  Rencana ini dapat juga berupa tujuan (untuk apa, siapa dan mengapa) naskah drama ini dibuat.  Sesuatu yang terencana dengan matang pastilah akan membuahkan hasil yang optimal dan bermutu. 
Rancangan juga sangat perlu demi terciptanya sebuah karakteristik yang khas untuk membedakannya dengan hasil karya orang lain, karena karakteristik yang khas akan mudah dan selalu diingat.   Oleh karena itu, rancangan sangat diperlukan dalam pembuatan naskah drama. 
2.1.2  Keseusaian
Kesesuaian dalam konteks naskah drama yang bermutu  memiliki hubungan dengan rancangan.  Sebuah naskah drama harus dirancang sesuai dengan tujuan. Misalnya sebuah naskah drama diciptakan oleh pengarang dengan cerita mengenai dunia anak, maka pengarang harus konsisten dengan tujuannya itu.  Unsur-unsur naskah drama yang ditulis harus menyesuaikan dengan dunia anak, entah itu tema, alur cerita, penokohan dan lain sebagainya.  Tidak mungkin pengarang mengambil tema mengenai percintaaan untuk naskah drama yang ditujukan untuk anak-anak, karena tema ini dianggap tidak sesuai.
Kesesuaian juga dapat dilihat dari cerita yang ada dalam naskah terhadap apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari.  Misalnya dalam sebuah naskah drama yang mengambil latar dan penokohan orang-orang kaya metropolis yang tinggal di  tengah kota. Akan terasa janggal dan tidak sesuai jika pengarangnya menggambarkan penokohannya sebagai orang-orang yang tradisional, kampungan dan gagap teknologi, karena orang-orang kaya metropolis dalam kehidupan nyata memiliki kehidupan yang modern dan dekat sekali dengan perkembangan teknologi.
Kesesuaian ini merupakan salah satu jendela penilaian apakah suatu naskah drama itu bermutu atau tidak.  Adanya ketidaksesuaian dapat mengurangi nilai estetika dalam naskah drama yang dapat berakibat suatu naskah drama itu menjadi tidak bermutu.   Dalam hal ini kepekaan pengarang sangat diuji untuk dapat melihat kesesuaian naskah drama yang ditulisnya.
2.1.3  Ketahanan
Sesuatu yang bermutu biasanya memiliki ketahanan atau biasa disebut eksistensi yang awet.  Begitu pula pada drama.  Drama yang bermutu biasanya memiliki ketahanan atau dapat bertahan di tengah derasnya arus karya drama lain yang bermunculan sehingga selalu ada ketersediaan (selalu ada).  Drama yang memiliki ketahanan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang lain.  Karakteristik inilah yang membuat penikmatnya memiliki kesan tersendiri terhadap karya drama itu dan selalu mengingatnya.
Contoh karya drama yang bermutu adalah Titanic.  Drama yang diangkat ke dalam film ini memiliki ketahanan yang hingga sekarang pun masih diingat oleh para penikmat di seluruh dunia.  Penyajian filmnya mulai dari tema, alur, setting, akting pemain dan lain-lain sangat diperhatikan dan dibuat seprofesional mungkin sehingga menghasilkan sebuah karya bermutu dan memiliki ketahanan di hati para penikmatnya.
2.1.4  Keamanan
Apabila diibaratkan sebagai makanan, maka barang yang bermutu harusnya aman untuk dikonsumsi.  Begitu pula dengan sebuah karya drama.  Sebuah karya drama harus memiliki nilai keamanan di dalamnya.  Aman di sini dalam artian bahwa segala unsur dari karya drama itu aman untuk dinikmati atau apabila dinikmati maka tidak menimbulkan bahaya.  Keamanan dapat berarti bahwa isi dari sebuah karya drama tidak mengandung unsur untuk mencelakakan atau menjerumuskan penikmatnya kepada hal yang negatif.
2.1.5  Manfaat
      Hal terpenting dalam menilai mutu dalam sebuah karya drama ialah apakah karya drama itu memiliki manfaat bagi penikmatnya.  Salah satu manfaat yang paling nampak adalah sebagai hiburan.  Namun, tidak sebatas itu saja manfaat dari suatu karya drama yang bermutu.  Karya itu juga harus memiliki nilai dan pesan moral yang dapat diambil oleh penikmatnya.  Dengan adanya nilai dan pesan moral ini, isi dari karya drama menjadi berbobot alias tidak kosong.  Ibaratnya sebuah kendi yang berisi air.  Orang tidak hanya dapat melihat keindahan kendi, tapi juga dapat meminum air yang ada di dalamnya.

2.2  Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menilai Mutu Sebuah Naskah Drama
2.2.1  Naskah
Naskah drama disebut juga sebagai naskah lakon.  Naskah adalah tulisan yang  berisi ide-ide dari pengarang untuk dikembangkan secara visual oleh sutradara.  Naskah menjadi embrio, ide, gagasan dan wawasan abstrak yang memerlukan sentuhan kreativitas untuk terwujud dalam tingkah laku, gerak, bunyi serta situasi.
Naskah drama terbagi dua yaitu naskah drama sebagai karya sastra dan naskah drama sebagai rencana pertunjukan.  Naskah drama sebagai karya sastra, dapat dibaca oleh pembaca sastra tanpa masalah dengan keindahan sastra yang tak menyusut. Ia lengkap memberikan keterangan dan deskripsi yang membuat pembaca mudah mengikuti alurnya sebagai sebuah cerita.  Kalau pun tidak banyak deskripsi, tetapi karakter sebagai motor-motor yang membangun konflik, terpapar dan berkembang.  Banyak yang memamerkan dialog-dialog puitis yang mempesona dengan makna-maknanya yang mendalam, sehingga menjadi pameran dan pertunjukan makna yang bukan hanya dapat dipentaskan tetapi juga dapat dibaca ulang oleh pembaca. 
Ada pula naskah drama sebagai rencana pertunjukan yang dibuat dan direncanakan khusus untuk dipentaskan. Naskah drama bentuk ini benar-benar merupakan bahan baku seorang sutradara atau awak pentas.  Bentuk penulisannya pun terbagi dua.  Ada naskah yang ditulis dengan melibatkan semua kelengkapannya seperti judul, ringkasan cerita (sinopsis),  nama-nama pemeran, pembuka, babak-babak, adengan-adengan, dialog, catatan samping (anotasi) dan keterangan mengenai setting (panggung, lampu dan bunyi/suara). Namun ada pula yang hanya menyajikan bahan mentah berupa dialog dan sedikit masalah-masalah teknis, sehingga memerlukan pisau bedah dan analisa serta interpretasi yang lebih. Bentuk seperti ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan pada sutradara dalam menginterpretasikan naskah ke dalam bentuk pementasan.
Naskah drama Jam Dinding yang Berdetak dapat dikatakan naskah drama sebagai karya sastra maupun naskah drama sebagai rencana pertunjukan. Sebagai karya sastra, naskah drama ini memiliki nilai estetik kesastraan lengkap memberikan keterangan dan deskripsi yang membuat pembaca mudah mengikuti alurnya sebagai sebuah cerita.  Naskah ini juga merupakan naskah drama sebagai rencana pertunjukan karena disajikan dengan kelengkapan-kelengkapan naskah untuk memudahkan sutradara dan pemain dalam menggarap pertunjukan atau pementasan. 
Berikut analisis kelengkapan naskah pada naskah drama Jam Dinding yang Bedetak :
1.                  Judul
Judul sangat penting dalam penulisan naskah karena judul  merangkum isi cerita yang disajikan dalam naskah. Judul juga penting untuk menarik perhatian orang untuk membaca naskah.  Oleh karena itu sering kali pengarang membuat judul yang semenarik mungkin untuk mengundang perhatian atau rasa ingin tahu. Sebuah karya drama yang bermutu biasanya mengambil judul yang unik, berkarakter dan mudah diingat. Di sini, Nano mengambil judul Jam Dinding yang Berdetak pada karya dramanya, judul ini menjadi menarik karena mengundang tanda tanya.  Memangnya ada apa dan apa istmewanya dengan jam dinding yang berdetak? Cerita seperti apa yang akan disuguhkan Nano dengan judul seperti itu?
2.                  Sinopsis
Naskah drama Jam Dinding yang Berdetak ini tidak menyajikan sinopsis atau ringkasan cerita.  Ada tidaknya sinopsis tidak banyak mempengaruhi mutu atau kualitas naskah karena sifatnya tidak wajib.  Sinopsis hanya digunakan untuk memudahkan penikmat untuk mengetahui sekilas isi cerita.
3.                  Nama Pemeran
Nama pemeran berfungsi untuk membedakan siapa yang berbicara di dalam dialog.  Nama pemeran tidak harus berupa nama orang, tapi juga dapat berupa nama jabatan, profesi dan lain-lain.  Naskah drama Jam Dinding yang Berdetak tidak hanya menggunakan nama orang sebagai nama pemeran (aktor/aktris) di dalamnya seperti Thomas, Marie, Benny, dan Magda. Ia juga menggunakan nama profesi yaitu polisi.
4.                  Babak
Babak adalah bagian besar cerita yang terdiri dari adegan-adegan.  Naskah drama Jam Dinding yang Berdetak terdiri dari dua babak yang memisahkan cerita berbeda yang berhubungan dan saling menyambung.  Babak pertama menceritakan mengenai kegiatan sebuah keluarga kecil di pagi hari.  Sedang babak kedua menceritakan mengenai sebuah perayaan kecil hari ulang tahun pernikahan.
5.                  Adegan
Adegan merupakan peristiwa kecil yang terikat kepada babak (bagian dari babak).  Salah satu adegan yang ada pada naskah drama Jam Dinding yang Berdetak adalah adegan (pada babak kedua) yang memperlihatkan empat aktor yang duduk mengelilingi meja sambil bernyanyi, bertepuk tangan dan meniup lilin.
6.                  Dialog
Dialog adalah percakapan antara dua atau lebih aktor/aktris.Adanya dialog sangatlah penting dalam sebuah naskah drama.  Naskah drama akan sulit dipahami jika tidak ada dialog.  Kata dalam dialog sebaiknya dirancang tidak terlalu sulit  diucapkan oleh aktornya saat dipentaskan dan kalimat-kalimatnya pun tidak panjang. Di dalam naskah drama Jam Dinding yang Berdetak, Nano menyajikan dialog-dialog secara rapi, runtun dan terarah.
7.                  Catatan Samping
Cacatan samping sangat mendukung sebuah naskah drama yang hanya untuk dibaca atau bahkan untuk dipentaskan. Catatan samping adalah keterangan samping yang menerangkan bagaimana pemeran harus bertindak atau melakukan adegan.  Contoh catatan samping dalam naskah drama Jam Dinding yang Berdetak terdapat pada halaman 2 "MAMA : (Muncul dari dapur sambil memukul-mukul baki). Bangun ... bangun matahari sudah tepat di atas kepala kita. He, pemalas ... ayo bagun tak tahu malu. Laki-laki sebesar lembu sesiang ini masih tetap berselimut. Benny, bangun, Benny ...". Lalu yang dianamakan catatan samping adalah yang berada di dalam tanda kurung.  Pemeran "Mama" harus beradegan muncul dari dapur sambil memukul-mukul baki. 
8.                  Keterangan
Di dalam sebuah naskah drama, pengarang mencantumkan keterangan sebagai tambahan untuk menjelaskan bagaimana setting yang ada pada cerita.  Keterangan setting dibagi menjadi tiga, antara lain :
·         Setting panggung
Dalam sebuah pentas diperlukan latar belakng suasana yang mendukung keadaan pentas yang disebut setting panggung, dekorasi  atau scenery. Scenery dibagi menjadi dua yaitu interior setting (jika lakon dipentaskan seolah berada dalam ruangan)  dan exterior setting (jika lakon dipentaskan seolah berada di alam terbuka).
Setting panggung digambarkan jelas oleh Nano pada awal naskah.  Di dalam naskah Jam Dinding yang Berdetak ini panggung diatur menyerupai rumah yang dibagi menjadi tiga bagian tapi bersambungan satu sama lain (simultan set). Bagian pertama yaitu menggambarkan halaman rumah (exterior setting) yang didukung oleh properti seperti beberapa pohon pisang, satu pohon jambu, satu pohon kersen, lentera, kursi goyang dan jendela kayu.  Bagian kedua menggabarkan ruang tengan dengan property pendukung seperti sofa reot, permadani butut, dua buah kursi rotan, jam antik dan lain-lain.  Sedang gambaran pada bagian ketiga adalah rak piring yang sudah berkarat, alat-alat lukis, lukisan-lukisan dan lain-lain.
·         Setting lampu
Lampu dapat memberikan pengaruh psikologis, dan juga dapat berfungsi sebagai ilustrasi (hiasan) atau penunjuk waktu (pagi, sore) dan suasana pentas (Endraswara. 2011: 106).  Pementasan karya drama tanpa adanya setting lampu akan mengurangi keindahannya.  Apabila keindahannya berkurang, maka mutu atau kualitasnya pun berkurang.
Naskah drama Jam Dinding yang Berdetak tidak lupa memasukkan setting lampu ke dalam penulisannya yaitu dengan penjelasan kapan lampu menyala, menyorot atau padam.  Contohnya dapat kita lihat di awal naskah halaman 2 yang kutipan keterangannya “Pada saat lampu fade in kita melihat seorang berkerudung selimut tidur di bawah sofa”, atau keterangan pada akhir nasah (halaman 29) yang mengarahkan lampu untuk padam.
·         Setting bunyi
Bunyi-bunyian dalam sebuah pentas atau pertunjukan memiliki fungsi untuk memainkan emosi penonton.  Di dalam naskah biasanya pengarang mencantumkan bunyi atau suara apa yang mengiringi pementasan naskahnya.  Bunyi ini tentunya harus sesuai dengan suasana cerita.  Misalnya saja pada naskah drama Jam dinding yang Berdetak, Nano mencantumkan bunyi atau suara lolongan anjing di kejauhan dan suara jam dinding yang berdetak untuk mengiringi suasana keterkejutan tokoh Marie yang mendengar kabar bahwa suaminya meninggal.
2.2.2  Tema
      Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (Hartoko dalam Nurgiantoro. 2010: 68).  Sesungguhnya semua tema yang diangkat ke dalam sebuah naskah drama mempunyai potensi untuk menjadi karya yang bermutu.  Hanya saja, pemilihan tema yang sering kali kurang tepat membuat karya itu jadi kurang bermutu.  Penyajian tema yang dipilih pun menjadi barometer standar mutunya. 
Sebuah ide atau tema bisa dianggap berhasil jika terjalin komunikasi antara penyampai ide atau tema itu dengan penikmatnya. Tema yang menarik antara lain tema yang sedang (booming) saat ini, tema yang tidak pernah/jarang diangkat, tema yang berbau kontroversi tapi tetap aman dan lain-lain.   Nano Riantiarno dalam Jam Dinding yang Berdetak  dapat dikatakan berhasil menyampaikan maksud dalam tema tentang kehidupan sebuah keluarga miskin yang tinggal di komplek orang-orang miskin.  Tema ini mungkin sudah banyak diambil oleh pengarang-pengarang lain. Namun yang membedakannya terletak penyajian cerita.
2.2.3  Alur Cerita
Sebuah naskah drama yang bermutu pastilah memiliki cerita yang bermutu pula. Cerita yang bermutu adalah cerita yang bersifat didaktis tapi tidak terkesan menggurui dan inspiratif.  Alur ceritanya pun jelas menggambarkan adanya hubungan kausalitas atau hubungan sebab-akibat dan terstruktur dengan rapi.  Adapun struktur dalam nashkah drama yang diaplikasikan dalam Jam Dinding yang Berdetak antara lain:
·                                             Eksposisi : Pengenalan masalah dan tokoh-tokoh lakon.
Eksposisi pada naskah drama Jam Dinding yang Berdetak dimulai dari kemunculan tokoh satu per satu.  Tokoh Mama yang berteriak-teriak  membangunkan tokoh Benny yang sedang tidur.  Kemudian disusul tokoh Papa yang sedang mencari dasi dan tokoh Magda yang baru selesai mandi.  Pemunculan masalahnya ada pada kerisauan Mama yang memikirkan nasib Benny.  Benny yang sudah susah-susah disekolahkan tinggi ternyata hanya menjadi pelukis yang belum bisa menghasilkan uang.
·                                             Konflik : Masalah berkembang menuju konflik.
Masalah jadi berkembang ketika tokoh Papa ikut-ikutan merisaukan masalah dengan menambah-nambahi dengan masalah kemiskinan mereka.  Ia menyinggung barang-barang yang digadaikan untuk menutupi kemiskinan. Masih ada jam dinding antik (hadiah pernikahannya dulu) yang belum tergadai.  Mama masih mempertahankannya karena memiliki nilai kenangan istimewa baginya.
·         Komplikasi : Masalah makin berkembang (terjadi pembenturan yang kian menajam).
Antara tokoh satu dengan tokoh yang lain mulai berbenturan pendapat. Keempat tokoh utama memiliki pendapat masing-masing terhadap masalah.  Tokoh Papa cenderung tidak begitu menanggapi lagi.  Tokoh Mama masih tetap dengan kerisauannya.  Tokoh Benny dan Magda berselisih pendapat atas nasib mereka yang kurang beruntung dan seringnya percekcokan antara orang tua mereka.
·                                             Krisis/klimaks : Mulai adanya upaya pencarian jalan keluar
Benny dan Magda ingin meredakan masalah dengan memberi kejutan dan  hadiah ulang tahun pernikahan kepada Papa dan Mama.
·                                             Resolusi/Anti-klimaks : Persoalan mulai diselesaikan
Kemesraan antara Thomas dan Marie terajut kembali.  Namun ada pembicaraan yang tidak mengenakkan mengenai permasalahan yang ada dalam klimaks terjadi di antara mereka sehingga Thomas meninggalkan rumah.
·                                             Solusi : Konflik berakhir. Kisah selesai.
Saat Marie bersedih karena Thomas meninggalkannya, datang seorang polisi yang memberi kabar bahwa Thomas baru saja meninggal.  Marie pun syok. Cerita selesai.
Di dalam karya sastra terdapat banyak cara untuk menyampaikan alur cerita  atau yang disebut dengan metode bercerita untuk membuat cerita itu menarik.  Metode bercerita dapat berupa deskripsi, sorot balik, campuran dan pemutusan cerita.  Metode-metode ini sama-sama memiliki peluang untuk menjadi karya yang bermutu asalkan pengarangnya bisa membawakannya dengan baik.  Penikmat
Naskah drama Jam Dinding yang Berdetak ini mengambil metode pemutusan cerita pada akhir ceritanya sehingga terkesan menggantung.  Hal ini mungkin disengaja untuk membuat penikmat karya memikirkan sendiri bagaimana harusnya cerita itu berakhir atau berlanjut.  Ini merupakan salah satu trik didaktis pengarang untuk mengajak penikmat karya turun langsung ke dalam cerita.
2.2.4  Perwatakan Tokoh
Perwatakan tokoh adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon drama (Wiyanto. 2007: 27).  Perwatakan tokoh berkaitan dengan kesesuaian pengarang untuk mengadopsi perwatakan yang ada dalam kehidupan sehari-hari ke dalam perwatakan dalam sebuah naskah drama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.  Penggambaran watak  tokoh-tokoh dalam naskah drama Jam Dinding yang Berdetak cukup mewaliki watak orang-orang miskin yang tinggal di sebuah komplek yang rata-rata warganya termasuk orang miskin.  Sebagaimana layaknya orang miskin, tokoh-tokoh dalam naskan selalu dihinggapi masalah terkait ekonomi. 
2.2.5  Bahasa yang Digunakan (Retorika)
      Retorika adalah suatu istilah yang secara tradisional diberikan pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik.  Jadi ada dua aspek yang perlu diketahui seseorang dalam retorika, yaitu pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa yang baik, dan kedua pengetahuan mengenai objek tertentu yang akan disampaikan dengan bahasa tadi (Keraf. 2008: 1). 
      Dalam sebuah naskah drama, bahasa yang digunakan oleh pengarang sangatlah memiliki peran penting.  Retorika pada naskah tersebut haruslah sesuai dan memiliki unsur seni sehingga memunculkan efek keindahan.  Sebuah naskah drama yang bermutu harus memiliki retorika yang baik.  Retorika yang baik ini dapat mengundang minat orang lain untuk menikmati hasil karya sastra berupa naskah drama tersebut. 
        Bahasa yang digunakan dalam naskah drama jika ingin dikatakan bermutu haruslah sesuai dengan konteks cerita, sesuai dengan perwatakan tokoh, memperhatikan siapa penikmatnya, tidak menjerumuskan orang lain, dan mengandung pesan moral.  Naskah drama Jam Dinding yang Berdetak memiliki retorika yang  dinilai sesuai dengan konteks ceritanya yang berlatarkan sebuah keluarga miskin.  Pilihan kata (diksi) yang digunakan benar-benar mencerminkan perwatakan tokoh-tokohnya.  Nano sebagai pengarang dengan cermat memperhatikan bahasa yang digunakannya dalam menulis naskah ini.
2.2.6  Kandungan Pesan Moral
      Salah satu konsep standar mutu adalah bahwa sesuatu itu harus memiliki manfaat.  Begitu pula dengan sebuah karya drama.  Manfaat yang terdapat dalam sebuah karya drama adalah bahwa penikmatnya memperoleh pelajaran dari pesan moral yang terkandung di dalamnya dan dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. 
      Naskah drama Jam Dinding yang Berdetak mengandung pesan moral yang terdapat dalam ceritanya.  Naskah ini menceritakan bagaimana kehidupan orang miskin yang terhimpit masalah ekonomi, namun tetap berusaha untuk bahagia meski dengan keadaan yang seadanya.  Pesan moral yang dapat dipetik penikmat karya drama ini adalah bahwa meski dalam keadaan apapun, kita harus tetap menikmati hidup dan terus berusaha semaksimal mungkin menjalaninya. Percekcokan dalam kehidupan rumah tangga memang hal yang biasa terjadi.  Namun, kita harus memikirkan dahulu semua tindakan yang akan kita lakukan dalam menghadapi masalah jika tidak ingin menyesal kemudian.
Pesan moral yang disampaikan oleh pengarang tidak harus digambarkan dengan cerita yang menyajikan akhir cerita yang bahagia.  Akhir cerita yang mungkin membuat penikmat karya kesal dengan kematian Thomas yang mendadak sebenarnya merupakan pelajaran tersendiri bagi penikmat untuk tidak memunculkan atau setidaknya meredam sebisa mungkin permasalahan-permasalahan yang ada di rumah tangga.
2.2.7  Pengarang
      Pengarang adalah sosok yang berada di balik semua yang ada di dalam sebuah karya drama yang ditulisnya.  Pengarang dapat diibaratkan sebagai tuhan dalam cerita yang dapat menentukan apa pun yang akan terjadi (nasib) setiap tokoh-tokohnya, alur ceritanya, serta seluk-beluk karya drama lainnya.  Oleh karena itu, mutu sebuah karya drama seperti naskah berada di tangan pengarang.
      Kita dapat melihat mutu sebuah karya drama dari siapa pengarangnya.  Biasanya karya drama yang bermutu lahir dari seorang pengarang yang kreatif, ekspresif, inovatif dan pandai merangkai cerita sehingga dapat menghasilkan banyak karya yang bermutu.  Nano Riantiarno adalah seorang sastrawan terkenal yang aktif bergerak di bidang drama.   Nano memiliki karakteristik yang khas dalam setiap penulisan karya-karyanya yaitu menceritakan kehidupan masyarakat menengah ke bawah.  Iya mengambil cerita mengenai itu dan mengadopsinya ke dalam sebuah naskah drama secara kreatif dan eksprsif.  Penggambarannya pun selalu inovatif dengan rangkaian cerita yang tidak membosankan sehingga banyak sekali karya-karyanya yang terkenal seperti “Maaf, Maaf, Maaf”, “Opera Kecoa”, “Opera Salah Kaprah”, “Sampek Engtay”, dan lain-lain.
      Dalam dunia drama, Nano sudah memiliki nama besar. Selain menulis naskah, ia juga merupakan seorang pemain dan sutradara teater.  Ia mendirikan sebuah wadah perkumpulan seni drama dan teater bernama Teater Koma pada tahun 1977 dan masih tetap bertahan (eksis) hingga saat ini. Kepekaannya terhadap gejala-gejla yang ada di masyarakat membuat Nano sering sekali menggarap cerita kemasyarakatan dengan memotret kehidupan nyata dan menuangkannya dalam bentuk sebuah naskah drama.  Tentunya dengan memperhatikan aspek kesesuaian antara apa yang ditulisnya dengan realita yang ada dan juga kesesuian naskahnya dengan siapa yang akan menikmatinya nanti.
      Naskah drama karangan Nano juga ada yang mengandung unsur kritik sosial yang bersifat membangun, bukan untuk menjerumuskan sehingga aman untuk dinikmati.  Nano tidak lupa memasukkan unsur pesan moral dalam setiap naskah dramanya termasuk Jam Dinding yang Berdetak.



BAB III
PENUTUP


3.1  Kesimpulan
Setiap orang pastinya selalu menginginkan sesuatu yang bermutu untuk dapat dinikmati, termasuk dalam menikmati sebuah karya sastra berupa naskah drama.  Unsur-unsur dalam drama seperti tema, alur cerita, naskah, bahasa, perwatakan tokoh,  kandungan pesan moral dan sebagainya menjadi tolak ukur yang menjadi penilaian baik buruknya naskah drama tersebut.  Satu hal yang yang paling dan berada di balik semua itu adalah peran pengarang.  Suatu karya berkualitas biasanya lahir dari seorang pengarang berkualitas pula.  Ia memikirkan betul bagaimana cara membuat agar karyanya memiliki kualitas dengan memperhatikan rancangan, kesesuaian, ketahanan, keamanan dan manfaat apa yang dapat ia berikan.
Penulisan naskah drama memiliki tingkat kesulitan sendiri yang membedakannya dengan genre sastra lain seperti puisi atau pun prosa.  Dalam menulis naskah drama, pengarang harus memikirkan kemungkinan pementasannya.  Kecuali apabila tujuan drama tersebut dibuat hanya sebagai karya sastra yang tidak untuk dipentaskan atau yang sering disebut dengan closet drama.
Dapat menyuduhkan sebuah karya yang bermutu merupakan kepuasan dan kebanggaan sendiri bagi pengarangnya.  Namun yang terpenting dari sebuah karya drama bermutu adalah karya itu dapat menyampaikan pesan pengarang dan memberi manfaat bagi penikmatnya.

3.2  Saran
            Semakin menjamurnya kelompok-kelompok teater di Indonesia, perkembangan mengenai penulisan naskah drama pun kian marak.  Namun, kualitas atau standar mutunya masih patut dipertanyakan.  Ini lah saatnya kita sebagai generasi muda untuk terus berjuang turut menyajikan sebuah karya bermutu dan belajar dari karya orang-orang yang sudah memiliki nama seperti Nano Riantiarno, Putu Wijaya, Arifin C. Noer dan masih banyak lagi nama lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Wiyanto, Asul. 2007. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo.
Keraf, Gorys. 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tim Balai Pustaka, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Riantiarno, Nano. 2011. Kitab Teater. Jakarta: Grasindo.
Edraswara, Suwardi. 2011. Metode Pembelajaran Drama. Yogyakarta: CAPS.

Sabtu, 31 Maret 2012

MEMAHAMI HAKIKAT DAN PRINSIP BELAJAR BAHASA KEDUA

Pemerolehan bahasa kedua memiliki kesinambungan dengan pemerolehan bahasa pertama. Istilah pemerolehan bahasa kedua atau second language aqcuisition adalah pemerolehan yang bermula pada atau sesudah usia 3 atau 4 tahun.  Ada dua cara yang berbeda, berdikari, dan mandiri  bagi orang dewasa mengenai pengembangan kompetensi dalam bahasa kedua. Pertama, pemerolehan bahasa merupakan proses yang bersamaan dengan cara anak-anak. Mengembangkan kemampuan dalam bahasa pertama mereka. Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan bahwa mereka memakai bahasa untuk berkomunikasi. Kedua, untuk mengembangkan kompetensi dalam bahasa kedua dapat dilakukan dengan belajar bahasa. Anak-anak memperoleh bahasa, sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya. Akan tetapi ada hipotesis pemerolehan belajar yang menuntut bahwa orang-orang dewasa juga memperoleh bahasa.  Dengan kata lain, kemampuan memperoleh bahasa tidaklah hilang pada masa puber. Orang-orang dewasa juga dapat memanfaatkan sarana pemerolehan bahasa alamiah yang sama seperti yang dipakai anak-anak.
            Cara pemerolehan bahasa kedua dapat dibagi dua cara, yaitu pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin dan pemerolehan bahasa kedua secara alamiah. Pemerolehan bahasa kedua terpimpin  diajarkan kepada pelajar dengan menyajikan materi yang sudah dipahami. Materi bergantung pada kriteria yang ditentukan oleh guru. Strategi-strategi yang dipakai oleh seorang guru sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok bagi siswanya. Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah adalah pemerolehan bahasa kedua/asing yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan guru. Tidak ada keseragaman cara. Setiap individu memperoleh bahasa kedua dengan caranya sendiri-sendiri. Interaksi menuntut komunikasi bahasa dan mendorong pemerolehan bahasa. Dua ciri penting dari pemerolehan bahasa kedua secara alamiah atau interaksi spontan ialah terjadi dalam komunikasi sehari-hari, dan bebas dari pimpinan sistematis yang sengaja.
            Pemerolehan bahasa kedua merupakan hal yang penting bagi tiap individu untuk bisa berinteraksi dengan baik di lingkungannya. Bagi sebagian besar anak Indonesia, bahasa Indonesia bukan bahasa pertama mereka, melainkan bahasa kedua, atau ketiga.  Pengenalan/penguasaan bahasa Indonesia dapat terjadi melalui proses pemerolehan atau proses belajar.  Proses pemerolehan terjadi secara alamiah, tanpa sadar, melalui interaksi tak formal dengan orang tua dan/atau teman sebaya, tanpa bimbingan. Proses belajar terjadi secara formal, disengaja, melalui interaksi edukatif, ada bimbingan, dan dilakukan dengan sadar. Bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2) didapat bersama-sama atau dalam waktu berbeda. Jika didapat dalam waktu yang berbeda, bahasa kedua (B2) didapat pada usia prasekolah atau pada usia Sekolah Dasar. Bahasa kedua (B2) dapat diperoleh di lingkungan bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2). Jika diperoleh di lingkungan bahasa pertama, bahasa kedua dipelajari melalui proses belajar formal; jika didapat di lingkungan bahasa kedua, bahasa kedua didapat melalui interaksi tidak formal, melalui keluarga, atau anggota masyarakat bahasa kedua.     
Perbedaan pemerolehan bahasa pertama dengan pemerolehan bahasa kedua :
No.
Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan Bahasa Kedua
1.
2.


3.
Diperoleh sejak lahir.
Merupakan komponen yang hakiki dari perkembangan kognitif dan sosial seorang anak.
Didapat dari hasil meniru penuturan orang lain.
Diperoleh setelah bahasa pertama diperoleh.
Terjadi sesudah perkembangan kognitif dan sosial seorang anak sudah selesai.

Didapat dari hasil belajar.

Analisis Struktur Naskah Drama "Mak Comblang"


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Drama merupakan salah satu dari tiga macam genre sastra sebagai cabang kesenian yang mandiri.  Secara etimologi, kata “drama” berasal dari bahasa Yunani "draomai" yang berarti “menirukan”, selanjutnya dalam pengertian umum diartikan “berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi”.    Adapun beberapa pendapat para ahli tentang pengertian drama antara lain: (1) drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action, (segala apa saja yang terlihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (exiting), dan ketegangan pada pendengar/penonton, (2)  drama adalah "hidup yang dilukiskan dengan gerak" (life presented in action). Jika buku roman menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri, (3) drama adalah konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama, (4) drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action, (5) drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak, dan (6) drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).
            Drama juga diklasifikasikan menjadi drama dalam bentuk naskah dan drama yang dipentaskan. Drama dalam bentuk naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan prosa. Sedangkan drama dalam bentuk pentas adalah jenis kesenian mandiri yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, seni lukis (dekor, panggung), seni kostum, seni rias, dan sebagainya.
            Dalam makalah ini penulis akan menganalisis drama dalam bentuk naskah. Di mana naskah drama sebagai salah satu jenis pengucapan kesusastraan, selain memiliki elemen-elemen yang sama dengan roman pada umumnya yakni alur, tema dan penokohan. Naskah drama dibedakan dengan bentuk-bentuk lainnya terutama dalam hal pemenuhan tuntutan kebutuhan penyajian kembali di atas pentas. Dalam hal ini, pelaku dituntut untuk memerankan perwatakan tokoh-tokohnya serta melaksanakan dialog-dialognya demi mendukung kelancaran cerita.
            Naskah drama “Mak Comblang” yang merupakan adaptasi dari “The Mariage” karya Nikolai Gogol agaknya cukup menarik untuk dijadikan bahan analisis karena bercerita mengenai hal-hal atau kejadian yang mungkin dekat dengan kehidupan di sekitar kita. Naskah drama ini juga menyinggung segala macam tingkah manusia, orang-orang yang ambisius, angkuh, sok priyayi, kenes dan mmbanggakan diri secara berlebihan, serta orang yang kehilangan akal sehatnya karena haus kekayaan. Mereka menganggap perkawinan hanyalah transaksi dagang yang selalu harus memperhitungkan untung dan rugi secara materi.
 Seorang wanita bernama Ambarita yang dikenalkan oleh Ny. Eliya kepada lima orang pria dengan berbagai macam karakter untuk dijadikan suami ternyata mengalami kebingungan.  Ny. Eliya menjadi “Mak Comblang” dalam usaha Ambarita mencari suami.  Namun urusan percomblangan ini malah menjadi berbelit-belit oleh ulah Karim. 
            Naskah drama “Mak Comblang”  yang menceritakan tentang kehidupan yang dekat dengan apa yang ada dalam kehidupan nyata dengan cerita yang ringan dan adegan-adegan yang mengandung humor. Naskah ini juga memuat cerita yang penuh kejutan. Hal ini lah yang membuat penulis untuk mencoba mengkaji naskah drama berjudul “Mak Comblang” dengan pendekatan struktural.

1.2  Batasan masalah
            Batasan masalah dalam suatu kajian atau analisis  sangatlah penting dalam menentukan arah tujuan. Namun dengan segala keterbatasan penulis maka analisis naskah drama “Mak Comblang” penulis batasi hanya dari segi struktur.

1.3  Perumusan Masalah
            Perumusan masalah dalam analisis stuktur naskah drama “Mak Comblang” hanya dititikberatkan pada analisis stuktur dan unsur-unsur intrinsik saja.  Ada pun unsur-unsur itu meliputi :
1.      Tema
2.      Dialog
3.      Peristiwa atau kejadian
4.      Latar atau seting (latar tempat, latar waktu dan latar suasana)
5.      Penokohan atau perwatakan
6.      Alur atau plot
7.      Amanat

























BAB II
PEMBAHASAN

            Dalam karya sastra ada yang disebut dengan struktur.  Drama sebagai salah satu genre sastra tentunya memiliki struktur.  Struktur di sini dalam arti bahwa karya sastra itu merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal balik dan  saling menentukan. Jadi, kesatuan unsur-unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda-benda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan hal-hal itu saling terikat, saling berkaitan, dan saling bergantung.
Dalam drama, struktur atau unsur-unsur pokok yang dimaksud di sini sering juga disebut sebagai unsur intrinsik.  Menurut Nyoman Kutha Ratna, unsur-unsur pokok yang terkandung di dalam drama dan dapat dijadikan sebagai poin-poin analisis struktural antara lain :

2.1 Tema
Esten (1978 : 22) mengemukakan bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi pemikiran, sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang.  Tema sebuah drama merupakan permasalahan yang mendasari sebuah cerita. Pokok permasalahan itu mungkin berupa kehidupan, pandangan hidup atau komentar tentang lingkungan. Tema berkedudukan sangatlah penting karena merupakan titik sentral yang melatar belakangi suatu cerita atau peristiwa.
Dalam naskah drama “Mak Comblang” tema yang diangkat adalah mengenai percintaan.  Di mana dari tema percintan ini ditarik sebuah cerita unik dengan bumbu percomblangan atau jodoh menjodohkan.

2.2  Dialog
            Menurut kamus istilah sastra yang diterbitkan oleh balai pustaka, dialog adalah percakapan di dalam karya sastra antara dua tokoh atau lebih yang biasanya mencerminkan pertukaran pikiran atau pendapat. Dialog yang membangun naskah drama “Mak Comblang” ini merupakan dialog langsung  bergantian antara tokoh satu dengan tokoh yang lain.  Seorang tokoh berbicara dan tokoh lainnya mendengarkan dan selanjutnya menjawab sehingga pada gilirannya menjadi pembicara.

2.3 Peristiwa atau Kejadian
            Menurut kamus istilah sastra yang diterbitkan oleh balai pustaka, peristiwa atau kejadian merupakan unsur alur yang merupakan kejadian yang penting atau kisaran pendek yang berhubungan dengan suatu situasi. Jika peristiwa dirangkai secara berkaitan, ia menjadi episode dalam alur.
            Dalam naskah drama “Mak Comblang” ini awalnya menceritakan Akhmad sebagai seorang pria yang usianya sudah sangat matang untuk menikah dan memiliki seorang istri.  Namun ia yang terbiasa hidup membujang dihantui keraguan untuk segera memiliki istri sehingga terjadi perdebatan antara Akhmad dan Karim yang menginginkan agar Akhmad segera menikah. Selanjutnya naskah drama ini mengisahkan tentang seorang wanita bernama  Ambarita yang dicomblangkan atau dicarikan jodoh oleh Nyonya Eliya dengan lima orang pria (termasuk Akhmad) sebagai bakal calon suami yang akan dipilih oleh Ambarita.  Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Akhmad dan Ambarita itu dirangkai secara berkaitan sehingga membentuk sebuah cerita yang berkaitan.

2.4  Latar atau Seting
Latar atau seting adalah tempat atau masa terjadinya cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya suatu kejadian dan kapan (Sumardjo : 1984), sedangkan menurut Zakaria (1981 : 23) mengatakan bahwa latar merupakan tempat terjadinya peristiwa atau tempat berlakunya peristiwa.  Latar atau seting dibedakan menjadi :
2.4.1  Latar Tempat
Ada beberapa latar tempat yang terdapat pada naskah drama “Mak Comblang” , antara lain di sebuah kamar seorang bujangan (kamar milik Akhmad) yang menjadi latar tempat pada babak pertama.  Latar tempat selanjutnya adalah  di sebuah kamar milik Ambarita yang menjadi latar tempat pada babak kedua dan ketiga.  Tidak digambarkan secara detail mengenai tata letak properti panggung untuk menunjang panggung yang ditata menyerupai sebuah kamar.  Hal ini bisa jadi disengaja oleh pengaang untuk memberikan kebebasan kepada sutradara untuk mengatur sendiri tata letak properti panggung. 
2.4.2   Latar Waktu
     Latar waktu pada naskah drama “Mak Comblang” tidak banyak dicantumkan.  Hanya pada babak ketiga dapat diketahui bahwa latar waktunya adalah sore hari seperti yang ada pada kutipan dialog berikut :
Serabi
Ambar
:
:
Selamat sore, nona Ambar.
Oh, selamat datang tuan serabi. Boleh saya bertanya ... ...
     Untuk latar waktu pada babak pertama dan babak kedua didak tiketahui latar waktunya.  Namun sutradara dapat mengatur sendiri latar waktu sesuai dengan situasi cerita dalam naskah.
2.4.3  Latar Suasana
  Naskah drama “Mak Comblang” menyajikan suanana penuh kebingunan dan kebimbangan yang dialami tokoh-tokohnya terutama tokoh Akhmad dan Ambarita.  Tokoh Akhamd mengalami kebingungan yang dilematis pada saat ia dihadapkan pada kenyataan bahwa di usianya yang matang, ia tak kunjung mempunyai istri.  Namun di sisi lain ia tidak mau repot-repot untuk memiliki istri.
  Sedang untuk tokoh Ambarita, ia juga sangat kebingungan ketika harus memilih calon suami yang dipilihkan Ny. Eliya.  Kebingungan Ambarita bertambah ketika Karim menghasutnya untuk memilih Akhmad.


2.5  Penokohan atau Perwatakan
Penokohan dalam suatu cerita drama merupakan suatu hasil kreatif pengarang secara imajinatif dalam melukiskan watak dan pribadi para tokoh melalui sikap, cakapan serta perbuatannya. Penokohan yang baik yaitu penokohan yang berhasil mengembangkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat (esten : 27)
Untuk mengenal dan memahami para watak tokohyang ada di dalam sebuah cerita , kita dapat meneliti: (1) apa yang dilakukan, (2) apa yang dikatakannya, (3) apa sikapnya dalam menghadapi persoalan, (4) bagaimana penilaian tokoh lain atas dirinya (Sumardjo, 1984 : 67).
Ada pun analisis penokohan atau perwatakan yang ada pada naskah drama “Mak Comblang” diuraikan secara tokoh pertokoh sebagai berikut :
1.      Akhmadin Akhmad
Akhmad sebagai tokoh utama tampil sebagai sosok ambtenaar  yang tak percaya diri ketika harus menghadapi sebuah perkawinan.  Ia mengkalkulasi materi demi menutupi sifatnya yang peragu, tidak tetap pendiriannya dan cenderung membuang-buang kesempatan atas nama harga diri. Akhmad pun dinilai sebagai orang yang cukup angkuh dengan memamerkan materi dan sangat menyukai pujian.  Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut :
Akhmad

Karta
Akhmad
Karta
Akhmad
:

:
:
:
:
Jasku yang paling bagus. Yang lain kurang bagus kwalitetnya bukan ?
Oh iya, tuan. Yas tuan yang paling bagus, tuan.
Jadi punyaku yang paling-paling bagus, ha ?
Tak perlu disangsikan lagi, tuan.
Ha, jasku paling bagus. Itu sebabnya itu tukang jahit tanya sama kau; “Kenapa kau punya tuan suruh bikin jaas baru dari bahan yang begitu tinggi kwalitetnya ?”. Bukan begitu ?

2.      Karta
Sosok Karta dalam naskah drama ini digambarkan sebagai pembantu atau pelayan bagi Akhmad.  Karta adalah orang yang penurut dan atuh terhadap perintah majikannya.  Hal ini dpat diamati dari dialog-dialog antar tokoh Karta dan Akhmad.  Di mana ketika Akhmad menyuruh atau memanggil, Karta dengan sigap melaksanakan apa yang diperintah Akhmad.

3.      Karim
Sosok Karim tampil sebagai sahabat Akhmad yang juga sekaligus keluarga dekat dari Ambarita.  Karim mati-matian merayu Akhmad yang peragu untuk segera menikah.  Ia merupakan tokoh mak comblang kedua setelah Ny. Eliya.
4.      Ny. Eliya
Ny. Eliya merupakan seorang mak comblang yang berusaha menjodohkan Ambarita dengan enam orang pria sebagai calonnya. Dalam hal ini ia bersaing dengan tokoh Karim yang berusaha menjodohkan tokoh Ambarita dengan Akhmad. Keduanya bersaing seperti tim sukses calon kepala daerah yang memperebutkan kursi kekuasaan.  Persaingan di antara mereka pun penuh intrik.
5.      Tigor
Tigor adalah salah satu orang yang dicomblangkan oleh Ny. Eliya. Tigor merupakan seorang pelaut yang sudah bertandang ke berbagai negara.  Ia dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak punya apa-apa karena terdapat kutipan dialog seperti di bawah ini :
Eliya
Ambar
Eliya
Ambar
Eliya
:
:
:
:
:
Kalau saja ambil saja Tuan Tigor. Dia juga baik.
Bagaimana rambutnya ?
Bagus.
Dia punya hidung ?
Seperti itulah. Yang jelas, dia tidak punya apa-apa. Satu tongkatpun. Dia tak punya. Kamarnya telanjang seperti bayi baru lahir. Tak ada apa-apanya, kecuali sebuah bale-bale reyot.

6.      Rd.Tatang Serabi
Serabi merupakan salah satu orang yang dicomblangkan oleh Ny. Eliya.  Ia adalah tokoh yang digambarkan sebagai pegawai negeri berkedudukan tinggi (Jaksa) atau bisa disebut termasuk kaum priyayi. Tubuhnya besar (gendut), namun ia memiliki rasa kemanusiaan yang besar pula. Namun usianya sudah tidak muda lagi yaitu kurang lebih 50 tahun.

7.      Arjuna
Arjuna merupakan salah satu orang yang dicomblangkan oleh Ny. Eliya.  Ia memiliki perawakan yang jangkung dan memiliki sifat perfeksionis dalam mencari istri.  Arjuna menginginkan calon istri yang cantik, berpendidikan dan bisa berbahasa Ingrris, padahal dirinya sendiri tidak bisa berbahasa Inggris. Kutipan yang mendukung perwatakan Arjuna sebagai berikut :
Eliya
:
Ada yang bernama tuan Arjuna. Satu contoh keelokan dengan bibir yang mungil seperti murbei. “Aku inginkan isteri”, katanya ... “Yang tidak saja cantik, tetapi juga berpendidikan. Aku mau isteri yang bisa bicara Inggris”. Benar-benar orag berkebudayaan. Sangat halus dan sangat lemah. Pahanya sebesar tangan gadis. Tapi dia jangkung.

8.      Ambarita Ruwanti
Ambarita menjadi tokoh yang menjadi sentral cerita dan menentukan nasib beberapa tokoh lainnya. Pemikirannya mudah dialihkan cenderung berubah-ubah.  Ia mudah dihasut oleh tokoh lain.  Dengan kata lain Ambarita juga merupakan seorang yang peragu dalam menentukan pilihan.  Hal ini tentu saja membuat bingung tokoh-tokoh yang ingin melamar Ambarita.  Seolah-olah mereka dipermainkan sengaja dijerat masuk kemudian dihempaskan.  Sikap Ambarita ini lah yang menimbulkan konflik.
9.      Arina
Tokoh Arina yang berperan sebagai bibi dari Ambarita merupakan tokoh pembantu yang meramaikan cerita.  Ia merupakan sosok yang nyinyir dan materialistik.  Arina menginginkan seseorang yang kaya untuk menjadi pendaamping hidup Ambarita. 
10.  Siti
Tokoh Siti dalam naskah drama ini tidak banyak menonjol dan hanya sebagai tokoh sampingan yang ikut meramaikan cerita.  Siti adalah seorang pembantu rumah tangga yang patuh terhadap perintah majikannya. 


2.6  Alur atau Plot
Alur atau plot adalah jalan cerita yang merupakan rangkaian peristiwa yang saling berhubungan sehingga terjalin suatu cerita. Seperti dikemukakan oleh Rusyana (1978 : 67), yang dimaksud alur atau jalannya cerita adalah rangkaian cerita yang di bentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita.  Ada pun alur atau plot yang terdapat dalam naskah drama “Mak Comblang” yang mengususng alur maju penulis uraikan menjadi beberapa segmen sebagai berikut :
1.      Pengenalan Situasi Cerita
Cerita dimulai ketika Akhmad merasa kebingungan menentukan pilihan apakah ia harus menikah atau tidak.  Pada saat seperti  ini muncul sosok Karim yang menginginkan Akhmad untuk segera menikah.  Terjadi perdebatan antara Akhmad dan Karim.  Kemudian tokoh Ny. Eliya masuk ke dalam cerita dengan menawarkan kepada Akhmad untuk menikahi seorang gadis bernama Ambarita.
2.      Menuju Adanya Konflik
Pemunculan konflik dimulai saat ternyata Ny. Eliya mencarikan calon suami untuk Ambarita lebih dari satu orang.  Hal ini tentu membingungkan Ambarita untuk menentukan pilihannya.  Terlebih semua calon yang dibawa oleh Ny. Eliya memperebutkannya.
3.      Puncak Konflik
Persaingan antar tokoh yang menjadi kandidat untuk dipilih oleh Ambarita sebagai suami semakin memanas.  Bujukan-demi bujukan diterima oleh Ambar dan hal ini membuatnya sangat kebingungan menentukan pilihan.  Intrik demi intrik pun muncul untuk mendapatkan hati Ambarita.  Karim pun gencar sekali merayu Ambarita untuk memilih Akhmad.  Dengan segala intriknya Karim menyingkirkan kandidat-kandidat lain calon suami Ambarita untuk menjadikan Akhmad sebagai satu-satunya calon. 
4.      Penyelesaiann
Akhirnya Ambarita memilih akhmad sebagai calon suaminya.  Namun saat perhelatan pernikahan Ambarita dengan Akhmad akan dimulai, Akhmad malah melarikan diri dengan loncat keluar melalui jendela untuk menghindari pernikahan.

2.7  Gaya Bahasa
Menurut selamet dan simanjuntak (sekada, 1987 : 84), mengatakan bahwa gaya bahasa merupakan susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang tumbuh atau yang hidup dalam hati penulis, dan yang sengaja ataupun tidak sengaja menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca.
Peranan bahasa merupakan hal sangat penting dalam mengungkapkan isi hati, pikiran, dan perasaan seseorang khususnya pengarang. Pengungkapan hal tersebut akan lebih baik apabila penggunaan bahasa itu ditafsirkan dengan gaya bahasa, yang akan menimbulkan serta memberikan keindahan, kenikmatan, dan perasaan tertentu bagi pembaca.
Gaya bahasa yang ditampilkan dalam naskah drama “Mak Comblang” cukup ringan dan santai.  Namun susunan kata-kata dalam kalimat-kalimatnya menggunakan bahasa yang sering kali dibolak-balik sehingga menimbulkan sedikit kebosanan karena pembaca naskah mesti memahami dialog demi dialog pelan-pelan.

2.8  Amanat
            Amanat yang terkandung dalam naskah drama “Mak Comblang” antara lain :
1.      Belajarlah menentukan pilihan, karena keraguan menunjukkah ketidakdewasaaan.
2.      Berpikir logis dan singkirkan rasa egois.
3.      Kalah dan menang dalam persaingan itu biasa, yang luar biasa adalah apabila yang menang maupun yang kalah dapat menempatkan dirinya pada situasi yang adil.
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan analisis struktur naskah drama “Mak Comblang”, dapat ditarik kesimpulan berdasarkan masing-masing unsur yang membangun cerita dalam naskah drama yang diuraikan sebagai berikut :
1.      Tema
Tema yang diangkat ke dalam naskah ialah mengenai percintaan yang melibatkan unsur percomblangan.
2.      Dialog
Dialog menggunakan percakapan lansung antar tokoh secara bergantian.  Jika salah satu tokoh berbicara, maka tokoh yang lain mendengarkan.
3.      Peristiwa atau kejadian
Peristiwa tau kejadian yang dialami tokoh satu dengan tokoh yang lain dikaitkan sehingga membentuk sebuah cerita yang berkaitan.
4.      Latar atau seting
Untuk latar tempat digambarkan jelas oleh naskah meskipun tidak dijelaskan tata letak properti yang mendukung pada saat di panggung.  Latar waktu tidak dicantumkan oleh pengarang baik melalui teks samping maupun dalam dialog, terkecuali yang ada ada babak ketiga.  Sedangkan latar suasana lebih cenderung menggambarkan suasana kebingungan dan kebimbangan tokoh-tokohnya.
5.      Penokohan atau perwatakan
Perwatakan masing-masing tokoh cukup dijelaskan melalui dialog-dialog antar tokoh.
6.      Alur atau plot
Alur yang digunakan merupakan alur maju.
7.      Amanat
Amanat utamanya adalah “Belajarlah menentukan pilihan, karena keraguan menunjukkah ketidakdewasaaan.”



DAFTAR RUJUKAN

Aminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru.
Iwan (2012): http://iwan5f.blogspot.com. Kajian Drama Analisis Struktur Naskah. 10 Maret 2012.
Anonim (2008): http://sendratasik.wordpress.com. Pengertian Drama dan Teknik Penulisan Naskah Drama. 10 Maret 2012.