Selasa, 18 Oktober 2011

Aliran-Aliran Pendidikan


2.1 Macam Macam aliran dan Tokoh Tokoh yang Terlibat

  1. Aliran Empirisme

Empirisme berasal dari kata Empiris yang artinya pengalaman. Aliran ini di pelopori oleh John Locke, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. John Locke di lahirkan di wilayah dekat Brstol dari seorang Puretein ahli hokum.Teorinya di kenal dengan Tabula rasa (meja lilin) yang menyatakan bahwa jika seorang anak itu kertas putih yang dapat di tulisi menurut kehendak yang menulis.
Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya yang merupakan stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas atau pun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk pendidikan. Manusia dapat dididik menjadi apa saja (ke arah yang baik atau ke arah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dengan demikian pendidikan diyakini sebagai maha kuasa bagi pembentukan anak didik. Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman, sedangkan kemampuan dasar yang dibawa sejak lahir dihilangkan.
  1. Aliran Nativisme

Aliran ini di pelopori oleh Schopenhaeur, filosofi Jerman yang hidup pada tahun 1788-1880. Aliran Nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu di tentukan oleh faktor-faktor yang di bawa sejak lahir. Artinya bahwa, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Karena keyakinanya yang demikian itulah maka mereka di dalam pendidikan di sebut juga aliran Pesimisme Paedagogis.

  1. Aliran Naturalisme

Aliran ini di pelopori oleh J.J Rosseau,di lahirkan  pada tahun 1712 di Jenova, yang ayahnya seorang tukang jam. Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga naturalisme sering di sebut negativisme. Naturalisme memiliki prinsip tentang proses pembelajaran (M.Arifin dan Amiruddin R) bahwa anak didik belajar melalui pengalaman sendiri. Sekolah harus di sesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik.

D. Aliran Konvergensi (memusat ke satu titik)

Aliran ini di pelopori oleh Wiliam Stern, ia seorang tokoh pendidikan Jerman yang hidup di tahun 1871-1939.Aliran konvergensi merupakan kompromi atau kombinasi dari alian nativismmme dan empirismne. Wiliam Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan. Menurut teori konvergensi ada tiga prinsip yaitu:
1.      Pendidikan mungkin untuk di laksanakan
2.      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang di berikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik.
3.      Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.





E. Aliran Progresivisme

            Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, atau pun masalah-masalah yang mengancam dirinya. Tokoh aliran progresivisme adalah John Dewey.
            Aliran ini memandang bahwa peseta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Hal itu ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika disbanding dengan makhluk lain. Manusia memiliki sifat yang dinamis dan kreatif yang didukung oleh kecerdasannya sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah.

F. Aliran Konstruktivisme

            Aliran ini mengatakan bahwa pengetahuan mutlak diperoleh da  ri hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang, melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindra yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba dan perasa. Dengan demikian aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan seseorang kepada orang lain, dengan alasan pengetahuan bukan barang yang bisa dipindahkan, sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk mentransver ilmu maka perbuatan itu akan sia-sia. Sebaliknya, kondisi ini akan berbeda jika pembelajaran ditujukan untuk menggali pengalaman.
            Aliran ini dikembangkan oleh Jean Piaget.  Melalui teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungannya. Menurut Piaget, mengerti adalah proses adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga dapat terbentuk pengertian baru.


G. Aliran Rekonstruksionisme

            Aliran Rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran ini pada prinsipnya sepaham dengan aliran prenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Pandangan aliran ini ialah bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang teranggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran.
Proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar ummat manusia.
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count dan  Harold Rugg.

H. Aliran Esensialisme

Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.
            Tokoh-tokoh aliran esensialisme antara lain George Santayana dan George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831).

I.                   Aliran Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Tokoh-tokoh aliran ini antara lain:
1)      Plato. Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan.
2)      Aristoteles. Ia menganggap penting pembentukan kebiasaan pada tingkat  pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral.
3)      Thomas Aquinas. Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari  anak agar menjadi aktif dan nyata.

B. Dua “Aliran” Pokok Pendidikan di Indonesia

            Merupakan Perguruan Kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam. Aliran ini dipandang sebagai suatu tonggak pemikiran tentang pendidikan di Indonesia.

  1. Perguruan Kebangsaan Taman Siswa
Perguruan ini didirikan oleh Ki Hajar Dewantara (lahir 2 Mei 1889 dengan nama Suwardi Suryaningrat) pada tanggal 3 Juli 1932 di Yogyakarta, yakni dalam bentuk yayasan, selanjutnya mulai didirikan Taman Indria (Taman Kanak-Kanak) dan kursus guru, selanjutnya Taman Muda (SD), disusul Taman Dewasa merangkap Taman Guru (Mulo-Kweekschool).

Asas dan tujuan Taman Siswa (diumumkan 3 Juli 1922) :
1)      Setiap orang memiliki hak mengatur dirinya sendiri (zelfbeschikkingsrecht). Dari asas yang pertama ini jelas bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh taman siswa adalah kehidupan yang tertib dan damai (tata dan tentram, orde on vrede).
2)      Pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.
3)      Pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri. Dengan asas ini Taman Siswa ingin mencegah system pengajaran yang bersifat intelektualitas dan pola hidup yang “kebarat – baratan” yang dapat memisahkan orang – orang terpelajar dengan rakyat jelata pada umumnya.
4)      Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
5)      Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya lahir maupun batin hendaknya diusahakan dengan kekuatan sendiri dan menolak bantuan apa pun dan dari siapa pun yang mengikat, baik berupa ikatan lahir maupun ikatan batin.
6)      Sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dialakukan (zelfbegrotings-system). Dari asas ini tersirat keharusan untuk hidup sederhana dan hemat.
7)      Dalam mendidik anak-anak perlu adanya keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.

Lima Dasar Taman Siswa  (Ki Mangunsarkoro, 1952 dari wawasan kependidikan guru) antara lain :
1)      Asas Kemerdekaan
Diartikan disiplin pada diri sendiri oleh diri sendiri atas dasar nilai hidup yang tinggi, baik hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
2)      Asas Kodrat Alam
Berarti bahwa pada hakikatnya manusia itu sebagai makhluk adalah satu dengan kodrat alam ini.
3)      Asas Kebudayaan
Taman Siswa tidak berarti asal memelihara kebudayaan kebangsaaan itu ke arah kemajuan yang sesuai dengan kecerdasan zaman, kemajuan dunia, dan kepentingan hidup rakyat lahir dan batin tiap-tiap zaman dan keadaan
4)      Asas Kebangsaan
Taman Siswa tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan, malahan harus menjadi bentuk dan fiil kemanusiaan yang nyata dan oleh karena itu tidak mengandung arti permusuhan dengan bangsa lain, melainkan mengandung rasa satu dengan bangsa sendiri, rasa satu dalam suka dan duka, rasa satu dalam kehendak menuju kepada kebahagiaan hidup lahir dan batin seluruh bangsa.
5)      Asas Kemanusiaan
Bahwa dalam tiap-tiap manusia itu adalah mewujudkan kemanusiaan, yang berarti kemajuan manusia lahir dan batin yang setinggi-tingginya, dan juga bahwa kemajuan kemanusiaan  yang tinggi dapat dilihat pada kesucian hati orang dan adanya rasa kasih terhadap sesame manusia dan makhluk tuhan seluruhnya.


  1. Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam

Didirikan oleh Mohammad Sjafei (lahir di Matan, Kalbar tahun 1895) pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayu Tanam (Sumatera Barat). INS pada mulanya dipimpin oleh bapaknya, kemudian diambil alih oleh Mohammad Sjafei. Dimulai dengan 75 orang murid, dibagi dalam dua kelas, serta masuk sekolah bergantian karena gurunya hanya satu, yakni Mohammad Sjafei sendiri. Sekolah ini mengalami pasang surut sesuai dengan keadaan Indonesia saat itu, bahkan pada bulan Desember 1948 sewaktu Belanda menyerang ke Kayu Tanam, seluruh gedung INS dibumihanguskan, termasuk ruang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan (RPPK) di Padang Panjang.

                        Asas dan Tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam :
                        1) Berfikir logis dan rasional
                        2) Keaktifan atau kegiatan
                        3) Pendidikan masyarakat
                        4) Memperhatikan pembawaan anak
                        5) Menentang intelektualisme (daya pikir berdasarkan ilmu)

                        Tujuan INS :
1)      Mendidik rakyat kea rah kemerdekaan
2)      Memberi pendidikan yang sesusai dengan kebutuhan masyarakat
3)      Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat
4)      Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani   bertanggungjawab
 5) Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan

Sinopsis Novel 'Aku', Lelaki Asing dan Kota Kairo (karya Aguk Irawan MN)


Novel ini bercerita tentang seorang gadis cantik dan solehah yang kemudian dipinang oleh lelaki tampan dan juga sholeh. Mereka mengenyam pendidikan  di fakultas yang sama. Sang wanita bernama Ningrum, dan yang lelaki bernama Ahmad Syamsudin. Ahmad Syamsudin adalah alumnus terbaik dengan IP tertinggi sehingga tak salah jika ia menjadi lelaki favorit di fakultas. Rasa saling mencintai akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan.
                Pernikahan baru berjalan tiga bulan. Ahmad Syamsudin yang kemudian dipanggil ‘Mas Syam’ oleh sang istri mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Kairo, Mesir. Akhirnya, meski dengan berat hati Ningrum melepas kepergian orang yang paling dicintainya itu. Syam menjanjikan untuk menyelesaikan kuliahnya tidak lebih dari tiga tahun. Selama berpisah, mereka hanya berkomunikasi melalui telepon, atau e-mail.  Syam sering kali menelepon atau mengirimi   e-mail untuk mengungkapkan kerinduan yang mendalam kepada istrinya. Begitu pula dengan Ningrum, kerinduannnya pada suaminya tak kunjung padam. Semakin hari kerinduan yang dirasanya itu semakin menyiksa batinnya.
                Setahun berlalu, mulailah muncul kejanggalan di hati Ningrum. Syam mulai jarang menelepon atau mungkin sekedar mengirim e-mail. Puncaknya ialah saat Syam melupakan hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Padahal Ningrum begitu mengharapkan kata-kata romantis yang biasa diungkapkan suami tercintanya itu. Syam berdalih bahwa dirinya disibukkan oleh jadwal kuliah yang padat dan Ningrum pun mempercayainya sebagai bukti cintanya.
                Ketika Syam menelepon, ia banyak bercerita tentang seorang gadis yang menurutnya sangat mirip dengan Ningrum. Bahkan cerita itu sering diulang-ulang setiap kali ia menelepon. Tak ayal Ningrum pun dilanda kecemburuan yang luar biasa, terutama saat Syam mengatakan bahwa dirinya mengagumi gadis itu meski ia hanya menganggapnya sebagai teman. Lebih-lebih ketika ibunya bercerita bahwa ternyata ayahnya mempunyai tiga istri simpanan di kota-kota yang berbeda. Belum lagi kakak laki-lakinya yang bercerita bahwa dirinya menduakan kekasihnya. Terang saja hal ini membuat Ningrum semakin was-was. Ia takut kalau ternyata semua laki-laki itu sama. Namun ia tetap yakin suaminya tidak akan begitu.
                Sampai suatu ketika ia mendapat telepon dari Kairo. Tapi kali ini bukan dari Syam melainkan dari utusan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) yang mengatakan bahwa sang suami telah tewas dalam kecelakaan kapal laut saat sedang mengikuti liburan. Hati Ningrum hancur berkeping-keping. Ia segera menyusul Syam  ke Kairo untuk melihat jenazahnya untuk yang terakhir kalinya. Namun, disaat ia berada di penginapan tempat Syam tinggal, ia mendapatkan sepucuk surat bersampul merah jambu yang dibuat oleh Syam yang ditujukan kepada teman wanitanya yang sering diceritakannya. Di surat itu Syam sangat memuja wanita yang bernama Laila.
                Suatu saat, secara tidak sengaja Ningrum bertemu dengan Laila. Ia mengatakan bahwa  Syam adalah suaminya. Ia juga memperlihatkan surat nikah mereka kepada Laila. Namun betapa terkejutnya ia setelah mendengar penjelasan dari Laila bahwa  Syam ternyata juga adalah suami Laila dan mengaku belum beristri sebelum menikahinya. Syam juga mengatakan bahwa dia mempunyai seorang adik perempuan yang sangat mirip wajahnya dengan Laila. Ningrum tak menyangka jika suaminya tak sebaik yang dia kira. padahal setiap saat suaminya berpesan kepadanya agar “selalu menjaga cinta dan kesetiaan”, namun suaminya sendiri yang akhirnya melanggar janji tersebut.
                Novel ini berkisah tentang kehidupan seorang perempuan yang penuh penantian. Nyaris seluruh halaman dalam novel ini berupa kisah penantian sang istri yang ditinggal suami. Sayangnya penantian panjang yang memakan berhalaman-halaman novel ini akhirnya membuat kita  kecewa pada akhir cerita. Bukan karena ceritanya jelek atau  pengarangnya yang ngawur. Tapi karena pada akhir cerita ternyata laki-laki yang dipuja oleh si tokoh utama  mengingkari kesetiaannya.

Memahami Puisi "Ada yang Mengiris Luka" Karya Eko Suryadi WS


ADA YANG MENGIRIS LUKA
kepada AM

Karya : Eko Suryadi WS

ada yang mengiris luka malam ini
karena buih yang menyimpan dendam
telah terkapar mati
air yang tersumbat tiba-tiba mengalir

yang mengiris luka malam ini
adalah kamu
dalam diam yang apa pun maknanya

mendekap doaku yang tercecer
batu hitam mendelik tertawakan
langit biru ungu tergelincir di ujung bukit
lelaki muda mengalungkan asap di leher

sementara tidur telah bangkit di cakrawala
matahari esok masi akan berjalan di atas garisnya sendiri
kau lihat; ladang bulan mengulum batu nisan kepunyaanku
karena malam ini segalanya telah kupesan

malam ini telah merambat sandaran jarum jam bisu
dalam mimpi memagut segala kesempatan
pintaku;
beri aku bunga kecil
sesaat nanti aku terbujur kaku
dingin menatap daun-daun kering

Memahami isi puisi :

1. Judul
            Pengarang memberikan judul "Ada yang Mengiris Luka". Kata 'Luka' di sini dapat diartikan sebagai sebuah kesedihan atau rasa sakit hati. Kemudian di awal kalimat judul ditulis 'Ada yang' sebagai subjek aktif, dalam hal ini yang melakukan (mengiris luka). Di sini pengarang memberikan judul yang merangkum isi dari puisi yang ditulisnya, yakni menceritakan ada seseorang atau orang lain yang mengiris (menyakiti) si pengarang yang sebelumnya sudah terluka (tersakiti).
Setelah judul, pengarang menuliskan "Kepada AM". Ini dapat diartikan bahwa pengarang menuliskan puisi yang ditujukan kepada seseorang yang ia beri inisial "AM". Entah apakah orang yang berinisial "AM" ini lah yang telah menyakiti si pengarang sehingga pengarang menjadikannya sebagai subjek dalam puisinya untuk menyindir, atau pengarang sekadar menulis puisi sebagai persembahan untuk si "AM".

2. Bait Pertama
²  ada yang mengiris luka malam ini
ada yang mengiris (sebuah) luka (pada) malam (hari) ini
Pada malam hari ini ada seseorang yang mengiris luka. Maksudnya ada seseorang yang menyakiti hati pengarang yang sebelumnya sudah sakit.
²   karena buih yang menyimpan dendam
telah terkapar mati
karena buih yang menyimpan dendam
Pengarang menyimpan dendam seperti banyaknya buih.
(namun) telah terkapar mati
Meskipun ia menyimpan dendam, namun dendam itu telah pupus atau tidak bisa lagi ia kobarkan karena hati yang sebelumnya sakit, kembali disakiti sehingga seolah-olah mati.
²  air yang tersumbat tiba-tiba mengalir
Air mata yang tersumbat (jarang menangis) tiba-tiba mengalir karena sedih.

3. Bait kedua
²  yang mengiris luka malam ini
adalah kamu
yang mengiris luka (pada) malam (hari) ini
adalah kamu
Pengarang menunjuk pada 'kamu' sebagai orang yang menyakitinya pada malam ini.
²  dalam diam yang apa pun maknanya
'Kamu' yang menyakiti hati dengan diam, yang sebenarnya 'aku' atau pengarang tidak mengerti makna apa yang sebenarnya ada dibalik diam itu.

4. Bait ketiga
²  mendekap doaku yang tercecer
(aku hanya bisa) mendekap doaku yang tercecer
'Aku' atau si pengarang hanya bisa banyak berdoa seolah-olah doanya berceceran.
²  batu hitam mendelik tertawakan
(biar pun) batu hitam mendelik (men)tertawakan (aku)
Tidak peduli meski pun batu hitam (perumpamaan apa pun yang dianggap tidak penting) mendelik dan mentertawakan kesedihan si pengarang.
²  langit biru ungu tergelincir di ujung bukit
(dan) langit (yang berwarna) biru dan ungu tergelincir di ujung bukit
Langit yang berwarna biru dan ungu berubah jadi jingga (senja) dapat diartikan usia yang sudah mulai tua.
²  lelaki muda mengalungkan asap di leher
(juga biar pun aku nampak seperti) lelaki muda yang mengalungkan asap di leher(nya)
Pengarang seperti lelaki muda yang mengalungkan asap (dilihat seperti mengeluarkan aura kesedihan) di lehernya (pada penampilannya)

5. Bait keempat
²  sementara tidur telah bangkit di cakrawala
Sudah cukup kesedihan yang dialami pengarang. Maka ia bangkit dari tidur (dari kediamannya akan rasa sakit dan sedih yang dirasa) di cakrawala (di perbatasan keinginan hatinya antara ingin tetap meratapi kesedihan atau memilih bangkit).
²  matahari esok masih akan berjalan di atas garisnya sendiri
Pengarang menyadari bahwa waktu pasti akan terus berjalan konstan tanpa bisa berhenti.
²  kau lihat; ladang bulan mengulum batu nisan kepunyaanku
Pengarang menunjukkan kepada 'kau' bahwa 'ladang bulan' yang berarti cahaya yang terang benderang (melambangkan harapan yang terbuka lebar) 'mengulum batu nisan kepunyaannku' (harapan yang memberikan semangat pada hati si pengarang yang seolah mati).
²  karena malam ini segalanya telah kupesan
Pada malam dimana si pengarang disakiti atau terluka hatinya, ia tetap mencari segala cara untuk mengobati rasa sakit hatinya.

6. Bait kelima
²  malam ini telah merambat sandaran jarum jam usia
(tapi pada) malam ini telah merambat sandaran jarum jam (yang membatasi) usia
Usia si pengarang yang sudah beranjak tua dan merasa bahwa usianya sudah tidak akan lama lagi.
²  dalam mimpi memagut segala kesempatan
dalam mimpi (yang) memagut segala kesempatan
Usianya pengarang yang mungkin hanya bisa digunakan untuk berangan-angan tanpa bisa memperoleh kesempatan untuk bangkit dari kesedihan.
²  pintaku
Pengarang meminta
²  beri aku bunga kecil
Pengarang meminta untuk diberi 'bunga kecil' yaitu kenang-kenangan atau sebuah penghargaan kecil setidaknya untuk menghibur dirinya yang telah berusaha menghapus kesedihannya.
²  sesaat nanti aku terbujur kaku
(apabila) sesaat nanti aku terbujur kaku
Apabila suatu saat nanti 'aku' atau si pengarang meninggal dunia
²  dingin menatap daun-daun kering
Pengarang merasa 'dingin' (sendirian juga kesepian) dan hanya bisa menatap daun-daun kering (tak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa meratapi harapan-harapan yang tidak bisa tercapai)


Rangkuman pemahaman isi puisi :
Si 'aku' atau pengarang merasa bahwa hatinya yang sudah terluka atau sedih disakiti oleh 'kau' atau orang lain. Pengarang menyimpan dendam di dalam hatinya, namun dendamnya itu hanya bisa disimpan dalam hati dikarenakan hatinya terlalu sakit dan seolah mati dalam kesedihan. Ia pun menangis.
Pengarang hanya bisa berdoa meski pun banyak yang mentertawakannya dan meski pun usianya sudah beranjak tua. Ia menyadari bahwa waktu akan terus berjalan. Maka ia mulai membuat harapan-harapan untuk bisa keluar dari kesedihannya. Namun di sisi lain ia juga merasa bahwa harapan-harapannya itu tidak bisa tercapai karena ia berada di batas usia. Ia takut kalau-kalau harapannya tidak kesampaian karena ia meninggal dunia (mati). Tapi di sini pengarang meminta kenang-kenangan kecil sebagai penghargaan kepada dirinya yang meski pun berada dalam kesedihan namun tetap memiliki harapan.

Komentar :
Puisi "Ada yang Mengiris Luka" ini menggunakan kata dan kalimat yang tidak begitu sulit dipahami meski pun ada beberapa di antaranya yang ambigu atau mempunyai makna ganda atau lebih. Ide yang disampaikan pengarang ini adalah mengenai perjuangannya bangkit dari kesedihan meski pun pada akhirnya ia tidak bisa keluar dari kesedihan itu.
Bahasa yang dipakai pengarang pun cukup indah. Dari awal judul saja sudah menarik pembaca untuk membaca dan mengikuti alur cerita dalam puisinya. Ketika pembaca menyelesaikan membaca, maka suasana kesedihan akan terbawa.
Gabungan kata dalam puisi ini pun menarik sehingga menimbulkan kesan yang indah. Misalnya seperti 'mengiris luka', 'doaku yang tercecer', 'mengalungkan asap', dan lain sebagainya.
Meski pun puisi ini berbicara tentang luka bahkan kematian, namun pada akhir puisi pengarang menyampainkannya dengan perasaan lega. Kalau si pengarang menyebutkan tentang kematian, maka di sini kematian itu bukanlah sesuatu serba mengerikan. Tapi kematian sebagai bagian dari kesadaran hidup. Bahwa hidup tak akan berwarna tanpa adanya harapan. Sesakit apa pun hidup, kita harus selalu memiliki harapan sebagai penyemangat. Masalah harapan itu tercapai atau tidak, itu adalah urusan Tuhan.